Rabu, 23 Juli 2014

DTSD KN II

Sepuluh hari mengikuti DTU,, kami para KN'ers lanjut mengikuti DTSD. Kali ini berbeda jauh dengan DTU, DTSD 100% kegiatan ada di kelas. Seperti kuliah biasanya, jadwal dimulai jam 8 pagi dan selesai jam 5 sore (kadang lebih malah.. sering nya sie :D). Ada keuntungan tersendiri buat aku selama DTSD ini, tempat kuliah yang diadakan di kampus STAN bikin aku bisa pulang pergi tiap hari tanpa harus menginap di asrama. Maklum.. waktu itu aku lagi mabok - mabok nya, mbayangin asrama atau ngeliat pintu asrama itu bawaannya udah pengen muntah. Walhasil selama tiga minggu lebih, my roomamate, Zulfa, ga ada temennya, (maafin aku ya Zulfaaaa :( ).

Jadwal diklat kali ini padat loh kawan - kawan, hampir setiap hari kami pasti ujian. Jadi, misal hari ini kami dapet materi tentang BMN, maka besok pagi sebelum memulai materi baru, kami ujian BMN dulu,, dan seterusnya. Jumlah materi yang disampaikan buanyaakk banget dan keseluruhannya adalah mengenai tugas dan fungsi DJKN. Mulai dari :

  1. Pengelolaan BMN. Ini aku suka bangettt.., modul nya tebel berat seberat barbel nya Agung Hercules, tapi enaknya tuh semua materi nya bisa dinalar jadi modul setebel itu ga untuk dihapal tapi dinalar. 
  2. Ada lagi materi Penilaian, ini adalah favorit nomer dua, modulnya tipis tapi pengembangan dari pengajarnya luas. Karena pengajarnya juga sudah super kompeten di bidang ini, jadi enak banget cara ngajarnya. Lebih ke prateknya di lapangan timbang teori - teori yang ga jelas heheee. 
  3. Sistem Informasi,, ini aku suka karena di dalamnya membahas mengenai alur kerja SIMAK BMN, dan aplikasi - aplikasi lain yang digunakan oleh DJKN.
  4. Pengurusan Piutang Negara, Kekayaan Negara Lain - Lain, Kekayaan Negara Dipisahkan, SIMAK BMN, Manajemen aset, Lelang dan lain - lain.
Semua tugas dan fungsi DJKN disampaikan secara gamblang pada diklat ini. Jadi otomatis selepas dari diklat ini, diharapkan kami para KN'ers sudah tahu apa yang kira - kira menjadi pekerjaan di DJKN nantinya. 




Tantangan terberat dari diklat ini kalo menurut aku ya ada pada tingkat kepadatan ujiannya hahaaaa.. tiada hari tanpa ujian, yang memaksa kami -aku maksutnya :P- buat serius belajar. Alhamdulillah.. ga sia - sia perjuangan temen - temen selama tiga minggu ini, kami lulus..-aku peringkat 2 di kelas,, ayyeeee- walau ada tiga rekan yang harus mengulang ujian DTSD, itu bukan masalah kalo menurut ku. Toh hanya mengulang ujian, dan aku yakin pasti itu akan bisa mereka lewati dengan baik. Selepas ini.. masih ada satu tantangan lagi yang harus kami lewati... apa itu?!? dialah sang diklat yang mempengaruhi pengangkatan kami sebagai PNS, diklat PRAJABATAN...

Rabu, 16 Juli 2014

masih tentang DeTeU

Cerita ini masih membahas tentang DTU. Sepuluh hari yang kami lewati bersama - sama. Sepuluh hari dimana Allah beri aku kesempatan untuk mengenal teman - teman se-angkatan. Ga nyangka aja aku jadi kenal sama yang namanya Bang Sam, kalo liat dari perawakannya ni, dia cocoknya masuk TNI bukan masuk Kemenkeu hehee.. tinggi besar dan terkesan serem -i'm sorry Bang Sem :D-, tapi siapa sangka dibalik ke"serem"annya itu, ternyata orangnya kocak abis. Dan satu momen yang membekas bareng dia adalah ketika aku menciptakan image "tori -tori" buat dia. O..ooww sekali. Maapin ya Bang, jadi menciptakan image baru deh buat kamu :D.

Lalu cerita tentang teman sekamar aku. Namanya Chairunnisa. Namanya bagus, sebagus dan sebaik orangnya. Awalnya sama seperti Bang Sem, aku ga kenal siapa dia -Pokoknya yang aku kenal cuma anak - anak sekretariat ajah,, yang lain cuma tau nama :D-. Nisa -waktu itu aku masih manggil dia "Nisa"- itu orangnya perhatian banget ke orang lain. Aku suka banget tipe orang kaya dia. Simpel, sederhana, ga banyak omong, ga suka show off, tapi langsung take action. Mantap banget ni orang satu pokoknya. Sabaaaaaar banget ngadepin aku yang waktu itu lagi masa - masa nya emesis. Tiap pagi dia harus ikhlas disuguhi menu lagu "hoek - hoek" ku. Sabar banget  waktu dateng jam makan, ngambilin makanan buat aku, sampe - sampe bikin gosip kalo aku itu harus makan satu meja sama si Cliff biar ga muntah. Oh my God, kalo yang ini lebay banget emang... 

Ni cewek tuh entah apa namanya ya, dia tuh manis cantik, selalu hair dryer-an dan catokan, tapi kalo udah jalan kok ya jadi macho gitu. Bahkan temen - temen cowok bilang kalo si Nisa lebih macho dibandingkan satpam di KNPK hahahaha.. Banyak yang aku pelajari dari dia, sampai saat ini, orangnya tetep baik, tetep care,, tetep simpel. Thank's ya chaaaa -panggilang kesayangan sekarang adalah Icha hahaaa- makasih buat semua yang udah kamu kasih buat aku,, maaph - maaph kalo sering banget ngerepotin kamu kemarin ;)

Masih banyak lagi cerita - cerita lain yang aku alami disini bareng temen - temen, walau ga bisa nyebutin satu - satu nama dan kebaikan mereka, bukan berarti mereka tidak spesial. ke-tujuh puluh satu- teman teman KN'ers semuanya spesial. Mereka tangguh, mereka kompak, mereka ga menye - menye, mereka patut dibanggakan, dan yang jelas mereka ga kalah dengan teman - teman Ditjen lain.

Special thank's pastinya kami para KN'ers tujukan kepada para pelatih dari Yonarhanudse TNI AD, Pak Bayu, Pak Bedrik dan Pak Supri. Berkat didikan dan nasehat yang ga pernah lelah mereka berikan, akhirnya kami yang semula tidak saling mengenal bisa menjadi begitu akrab. Kami jadi mengerti tentang kebersamaan, bahwa apa yang dikerjakan oleh satu orang bisa berdampak pada teman yang lain. Terimakasih banget pokoknya pak sudah mengajarkan kami arti l(r)oyal, mengajarkan kami lagu - lagu penyemangat, ngajarin kami untuk ga elek - elekan dan yang jelas mengajarkan kami gerakan "Sikap pokok" :)


DTU dan Jiwa Korsa nya

Ada banyak cerita yang bisa dibagi disini tentang pengalaman mengikuti DTU dan DTSD. Memang buat aku, diklat ini salah satu hal yang aku tunggu - tunggu saat itu, maklum.. sebagai seorang pegawai baru yang ga ngerti apa - apa tentang DJKN, aku seperti haus, haus akan ilmu akan pengetahuan mengenai institusi yang aku masukin saat ini. DTU dan DTSD ini adalah gerbang ilmu dan pengetahuan itu.

Awal april kami ber-72 mulai mengikuti rangkaian acara diklat ini. Diklat diadakan di Pusdiklat KNPK (Kekayaan Negara dan Perimbangan Keuangan) yang letaknya ada di lingkup kampus STAN Bintaro, itu artinya sangat duekeeeeeet dengan tempat tinggal ku. Akomodasi semua ditanggung penyelenggara, mulai dari asrama, makan, seragam outbond, sampai laundry, semua siap! kecuali satu.. apa itu?!? SPPD!! ya! untuk angkatan kami tidak diberi SPPD. Hahaaa.. tapi ya ga masalah juga, soalnya khan emang bukan itu tujuan kita mengikuti diklat ini, ya khan?! ;). Nahh dengan deketnya jarak antara asrama dengan rumah, aku yang dari awal emang ga bisa jauh dari suami -halahh- udah berniat untuk ga nginep di asrama. Namun apa daya, peraturan tetaplah peraturan. Sepuluh hari pertama, tidak diijinkan kepada para peserta diklat untuk menginap di luar asrama. Otomatis, selama sepuluh hari itu aku ga bisa ketemu-an sama suami hiksss.. Tapi emang masuk di akal si peraturan itu, bayangin aja.. jadwal acara kami adalah dari jam 5 pagi sampai jam 10 malam non stop! Semua terjadwal, semua dengan waktu, semua dengan hitungan. Ya! dalam sepuluh hari pertama kami memang dibina dan ditempa untuk menjadi pegawai sejati -lirik lagu diklat ini mah-.

DTU, diklat yang lebih mengandalkan fisik. Kegiatan 70% di lapangan, dari pagi sampai malam, bisa ditebak sendiri lah bagaimana keadaan wajah kami selepas sepuluh hari tersebut. Yaph!! menghitam eksotis gimanaaaaaaaa gitu. Beruntung, beberapa hari sebelum berangkat diklat, Allah beri aku dan suami anugrah indah berupa janin di dalam kandungan ku. Waktu itu umurnya masih sangat kecil yaitu kisaran 5 minggu. Lagi masa - masa kritis katanya. Nahhh karena keadaan ku yang sedang "tekdung" itu lah maka ada dispensasi khusus buat ku. Aku diberi keringanan dalam kegiatan fisik. Saat teman - teman berdiri, aku boleh duduk, saat teman - teman push up, aku duduk, teman - teman sit up, aku juga duduk -duduk terus deh kayanya (_ _#)- Kata - kata sakti yang selalu keluar dari pelatih adalah "yang sakit dan ibu hamil.. silakan keluar barisan". Sebetulnya ga enak juga sama temen - temen, aku duduk cengo' sendirian dibelakang ngeliatin mereka push up, sit up dll. kasihan.. ga tega.. tapi ternyata itu semua dilakukan bukan karena hukuman atau pelatih mau ngerjain kita, tapi memang kita dididik supaya sehat jasmani, sehat mental juga. Dan yang lebih penting lagi adalah.. selepas DTU kita jadi mengerti yang namanya jiwa korsa, kita mengerti yang namanya kebersamaan, saling mengerti keadaan kawan, ga cuek, ga acuh tak acuh, atau bahasa kerennya adalah kita jadi lebih care dengan sekitar. to be continued..

dari diklat ke diklat

Akhirnya,, setelah beberapa waktu lamanya, bisa posting lagi di tempat curhat-an ini. Memang sejak awal bulan april sampai dengan awal Juli kemarin, aku dan teman - teman disibukkan dengan yang namanya "Pendidikan dan Pelatihan" atau biasa disingkat "Diklat". 

Khusus untuk kami pada DJKN'ers, diklat kami mulai dengan DTU (Diklat Teknis Umum) kira - kira 10 hari-an dan dilatih oleh bapak - bapak dari Tim Yonarhanudse TNI AD. Dilanjutkan dengan DTSD (Diklat Teknis Substantif Dasar) KN II kira - kira jangka waktu nya adalah 3 minggu, dan bisa dibilang setiap hari nya tidak pernah kami lalui tanpa yang namanya ujian. Sepulang dari DTSD, kami dikejutkan dengan pemanggilan diklat prajabatan. Kalo ga salah kami dapet surat di hari Kamis, dan hari Minggu kami sudah harus ada di lokasi untuk mengikuti rangkaian acara diklat yang diadakan selama 24 hari. 

Yaph,, jadii.. fix banget dari mulai usia dedek dalam kandungan ku itu 5 minggu sampai dengan usia nya 20 minggu, si dedek diajakin diklat sama bunda nya. Hmmmmm lahir - lahir sudah jadi PNS golongan III kamu nak hihihihi..

Untuk bagaimana pengalamanku selama diklat - diklat itu berlangsung, baiklaaah.. aku bakalan curhat per-posting untuk per-diklat. Check it out ;)

Selasa, 27 Mei 2014

it's called Hidayah

Sebelumnya aku mau ngucapin "Barakallah" untuk teman se-ruangan ku yang mulai hari senin kemarin menggunakan jilbab. Alhamdulillah,, semoga Allah senantiasa memberi ke-istiqomahan dalam berjilbab, makin berkah hidupnya. Aamiin.

Ngemeng - ngemeng tentang pengalaman pertama kali berjilbab, aku memang selalu penasaran dengan "apa" yang menjadi alasan seseorang untuk ber"hijrah". Kalo temen ku ini, dia memang sudah terbiasa saat pergi bersama mama dan neneknya selalu menggunakan jilbab, tapi memang belum konsisten, sampai dengan hari senin kemarin, akhirnya dia putuskan untuk konsisten dalam berjilbab. Alhamdulillah..

Tiap orang memang memiliki alasan masing - masing dalam berjilbab,, ada yang karena paksaan orang tua, ada yang karena dari sekolah nya yang mewajibkan setiap siswa putri untuk berjilbab, ada juga yang karena "sindiran" dari teman SMP nya hahahahaha. Kali ini ijinkan aku bercerita yaa tentang pengalaman pertama berjilbab ku -ihhikkk-.

Awal pertama mengenakan jilbab adalah ketika aku duduk di kelas 1 SMA semester 2. Itu terjadi kira - kira tahun 2003 yang lalu -ketahuan banget yeeeyyy berapa umur eike sekarang (_ _#)-. Seperti biasa, setiap hari Jum'at disaat para siswa laki - laki melaksanakan sholat Jum'at, maka siswa putri dengan dikoordinir oleh Rohis mengadakan acara keputrian. Semacam holaqoh yang wajib diikuti oleh seluru siswi kelas 1. Saat itu yang bertugas menyajikan materi tausiyah adalah dari kelas 1 NA 2 dan si pemateri membawakan materi dengan judul "Jilbab". Disepanjang acara keputrian itu entah kenapa aku ga bisa berenti nangis ketika temenku itu membawakan materinya. Aku nangis sampai sesenggukan yang aku sendiri ga tau apa sebabnya, yang jelas didalam hati aku merasa bahwa, aku rindu, rinduuuuuuuuuuuuuuuuuuuu sekali untuk bisa mengenakan jilbab. Perasaan aneh yang entah datangnya darimana, seolah - olah ada yang menusukkk tajam di hati setiap kali aku mendengar kata "jilbab". Aku terus menangis tanpa mempedulikan seisi ruangan. Aku sampai tidak tahu, apakah seisi ruangan itu memperhatikan ku atau tidak. Aku merasa sendiri, menikmati tangisan ku, menikmati rasa rindu yang ada dalam hati ku. Apakah itu hidayah? entahlah aku juga ga paham. Percaya atau tidak, aku menangis tersedu padahal aku sendiri ga ngerti apa isi materi yang dibawakan saat itu. Yang jelas, yang aku rasakan adalah "Aku ingin berjilbab. Saat itu juga. Sesegera mungkin. Titik!!".

Sepulang dari acara keputrian, aku curhat pada seorang kakak kelas yang kini sudah kembali menghadap Allah (Semoga Allah mengampuni segala dosanya, menerima segala amal ibadahnya dan ditempatkan di tempat yang terbaik disisi-Nya. Aamiin). Aku cerita bahwa aku ingin berjilbab. Tapi aku ga punya baju seragam, secara saat itu baju seragam ku sudah dibuat lengan pendek semua -lha gimana engga' baru juga satu semester dipake-. Ga ada niat apa - apa, cuma pengen curhat aja saat itu. Keesokan hari nya, aku diajak ke kos-an dia, di kamar nya sudah di jereng dua pasang seragam OSIS, satu seragam pramuka dan satu seragam olahraga. Semua nya adalah seragam lengan panjang. Subhanallah,, Walhamdulillah.. aku ga nyangka, segitu perhatiannya dia sama aku, sampai - sampai dia cari orang yang mau menyumbangkan baju seragamnya buat aku (Terimakasih ya mba,, terimakasih juga yang sudah menyumbangkan seragam nya buat aku). Memang saat itu aku belum bilang sama ortu bahwa aku niat berjilbab, masalahnya aku tau kondisi orang tua ku yang baru aja menghabiskan banyak dana untuk membiayai sekolah ku plus membuatkan seragam buat aku, lahh baru satu semester aku pake masa aku udah minta ganti seragam lagi?!? Tapi Allah menolongku perantaraan kakak kelas ku itu, aku makin yakin dengan istilah "Man Jadda wa jada", aku juga yakin kalau kita bertindak sesuatu ikhlas untuk mendapat ridlo Allah, apalagi ini melaksanakan kewajiban yang jelas - jelas diperintah oleh Allah, pastiiii akan Allah tolong. Dan setelah mendapat seragam itu, barulah aku berani menyampaikan ke ortu tentang niat untuk berjilbab.

Itu adalah sekelumit kisah awal mula aku berjilbab. Dan Alhamdulillah.. sampai dengan detik ini Allah masih menjaga ku, mengistiqomahkan ku untuk tetap berjilbab. InsyaAllah hingga akhir hayat ku. Aamiin.. Mulai saat itu, sedikit demi sedikit aku perbaiki cara ku berjilbab, menyederhanakan dalam berjilbab, menjulurkan sampai menutupi dada, mulai meninggalkan dunia per"celana"an dan lain - lain. Masih dalam tahap belajar memperbaiki diri memang dan semoga Allah beri kemudahan dan keistiqomahan selalu, aamiin. 

Point penting dari semua cerita ini adalah bagaimana hidayah itu datang. Hidayah itu tidak serta merta datang, hidayah itu sama seperti sebuah cita - cita, patut dijemput, patut diusahakan. Allah akan memberi hidayah pada siapa yang Ia kehendaki dan yang menghendaki hidayah tersebut. Jilbab untukku tidak hanya sekedar kewajiban tapi dia sudah menjadi identitas. Identitas seorang Ambar, identitas seorang muslimah. Perbaikan dalam penampilan itu tidak akan ada artinya, tanpa ada perbaikan dari dalam diri orang itu sendiri, maka semoga Allah memudahkan dan membimbing aku -dan kalian- selalu, untuk dapat terus menerus berproses menjadi muslimah yang baik, yang taat. Aamiin ya Allah :)

Senin, 31 Maret 2014

Eksis Abis!

Mulai dari friendster dulu, facebook, twitter, google circle, blogger, wordpress, instagram, sekarang mulai merambah path, terus yang ga disengaja antaralain slideshare, printerest, hi5 dan lain lain. Hadeeeehhhh mungkin anda - anda sekalian bisa searching akun yang bernama Ambar Fitri atau pheezank. Bisa dipastikan akun tersebutn ada disemua sosmed - sosmed itu. Sekali lagi hadeeeeehhh!!! kurang eksis apalagi aku ya Allah, padahal tidak semua sosmed itu aku aktif didalamnya. Ada yang karena iseng bikin, ada yang ga sengaja ke klik, dan ada yang karena ikut - ikutan. Tapi yang membuat aku merasa lebih aneh adalah.. kok ya tetep ada yang ng-Follow ahehehehehe,, padahal bisa jadi aku sendiri udah lupa username dan password sosmed tersebut hihi.

Mungkin ini ga cuma terjadi padaku saja, beberapa atau bahkan mayoritas orang pasti memiliki akun sosmed lebih dari satu, dua, tiga atau bahkan empat akun haha. Terlepas dari semua akun itu aktif atau tidak, keberadaan akun akun sosmed ini mungkin bisa menjadi tanda "aktualisasi diri" seseorang. Sayangnya, mereka yang aktif didunia maya, belum tentu aktif di dunia nyata. Termasuk saya! hahahaha.. apapun itu, hak semua orang untuk eksis di dunia maya, mengaktualisasikan diri mereka dengan cara yang mereka anggap benar. 

Aku jadi berfikir, kenapa disetiap sosmed itu aku bikin tema aja ya, misal nih Path, aku gunakan untuk share picture-picture yang apik - apik, twitter aku pakai untuk men-tweet pokok pokok cerita yang nantinya aku jabarkan di blog. Lalu facebook? hmmmmm.. facebook aku pakai buat men-stalking orang aja kali ya hahahahaha. Ya ya ya.. mungkin harusnya seperti itu. Tiap akun punya ke-khas-an tersendiri. Sehingga tiap orang yang melihat akun kita, bisa menemukan hal yang berbeda - beda ditiap akun sosmed kita. Tapi sekali lagi itu hanya angan - angan saja, toh aku juga kalo lagi pengen aja buka - buka akun akun tersebut. Kalo udah bosen yaaa... paling cuma sign in --> liat liat--> sign out :D. Ga bisa konsisten! Padahal, kalo aku boleh berharap, aku berharap tiap akun yang aku buat, tiap status atau picture yang aku posting bisa bermanfaat untuk orang lain. Bukan sebaliknya, membawa mudhorot -naudzubillahimindzaliiik-. Semoga saja ya teman.. semoga sajaaaaa ;)

Rabu, 26 Maret 2014

Ah!! Saudara ternyata #2

Kira - kira pukul satu siang, kami sampai di gedung SEAMEO Biotrop. Disana sedang berlangsung acara pernikahan sepupu dari suami ku. Di undangan tertulis acara mulai pukul 11 sampai dengan pukul 1 siang. Dan oke! kami sampai di gerbang gedung pukul satu siang kurang sedikit. Itu artinya kami harus merelakan jatah makan siang kami melayang -salah fokus!! ini salah fokus!!-. Beruntung, sampai sana, masih banyak tamu yang berdatangan. Sang pengantin beserta para orang tuanya pun masih lengkap di pelaminan. Kami masuk ke ruang pertemuan, dan dari atas pelaminan, Bude sudah melambai - lambaikan tangannya pada kami. Ahh tamu yang ditunggu - tunggu -batinku kePDan!-.

Belum sempat kami naik ke atas pelaminan, tiba - tiba punggung ku ditepuk dan jeng jeeeeeng "Mba Ambar! ngapain disini?! temennnya penganten?!". Dian,, dia tiba - tiba muncul dengan mimik muka yang penuh dengan tanda tanya, "kok bisa mba Ambar disini?" begitu mungkin pertanyaan dalam hati nya. "Loh,, dian disini juga? itu.. Bude Ani khan sepupu nya ibu mertua ku" terang ku sambil mohon ijin untuk bersalaman dengan mempelai terlebih dahulu.

Selesai bersalaman, menyampaikan salam dan pesan dari ibu mertua, kami berdua langsung menuju ke tempat prasmanan. Jam makan siang ditambah dengan hampir dua jam kami muter muter kota Bogor, membuat perut kami -saya tepatnya- kelaparan. Sedang khusu'nya kami mengambil makanan, Dian dan Eko (suami nya) datang menghampiri kami dan bilang "Mas Robien ya?! aku Eko mas,, keponakanannya Pak de Har (suami nya Bude Ani). Dulu waktu masuk STAN pertama khan aku dianterin mas Robien nyari kos kos-an". Jeng jeeeeeng,, dua orang itu yang sejak di stasiun memperhatikan kami, yang setiap hari nya satu bis jemputan sama aku, ternyata eh ternyata.. Saudara!! MasyaAllah.. kami sampai terheran - heran sendiri. Hampir dua bulan bersama, tapi baru tau kalo ternyata saudara. Sungguh ga disangka..

Ahh.. senangnya, bertambah lagi saudara,, ibarat jodoh, garam di laut, asam di gunung, ketemu nya di belangan. Begitupun saudara, yang satu tinggal dimana, yang lain tinggal dimana.. ketemunya,, di tempat kondangan juga! hahahahaha...

Selasa, 25 Maret 2014

Ah!! Saudara ternyata ;)

Sabtu pagi itu,, di sebuah stasiun kereta di pusat kota, kami berdua (aku dan suami) berlari mengejar kereta yang hampir berangkat. Ya,, kami akan menuju Bogor, dan kereta yang akan membawa kami ke kota tersebut kurang dari tiga menit lagi berangkat. Melihat koridor yang menuju kereta penuh sesak orang - orang yang menuju pintu keluar, kami berdua potong jalur. Kami terobos orang - orang yang terasa amat lambat jalannya, dan sekuat tenaga berlari menuju gerbong paling dekat yang bisa kami jangkau. Lampu kereta sudah menyala merah tanda siap diberangkatkan ketika kurang dari lima langkah jarak antara kami dengan kereta. Petugas keamanan yang ada di gerbong tersebut melambai - lambaikan tangan menandakan agar kami lebih cepat. Dan huppp!! Alhamdulillah, kami mendarat sempurna di gerbong paling awal yang memang disediakan khusus untuk wanita itu tepat saat pintu kereta tertutup untuk berangkat menuju Bogor. Badanku sempoyongan, rasa - rasanya sudah ingin menjatuhkan diri di badan suami ku. Dengan terus menggandeng -lebih tepatnya memapah- badanku yang mulai lemas, suami ku menuntunku ke gerbong umum untuk mencari tempat duduk. Alhamdulillah, kereta saat itu tidak penuh, masih banyak kursi kosong disana, dan kami pun mencari posisi tempat duduk yang paling membuat kami nyaman.Hhhfhhhh... untunglah, sepatu trepes ini memudahkanku, ga kebayang seandainya aku pergi dengan menggunakan high heels. Kereta pun melaju, meninggalkan dua orang di luar sana yang diam - diam memperhatikan kami berdua.

Kurang lebih satu jam, ular besi itu melaju membawa kami ke kota yang dijuluki kota hujan. Sepertinya, kota ini juga bisa dijuluki "kota sejuta angkot". Dimana - mana angkot, dimana - mana ramai para penumpangnya, dan yang mengherankan, walaupun sama - sama kejar setoran, para supir angkot ini tidak saling kebut - kebutan berebut penumpang. Salut!! Aku yang dari semula memang tidak tahu arah, santai saja berjalan disamping suami ku. Berbekal petunjuk dari seorang teman yang memang asli kota ini, kami naik angkot 03 ke arah Baranangsiang. Setengah jam lebih kami berada di angkot tersebut, melalui satu tempat ke tempat lain. Yang menjadi patokan kami adalah "Gramedia atau Pizza Hut". Turun, jika sudah sampai di tempat itu. Tapi sepertinya sampai di akhir perjalanan angkot ini, kami belum menemukan dua tempat yang menjadi patokan kami tersebut. Dan benar saja! Kami Nyasar!! Akhirnya, kami turun di terminal Laladon. Bertanya pada seorang petugas pengatur lalu lintas, dan kembali kami naik angkot 03 jurusan Baranangsiang, yang arahnya berlawanan dengan angkot 03 awal kami naiki tadi, "kembali ke titik nol" saya menyebutnya. Ah.. g masalah buat aku, selama pergi nya sama suami sih, aku enjoy enjoy aja.. ciahhhh!! itung - itung jalan - jalan murah muterin kota ini.

Akhirnya kami sampai di tempat yang kami maksut, Botani Square! yaaa.. di depan Botani Square inilah kami turun -setelah sebelumnya kembali ke stasiun (_ _#)- dan lanjut naik angkot 01 menuju ke gedung SEAMEO Biotrop. Disanalah,, tanpa disengaja, kami bertemu mereka. Dua orang yang memperhatikan kami di stasiun tadi. -to be continued ;)-

Selasa, 18 Maret 2014

Pandai syukur


Ada dua cara untuk bisa berlatih menjadi seorang yang pandai bersyukur, yaitu :
  1. Dengan melihat mereka - mereka yang ada dibawah kita. Mereka - mereka yang jauh lebih tidak beruntung dari diri kita. Mereka - mereka yang berharap untuk bisa ada diposisi kita. Melihat mereka, masih tegakah kita untuk tidak bersyukur?
  2. Dengan membayangkan segala nikmat yang kita punya tiba - tiba hilang, lenyap seketika. Kesehatan, kehidupan, kedamaian, iman, islam, hidayah, keluarga, sahabat, pekerjaan.. semua yang kita miliki, segala kemudahan yang kita punyai, segala apa yang telah Allah beri, tiba-tiba hilang. Sudah siapkah ketika kita kehilangan segala nikmat yang tak terkira itu?!?

Jangan sampai waktu kita terhabiskan hanya oleh angan - angan berlebih yang belum kita dapatkan. Nikmati dan syukuri apa yang kita miliki. Karena pada dasarnya tidaklah perlu takut ketika kita tidak punya apa-apa, tapi takutlah ketika kita tidak mampu mensyukuri nikmat yang kita miliki. Semoga...

Jumat, 14 Maret 2014

Si selfie


Dia bukan seseorang, 
Dia juga bukan sesuatu. 
Dia hanya sebuah istilah,,
Istilah yang belakangan sangat ramai digunakan oleh orang orang, mungkin termasuk kalian dan juga oleh diriku sendiri. Yaph! Selfie! Istilah yang sangat familiar. Selfie adalah singkatan dari "Self Potrait"
yang artinya foto hasil memotret diri sendiri , biasanya dengan smartphone atau webcam, lalu diupload ke social media. -http://kamusslang.com/m?do=Search&submit=Cari&what=selfie-


Lalu, apakah ada yang salah dengan selfie? Ohh aku disini bukan mau ngomongin tentang itu, aku mau ngomongin hal yang ada kaitannya dengan selfie tapi untuk lain kasus. Kalo mau mencoba memperhatikan, sadar atau g ketika kita melihat foto dimana disitu ada diri kita sendiri bersama orang lain, maka yang akan kita cari pertama adalah muka kita, ya ga?!? Lalu kemudian, bagus atau jeleknya ukuran foto tersebut adalah dinilai berdasarkan diri kita. Kalo kita difoto itu bagus, pasti kita bilang "iiii fotonya baguuuus" padahal difoto itu juga terlihat orang lain dengan pose yang kurang pas. Teteeeep aja kita bilang bagus. Hahaaa.. Begitu pun juga berlaku sebaliknya. Ya gaaaa?!? Mungkin darisinilah cikal bakal selfie itu muncul ;).

Okeyy sekarang kita bahas hal yang sedari awal emang udah pengen aku bahas, yaitu tentang sisi lain selfie. Aku rasa aku adalah orang yang punya rasa selfie tinggi. Eittssss tapi bukan dalam hal foto, kalo foto aku lebih suka bareng-bareng, biar apa?! Biar g jadi pusat perhatian aja siii -hoekkkkk,booooooong!!!-. Yaphh.. ke-selfi-an ku itu biasanya terlihat saat sedang bersama orang lain, janjian untuk pergi ke suatu tempat bersama, aku g begitu doyan buat samper-samper an, aku lebih milih buat langsung ketemuan di TKP. Karena pada dasarnya, aku ga suka nunggu dan g suka ditungguin juga. Fair khan? ;). Apa yahh.. rasanya kalo samper-samper an, atau tunggu-tunggu an tuh ribet, tergantung sama orang lain, ga bebas! Selain itu, aku juga lebih suka pergi sendiri -keculi sama suami-, karena apa? Karena aku bisa mengatur waktu ku sendiri, kapan aku pergi, kapan aku pulang, mau kemana aku pergi, daaaan sekali lagi ini tidak berlaku untuk suami ku loh yaaaa. Karena seenak-enaknya pergi sendiri, akan jauuuuuuuuuuuuh lebih enak kalo pergi sama suami hahaaaa..

Ya! Saya tahu! Kalo terkadang bagi sebagian orang -apalagi bagi mereka yang tinggi jiwa kebersamaannya- sifat selfie ku ini cukup menyebalkan. Tapi ya selama itu semua bikin aku nyaman dan yang terpenting tidak merugikan orang lain, ya aku cuek aja hehehee. Intinya kita fair play saja lah ya.. kamu bisa menjalankan prinsip mu yang buat kamu nyaman, aku pun demikian. Yang terpenting adalah prinsip kita itu tidak merugikan orang lain, dan yang g kalah penting lagi kita harus mau juga menanggung konsekuensi atas prinsip kita. Ahhh superrr sekali pembahasan selfie kali ini.. hahaaa. Jadi bagaimana? Apakah anda selfie? Kalo saya bukan! Saya AMBAR! Wkwkwkwkwk

Selasa, 11 Maret 2014

INI IKU AKU ^__^


Ini adalah postingan kedua ku hari ini. Awalnya aku cuma minum dari mug yang fotonya aku pajang disamping, terus si kriwulia alias aulia si adik kecil temen se-angkatan ku ini yang nyeletuk "waaaah kamu menghayati sekali mba itu gelas nya". Aku penasaran terus aku liat aja deh gelas nya, ternyata tulisannya adalah "Indikator Kinerja Utama".

Dulu aku udah pernah cerita kalo sekarang aku lagi magang di Bagian OKI Setjen DJKN. Nah, salah satu sub bagian di OKI adalah sub bagian Organisasi dan Perencanaan Kinerja atau sering disingkat OPK. Dimana salah satu urjab -uraian jabatan- nya adalah menetapkan perencanaan kinerja yang dituangkan dalam bentuk Kontrak Kinerja. Jadi, seluruh pegawai mulai dari eselon I sampai dengan eselon V, masing masing memiliki Kontrak Kinerja nya selama satu tahun. Dalam Kontrak Kinerja itu terdapat sasaran - sasaran strategis apa saja yang harus dicapai dan juga Indikator Kinerja Utama (IKU) yang nantinya digunakan untuk penilaian kinerja. Duh,, panjang bener ini penjelasannya ya.. ya ga perlu dihapal sie, ini cuma intermezo aja heheee.

Kenapa aku tulis postingan ini dengan judul INI IKU AKU?! karena, seperti para pegawai yang memiliki IKU juga sehingga mereka bisa mengerti secara jelas apa yang akan mereka lakukan dan apa yang akan mereka capai dalam satu tahun ini. Mereka juga tahu bagaimana dasar penilaian atas kinerja mereka dengan menggunakan IKU ini. 

Begitupun dengan hidup. Sepertinya, dalam hidup kita juga mesti punya yang namanya IKU, sehingga kita bisa tahu secara jelas apa tujuan hidup kita, apa saja yang akan kita capai dan nantinya kitapun bisa melakukan penilaian terhadap pencapaian hidup kita sendiri. Apakah kita sukses mencapai segala IKU kita tadi, ataaauuu justru penilaian kita minus?! Hm... bukankah itu semua bisa dijadikan bahan untuk evaluasi? apakah target kita terlalu rendah sehingga tanpa effort lebih bisa kita capai, atau sebaliknya, target kita ga masuk akal jadi sulit untuk dicapai. 
Yaphh,, apa IKU aku?!  mungkin mulai malam ini, aku akan merumuskannya, eitsss ga malam ini denk, mungkin malam malam besok waktu suami sudah ga sibuk lagi dengan papper nya hehehe.. ;)

No Excuse!

Belakangan aku seperti tersadar lagi bahwa dalam hidupku sudah terlalu banyak "ke-maklum-an" yang ternyata membuat aku menjadi orang yang kurang disiplin. Lebih tepatnya di tahun 2014 ini, dimana aktivitasku berubah drastis dan memaksaku untuk bisa menjadi orang yang pintar "mengutak atik" waktu. Saat ini hampir setengah hari ku, aku habiskan di luar rumah, mulai hari senin sampai dengan jum'at. Terdengar memelas kah? bisa jadi iya untuk sebagian orang, dan tidak untuk sebagian lainnya. Kalo menurut ku sendiri? BIASA AJA sih hehee.. toh, suami ridlo, toh yang aku lakukan insyaAllah manfaat hehee. 

Udah ya kita kembali ke topik tentang "maklum" atau "excuse" itu tadi. Kalian pernah ngerasain ga disaat kalian memiliki suatu kewajiban tertentu, tapi saat itu juga kondisi malas berkedok capek lah, lelah lah, ingin santai sejenak lah datang menghampiri. Daaaaan yang menjadikan lebih parahnya adalah lingkungan yang mendukung segala alasan kalian itu tadi dengan mengatasnamakan "maklum". Nahhh itu diaa.. itu dia yang aku alami. Kadang, sesampainya dirumah, setelah selesai menyiapkan makan malam untuk suami dan kita makan bersama, dalam lubuk hati terdalam -ihhhikkk- sudah ingiiiiiiiiin sekali menggabrukkan diri di kasur. Santai - santai sambil ngenet dan ngeliatin suami yang lagi pusing - pusing nya ngerjain se-abrek papper. Namun apa daya, didapur se-abrek cucian piring, plus sayuran yang belum dipotong - potong untuk masak besok pagi sekaligus setrikaan yang udah menggunung ituh menghancurkan segala keinginan bersantai ku. Dalam kondisi seperti inilah, ke-profesional-an ku sebagai seorang istri diuji, apakah aku akan segera beranjak dari kasur dan merubah diri menjadi laba - laba yang punya tangan banyak untuk menyelesaikan seluruh pekerjaan itu, ataaaaaaaaaaaaau tetap stay dan berleha - leha cantik di kasur?!? 

Hmmmm seharusnya,, sekali lagi SEHARUSnya, aku pilih opsi pertama! iya sie kadang aku berhasil menyingkirkan setan malas yang ada dalam diriku ini dan memilih opsi pertama. Tapiiii.. ga jarang alias sering, aku malah ambil opsi kedua T___T. Hanya cukup bilang "Ambar capek yang,, tapi belum ngerjain blablablablablablablaaa..", pasti suami ku langsung bilang "yaudah besok ga usah masak aja gapapa.." waaaahh satu sisi, kata - kata suami ku itu bagaikan oase di gurun pasir buat ku, sejuuuk, segerrrr hahaaa, tapi disisi lain kata - kata itu juga yang membuat aku menjadi orang yang mudah meminta ke-maklum-an dari suami ku. Jadi salah siapa?! ya salah diri ku sendiri lah, aku yang kurang bertanggung jawab, aku yang kurang profesional, aku yang banyak alasan, aku yang terlalu banyak excuse! T__________T -maafkan istrimu ya suami ku sayang-

Yahhh.. semoga setelah ini, setelah aku menyadari hal ini, aku bisa menjadi orang yang lebih bertanggung jawab lagi pada peran - peran ku, bisa menjadi orang yang mampu mengalahkan rasa malasku, bisa menjadi orang yang lebih disiplin. jadi saatnya bilang SAY NO TO EXCUSE!!!




Senin, 03 Maret 2014

Pergi untuk tugas, pulang demi cinta

"Pergi untuk tugas, Pulang demi cinta"


Pertama kali baca jargon seperti ini adalah ketika perjalanan dinas ke Jogja saat aku masih bekerja di Comdev Telkom Purwokerto. Tulisan itu ada disebuah truk pengangkut pasir yang aku temui disekitar daerah kebumen. Waktu itu aku anggap lucu jargon tersebut. "pinter juga nih yang bikin jargon" batinku. Ga ada yang istimewa awalnya jargon ini, sampai kemarin sore waktu aku pulang kantor, aku baru merasa bahwa jargon tersebut punya arti tersendiri.

Pergi untuk tugas, Pulang demi cinta. Ya! buat aku jargon ini sekarang punya arti yang bisa aku jadikan motivasi. Ketika saat ini aku sudah memiliki tanggung jawab atas sebuah profesi sebagai seorang abdi negara -katanya- yang bekerja disebuah kota dimana kemampuan mengatur waktu dituntut, maka "Pergi untuk tugas" adalah kata - kata yang passs lagi cocok untuk membangkitkan semangat ditengah "godaan" untuk tetap stay berada dirumah bersama suami. Aku harus meyakini bahwa kepergian ku pagi ini menuju kantor adalah demi sebuah tugas, tugas sebagai manusia untuk beribadah kepada Tuhan nya dengan cara bekerja. Tugas sebagai seorang abdi negara yang diberi amanah untuk mengurus kekayaan negara. Maka, ketika rasa malas kembali muncul, ketika "godaan" untuk tidak bersemangat datang menghampiri, aku harus meyakinkan diri bahwa niat ku pergi adalah untuk tugas itu tadi.

"Pulang demi cinta",, ah kalau bagian yang ini tidak perlu lah ditanya lagi, sudah jelas ketika jam di kantor menunjukkan jam 5 kurang sedikittttt -agak banyak juga si :P- maka itulah saatnya bersiap untuk pulang kembali ke rumah. Satu hal yang selalu aku harapkan saat pulang kerja adalah, TRAFFIC yang BERSAHABAT! sehingga dengan lebih cepat aku bisa kembali ke rumah, bertemu dengan suami tercinta. 

Maka... jargon "Pergi untuk tugas, pulang demi cinta", jika aku maknai lagi lebih dalam, maka jargon ini dapat menjadi pembangkit semangatku, bahwa apa yang aku kerjakan tidak lah sia - sia. Sekecil apapun itu, aku berharap dapat menimbulkan efek positif yang besar bagi hidupku, bagi instisusi dimana aku bekerja, bagi keluarga kecil ku yang amat aku cintai. Semoga...

Selasa, 25 Februari 2014

First day in my OJT's journey

Mohon maaf sebelumnya buat para pembaca-er blog saya ini kalo kalo alur cerita yang saya posting di blog ini ga jelas, apakah alur maju, alur mundur, atau alur campuran. Mungkin lebih tepatnya adalah alur setrikaan alias maju mundur wkwkwkwk -Betewe maaph2 lagi ini kok saya kePDan banget yaaa minta maaph ke para pembaca, emangnye ade yg mbaca hah?!? hmmphh ya maaphkan saya lagi atas ke-Over PD-an nya saya hiksss-.

Langsung aja ke cerita ya! Hari itu, Jum'at 10 Januari 2014. Hari dimana aku dan teman teman seperjuangan CPNS'er Kemenkeu dijadwalkan untuk melakukan pelaporan ke unit eselon I nya masing - masing. Aku ga tau yang dimaksut "lapor unit" tuh kaya apa. Pikir ku ya cuma dateng, menghadap ke Kepegawaian, bilang kalo saya sudah hadir dan siap OJT, lalu pulang. Tapi ternyata diluar dugaan. Kami -para DJKN'er- langsung mendapat arahan dari Pak SesDitjen dilanjut dengan pembagian tempat OJT dan langsung ngendon di ruangan kita masing-masing. Uwaaaaww! dan waktu itu juga langsung dapet kabar kalo hari senin tgl 13 Januari kami sudah mulai efektif bekerja-OJT maksutnya-. Aku langsung mbayangin gimana riweuh nya temen-temen yang berasal dari luar Jakarta, luar pulau Jawa pula. Mereka harus mencari tempat kos dalam waktu singkat. Aku sendiri sebetulnya juga belum siap untuk langsung OJT di hari Jum'at itu. Memang kondisi badan saat itu lagi ga' iye! sakit kepala ku kambuh, gara-gara keujanan waktu pemberkasan fisik kemarin, ditambah lagi telat makan siang, sampe rumah ngantuk jadi cuma ngeringin badan -tanpa mandi- langsung tidur. Otomatis dihari berikutnya aku langsung teparrr.. ga bisa gerak karena kepala rasanya sakittttt banget kalo gerak dikit aja. Tapi Alhamdulillah, Allah beri kemudahan dihari pelaporan itu, sakit kepala ku sudah sedikit reda. Bisa buat nengok, bisa diajak jalan, bisa naik lift! Alhamdulillah.

Oiya, aku ditempatkan di sebuah bagian di bawah Sekretariat Direktorat Jenderal (SesDitJen) yaitu di bagian OKI (Organisasi dan Kepatuhan Internal). Waktu aku tahu ditempatkan dibagian itu, aku merasa bersyukur dan yakin bahwa tempat ini adalah yang paling baik buat ku menurut Allah. Dan ternyata memang benar, terlepas dari kekurangan - kekurangan yang pasti disetiap unit kerja ada, aku merasa tempat ini baik untukku. Aku bisa banyak belajar, mengamati, memahami, tidak hanya seputar ke-organisasian, ke-tata laksana an, atau ke-KI-an saja. Tapi lebih dari itu, aku bisa belajar tentang "budaya kerja". Seperti apa budaya kerja yang ada disini. Aku teringat pesan yang disampaikan oleh Pak Dwi selaku kasubag mutasi bagian Kepegawaian, kata beliau "Kemenkeu memiliki 5 budaya kerja, kalian harus pegang teguh itu. Kalau nanti pada kenyataannya kalian banyak menemui ketidaksesuaian dengan budaya kerja, maka yang harus kalian jadikan patokan adalah budaya kerja, bukan apa yang kalian liat". Wowww sepertinya si Bapak sudah mewanti-wanti kami seandainya kami melihat ketidaksesuaian nih. 

Oke.. dan inilah hari pertama perjalanan OJT ku. Masih dalam masa adaptasi, belajar dan lagi lagi, mengamati. Seperti apa aku seharusnya disini, mengira - ira apa yang nantinya bisa aku kontribusikan Seandainya aku ditempatkan disini. Inilah hari pertama perjalananku di instansi pemerintahan, pengalaman pertama bekerja diluar dunia swasta, banyak yang aku bandingkan antara tempat kerja lama dengan instansi baru ku ini. Aku bandingkan, dan memang berbeda! bukan berarti disana lebih baik daripada disini, atau sebaliknya. Tapi memang karena core bisnis yang berbeda, sehingga membuat perbedaan yang memang tidak bisa dibandingkan. 

Aku berharap, nantinya, aku bisa ditempatkan disini, di kantor pusat, di direktorat atau di bagian apapun, semoga aku bisa menjadi pegawai yang produktif. Sehingga waktu yang aku gunakan bisa manfaat, rejeki yang aku bawa pulang berkah,, aamiin..

Kamis, 20 Februari 2014

antara blogging - bolt - dan tahsin

Artikel ini aku tulis di rumah. Yeahhhh this is the first time i post article at home! wuhuuuu.. Jadi tadi sore sepulang kerja aku diajak suami ke Bintaro Plaza, beli modem "Bolt", kalian pasti udah familiar khan sama modem yang satu ini?? harga nya 300 ribu kurang seribu, suami kayanya emang butuh banget yang namanya modem. Kebutuhan internetnya ga bisa dipenuhi dengan pulsa internet bulanan dari provider SIM Card nya. 

Malam ini suami kedatangan tamu rutinnya seminggu belakangan. Siapakah dia? dia adalah mas Angga, tetangga sebelah rumah. Dia sedang "berguru" ke suami untuk belajar tahsin. Oiya, aku belum cerita yah.. jadi satu bulan terakhir ini di lingkungan kontrakan kami sudah bertambah lagi kegiatannya yaitu belajar tahsin untuk ibu - ibu dan juga bapak - bapak. Hari nya terpisah, kalo yang ibu - ibu yang ngajar juga ibu - ibu -masih calon ibu tepatnya! hehee-, yang bapak - bapak juga yang ngajar ya bapak - bapak. Aaahhh kapan kapan deh aku tulis di postingan terpisah.

Nahhh.. jadi selama suami lagi belajar bareng sama mas Angga, aku cobain aja ini bolt-nya. Beneran cepet apa ga siii.. Oiya, semoga dengan dibeli nya modem ini, dapat menambah keberkahan bagi kami. Semoga modem ini dapat memudahkan suami dalam kami menyelesaikan tugas kuliah misalnya, dapat aku pakai untuk mencari tambahan pengetahuan, ngeliat youtube sepuas nya untuk mencari tambahan ilmu yang mungkin di kantor aku belum bisa dapat, dan lain lain. Yaahhh.. semoga, keberadaan modem ini dapat bermanfaat dan membawa berkah bagi kami. Aamiin..

bukan promosi ;)

Rabu, 19 Februari 2014

Ga ada jemputan?! ga tidur artinya!

Tadi pagi sekitar jam 5:14 hape ku bunyi yang menandakan ada sms masuk. Aku heran awalnya, pagi - pagi gini siapa yang sms? pikirku. Habis aku buka sms nya, bener aja.. ada pengumuman penting pagi itu. Intinya pagi ini bis jemputan yang biasa aku naiki ga berangkat karena pak sopirnya ada urusan keluarga, salah satu anggota keluarganya sakit. Huuuuuuuuuufhhhh.. aku langsung lemes, lesu, lunglai, lemah tak berdaya. Bayangan ga enak nya naik CL udah langsung tergambar jelas di pelupuk mata. Hmmmppphhhh,, desek desek an didalem gerbong, pindah kopaja dua kali, dan yang paling nyesek adalah ga bisa curi curi waktu buat bobo hikssssssssss emaaaaak ngantuk maaaaaak T____T.

Setiap hari aku memang selalu -kalo ga kesiangan hehee- bangun jam 3 pagi. Aku mulai mengerjakan semua -beberapa denk!- pekerjaan rumah seperti masak sayur dan lauk, bikin nasi, cuci piring dan yang terpenting dan ga boleh ketinggalan adalah membuat teh hangat manis buat suami tersayang. Jam setengah 5 adalah time limit ku buat menyelesaikan semua pekerjaan tersebut. Kalo setengah 5 ada kerjaan yang belum selesai, dengan terpaksa aku tinggal, dan nanti pas pulang kerja baru aku lanjutin -pada kenyataannya kerjaan itu udah di take over sama suami hehehehe.. makasih sayangku mwwwuachhh-. Dengan rutinitas yang seperti itu, aku merasa beruntung bisa naik bis jemputan, karena disanalah kasur kedua ku, jadwal tidur ku aku lanjutkan disana, lumayan banget itu looooh dari kampus STAN Bintaro ke kantor di Lap. Banteng kira - kira makan waktu satu setengah jam-an. Wiiiiiiihhhh lumayan buat mimpi itu,, apalagi kalo ditambah macet macet cantik jadi agak tambah lama dikit lagi mimpi nya -asal ga kebablas aja macetnya yaaa-.

Tapi pagi ini tak ada jemputan, yang artinya tak ada bobo part 2. Hiksss,, sedihhh. Dalam hati aku berdoa mudah - mudahan aku tetep bisa tidur barang sekian menit, lumayan buat ngurangin rasa ngantuk. Tapi kenyataannya malah nambah rasa ngantuknya ya hahahaha. Jadi tadi Alhamdulillah aku dapet kopaja yang masih kosong, aku dapet tempat duduk yang enak -biasanya udah penuh jadi ga dapet tempat duduk-, setelah aku merasa aman dan nyaman, aku langsung merem! Bobo! :D lumayan, dapet sekitar 15 menitan -sambil berkali kali bangun juga tapi, takut kebablas-. Sampe kantor,, haduuuuhhh ini yang namanya nguap kok ga berenti berenti yaaa, makin ditahan ngantuknya, kepala malah jadi berat. Alhasil aku minum air putih aja terus. Katanya kalo orang ngantuk itu disebabkan otak kurang oksigen. Kalo kita minum air, maka suplai oksigen ke otak akan bertambah sehingga berkuranglah ngantuk kita. Yessssss teori yang amat baguuussss. Lagian, dengan kita minum air putih banyak, ga ada efek sampingnya, baik untuk kesehatann! yaaaah paling paliiiing harus mau bolak balik toilet aja karena beser hehehehehe.

Ini sebetulnya apa sie posting tentang ngontak ngantuk ngontak ngantuk,, apakah hikmah yang tersirat dari cerita ini??? -Hassyahhhhh mulai lebaiii-. Jadi, menurutku.. ngantuk itu berkat mas bro, mba sis! ngantuk itu salah satu bentuk nikmat Allah pada hambaNya, bayangin mereka mereka yang insomnia, mau tidur aja musti minum obat dulu, ckckckckck. Makanya, kita harus bersyukur kalo ngantuk -tapi kalo kebanyakan ngantuk ga baik juga si heheee-. Buat aku, ini adalah salah satu konsekuensi atas kegiatan ku sekarang. Dengan double role atau peran ganda, sebagai istri dan sebagai seorang pegawai. Aku harus bisa memanage waktu dengan baik. Jam berapa aku bangun, apa yang harus aku lakuin, jam berapa aku tidur, sampe pada besok masak apa itu juga harus aku atur. Alhamdulillah selama ini berjalan baik -walau kadang saking capeknya kesiangan dan ga masak :P-. Konsekuensinya?!? jadwal istirahat jadi ga seleluasa dulu lagi, jadilah sekarang aku suka menjadi pencuri! pencuri waktu! waktu buat tidur hahahahahahahaha... 

Beruntung aku punya suami yang pengertian, perhatian, eman, ga pernah nuntut apa apa. Setiap aku bangun kesiangan -setengah 5 buat aku dah siang loh ya, udah ga bisa masak n bersih2- suami selalu bilang "udah, hari ini maemnya beli aja" sambil meluk aku lagi, tidur lagi deh aku loohh!! hahahahaha. Tapi aku bersyukur, dengan jadwal baru ku saat ini, aku lebih bisa belajar hidup teratur, disiplin tanggung jawab, dan semoga hidup sehat. Tidur awal, bangun awal. Mandi sebelum shubuh, sholat selalu diawal waktu. Walaupun masih banyak carut marut disana sini, setan malas nya masih jauh lebih besar dibanding malaikat rajinnya, tapi aku bertekad mau membenahi. AKU MAU BIKIN JADWAL HARIAN TERTULISSS!! macam kebiasaan pas aku sekolah dulu. InsyaAllah.. doakan aku kawaaaaaaaaan doakan aku bisa istiqomah. Aamiin.... :D

Bus Jemputan

"Bis jemputan yang ku tunggu.. ku tunggu.. tiada yang datang;
 Ku telah lelah berdiri.. berdiri.. menanti nanti;
 Bila ku pergi bersama suami ku,
 Ku kan merasa gembira riang selalu.."

Sedikit lirik lagu "Bis Sekolah" nya Koes Plus -dengan sedikit gubahan oleh diri saya sendiri hahaaa- mengingatkan aku pada pengalaman naik bis jemputan. Apa sih bis jemputan itu? Mungkin sebagian besar orang tau nya bis jemputan itu biasa dipake anak sekolahan untuk antar jemput mereka dari rumah menuju sekolah dan sebaliknya. Tapi jangan salah, di kota besar seperti jakarta ini, fasilitas bis jemputan ga cuma buat anak sekolahan aja, tapi dipake juga sama instansi - instansi pemerintah -aku ga tau kalo perusahaan swasta ada fasilitas jemputan juga apa ga-. 

Berawal dari diterimanya aku sebagai CALON PNS di salah satu instansi pemerintah, dan selama masih berstatus "magang" aku ditempatkan di kantor pusat yang berada di daerah lapangan banteng Jakarta Pusat. Dari tempat tinggal ku sekarang ke kantor jaraknya luuumaaayyyaaannn -luumaayyyaannn jaaauuuhhhhh- dan kalo naik kendaraan umum bisa menggunakan beberapa alternatif angkutan, yaitu : 
  • Alternatif pertama adalah dengan menggunakan CL alias Commuter Line. Aku naik CL jurusan serpong - tanah abang dari stasiun Pondok ranji dan turun di stasiun tanah abang. Dari tanah abang lanjut dengan menggunakan : 
a. Kopaja 502; turun di tugu tani, lanjut kopaja P20 turun depan kantor
b. Mayasari Bakti 547 jurusan Pulogadung/Tanjung Priuk turun tugu tani, lanjut P20
c. Naik ojek, tapi MAHAL bo! 25 ribu.. sekali kali aja ini mah kalo KEPAKSA
d. Naik taksi, hampir sama kaya ojek, cuma agak keren dikit lah, kalo pake ini juga sekali kali aja, kalo KEPAKSA!

Aku biasanya pake pilihan (a) karena lebih banyak armada 502 nya, dan kalo aku bisa pake CL yang jam 6 kurang 10 pagi, biasanya jalanan masih belum macet, jadi kalo naik 502 masih bisa agak santai nantinya. Beda lagi kalo naik CL yang jam 6 lebih 13, itu sudah dipastikan aku telat alias TL 1. Datang telat, berarti pulang juga telat. Walaupun telat satu menit, nggantinya harus setengah jam. Kalo g mau ganti, siap2 aja tunjangan dipotong 0,5% -emaaaaaak T____T-. Aku pilih naik CL yang pagi aja jam 6 kurang, biar ga terlalu terburu - buru, lebih santai dan pastinya terbebas dari TL-1. Walaupuuuuun itu berarti siap umpel-umpel, desek-desek an sama sesama penumpang CL yang juga mau berangkat kerja. Maklum lah yaaa jalur CL yang aku naiki ini adalah jalur satu satu nya bagi mereka yang bekerja di Jakarta dari serpong dan sekitarnya. Dan memang sebagian besar orang yang kerja di Jakarta, tinggalnya di Serpong, Depok, Bogor. Jadi bayangin aja bagaimana padat nya CL menuju daerah daerah tersebut pada jam berangkat dan pulang kerja. WOW banget pokoknya. Yaaah bersyukur aku dikasih badan yang minimalis sama Allah, jadi aku tetep bisa nyempil ditengah ketek orang orang -emaaaaaaaaaaaaaaaaaaak T_____T-, yaah itung itung latian thawaf juga lah, bisa jadi besok waktu haji dan/atau umroh juga empet empet an gitu situasinya.
  • Alternatif kedua dengan menggunakan kopaja P20 dari lebak bulus. Tapi kalo pake alternatif ini, haduuuuuuhhhh macet nya ga karu-karuan, waktu tempuh paling cepet itu dua jam, dan itu artinya aku harus sudah naik P20 jam setengah 6 pagi, yang artinya juga aku harus berangkat jam 5 kurang dari rumah, karena jarak dari rumah ke lebak bulus kurang lebih setengah jam-an. Belum lagi bisik bisik tetangga yang bilang kalo P20 itu sarangnya copet. Dari 5 penumpang, mungkin 3 diantaranya copet -What?!?!? yang bener ajeeee-.
  • Alternatif ketiga adalah dianter sama yayang suami  -ga mungkin banget ini mah, sama aja ngerjain suami kalo anter jemput tiap hari,, hiksss-
Sebetulnya masih ada satu alternatif lain, yaitu naik bis jemputan. Tapi aku belum dapet info tentang bis jemputan yang berangkat dari Bintaro ke kompleks kantor lapangan banteng. Sebagian besar bis jemputan yang ada di bintaro (Kampus STAN) itu adalah bis jemputan untuk kantor pajak dan bea cukai. Hikssss... aku gimanaaaa T____T. 

Ditengah ke-tak berdaya-an ku naik CL -ampirr tiap hari dibikin nangis sama CL, apalagi pas jam pulang. Udah kaya ikan asing dempet dempet an siap dipanggang disebuah oven besar bernama gerbong CL dan ditambah dengan seringnya wesel rusak, sehingga jadwal pemberangkatan kacau, jadilah kita hampir satu jam-an dalam keadaan yang sangattttt menyebalkannnn itu- akhirnya aku -suami ku denk!- mendapat informasi mengenai bis jemputan. Waktu itu suami lagi ngobrol sama Abi nya Haifa -tetangga rumah- dan cerita cerita tentang keadaan istrinya yang memprihatinkan ini -hoekkk lebaynyaah-, dari situ abi Haifa kasih info bahwa istri temennya ada yang mau cuti melahirkan dan sekarang dia naik bis jemputan ke lap. banteng -kebetulan aku sekantor sama istri temen abi Haifa itu-. Nah aku dikasih kontak nya dan ternyata bener.. Alhamdulillaaaaaaaaah aku bisa nggantiin posisi dia di bis jemputan -berkah silaturahmi sodara sodara, aku terharuuu T___T terimakasih ya Allah, terbebas juga aku dari predikat TRAINER :D-.

Naik bis jemputan, berangkat dari Kampus STAN jam setengah 6 -awalnya jam 6 kurang seperempat, tapi mepet terus gara gara musim hujan-, sampai kantor jam 7 kurang seperempat, masih bisa aktivitas non kantor lah sampai setengah 8 pagi. Pulang jam 5 sore, dan kalo traffic bersahabat, jam setengah 7 udah sampe -yeyeyeeeeeeeeeee!!!!!-. Mana bis nya baru, nyaman, di bis bisa bobo.. aaaah badan ga capek pokoknya.

Ini adalah salah satu bentuk rejeki juga buat aku dari Allah. Allah beri kemudahan aku dengan transportasi yang aman dan nyaman, yang memudahkan aku untuk bisa berangkat kerja, beribadah, tanpa perlu susah payah, dan yang lebih menyenangkan lagi, berhubung aku masih berstatus anak magang, biaya iurannya dikorting 50% yeyeyeyeye.. Alhamdulillah lagiiiiii.... makasih ya Allah.. :-*

Selasa, 18 Februari 2014

Pertemuan pertama di kelas baru

Masih bercurhat curhat cantik tentang pengalaman belajar tahsin. Jadi, sabtu kemarin itu adalah pertemuan pertama ku di kelas baru. Yaph yaphhh kelas tahsin II. Alhamdulillah seneng deh, apalagi ternyata temen se-holaqoh pas tahsin I dulu ternyata banyak yang sekelas juga sama aku sekarang. Makin seneng karena aku dapet pengajar Ustazah Retno Nur. Jadi tuh ya, dulu waktu masih tahsin I, aku suka melirik melirik mereka yang di Tahsin II, dalam hati aku penasaraaaan dan pengeeeeeen banget berada di lingkaran holaqoh itu, memegang juz 29 -kalo tahsin I, untuk talaqqi nya memakai juz 30, sedangkan tahsin II pakai juz 29-. Dan Alhamdulillah, sekarang aku berada disini, di kelas tahsin II. 

Ada kabar bahagia, ada juga kabar menegangkannya. Ternyata, apa yang diajarkan di tahsin I itu, masih bisa dibilang baru perkenalan! Apppaaahhhh perkenalan?!?!? teruuuuusss kaya apa tahsin II ini kalo tahsin I aja masih disebut perkenalan -gemeteran di ujung mesjid :( -. Memang benar, waktu kita di tahsin I, kita ga dituntut apa - apa, goal dari tahsin I adalah membaca dengan lancar, membaca dengan benar. Kami ga dituntut mengerti tentang teori tajwid, kami ga dituntut bilangan untuk tilawah -walaupun target tahsin I adalah setengah juz sehari-. Kenapa kita ga dituntut untuk mengerti, menghafal dan memahami ilmu tajwid di Tahsin I? -aku bilang di Tahsin I loh yaaaa-. Karena, hukum membaca Al-Qur'an dengan benar adalah Fardu 'ain alias wajib dan berdosa jika tidak dibaca dengan benar. Tapi, hukum mempelajari ilmu tajwid adalah Fardu kifayah, yang artinya kalo kita sudah bisa membaca dengan benar, ngerti ketika ada huruf tanwin atau nun mati bertemu dengan huruf ba otomatis dibaca ghunnah, walaupun tidak tau kalo itu namanya iqlab gapapa yang penting tau gimana cara membaca nya. Naaaaaaaaah di Tahsin II ini beda. Kita sudah mulai dituntut, antara lain :
  1. Tilawah minimal One Day One Juz (satu hari satu juz)
  2. Kalo tilawahnya fluktuatif, tidak bisa naik kelas, jadi harus istiqomah!
  3. Memahami teori, tentang ilmu tajwid, mad, sifat - sifat huruf, tafkhim dan tarqiq dan masih banyak lagi
  4. Kehadiran harus 75%, karena kalo kurang dari itu akan sulit untuk dinaikkan
  5. UAS ga ada susulan T__T
Satu sisi aku seneng bisa naik kelas, satu sisi berarti aku udah ga bisa seenaknya kaya waktu masih tahsin I -iyalah waktu Tahsin I sering ditinggal mudik, berangkat suka nelat nelat hufhhh-. Sekarang aku ga boleh main main, demi apa?! demi bisa belajar membaca al-qur'an dengan baik DAN JUGA BISA MENGAJARKANNYA -ya ga usah di Capslock juga kaliiii-. Ya! Sekarang aku punya target baru, dulu waktu tahsin I aku cuma menargetkan bacaan ku lancar dan benar, tilawah konsisten, naik kelas. Sudah! itu saja. Sekarang, sudah naik tingkat, bacaan sudah lebih benar dan lancar, tilawah insyaAllah selalu berusaha istiqomah, apa target selanjutnya? jelas!! mengajarkan membaca Al-Qur'an dengan baik pada orang lain. Dalam kitab Shahihnya, Imam Al-Bukhari meriwayatkan sebuah hadits dari Hajjaj bin Minhal dari Syu’bah dari Alqamah bin Martsad dari Sa’ad bin Ubaidah dari Abu Abdirrahman As-Sulami dari Utsman bin Affan Radhiyallahu Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,

خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ .

“Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al-Qur`an dan mengajarkannya.”

-Ya Allah, bimbing hamba agar hamba dapat menjadi manusia yang disebutkan oleh kekasihMu, Rasulullah SAW  pada hadits diatas,, Aamiin..-

Nah,, untuk bisa mengajarkan, ga cukup hanya bisa membaca dengan benar dan lancar. Tapi juga harus tau ilmunya. Nah.. di tahsin II inilah aku yakin, akan lebih dalam lagi membahas mengenai keajaiban - keajaiban huruf dan hukum Al-Qur'an. 

Memang semenjak ikut belajar tahsin di An Nashr ini, aku menjadi semangat dalam tilawah. Rasanya enaaaak aja kalo baca. -Ya Allah, berikanlah rahmat dan berkah-Mu pada orang2 yang belajar dan mengajarkan Al-Qur'an dimanapun mereka berada, aamiin-. Berbeda waktu belum belajar dulu. Baru baca dua lembar aja kayanya udah ngos ngos-an,, hmmmm emang beda ya antara yang berilmu sama yang engga hmmmm (_ _#). Aku juga jadi tau bahwa cetakan Al-Qur'an pun berbeda antara cetakan Indonesia dengan cetakan Arab -kalo ini aku taunya sejak nikah, dikasih tau suami-. Kirain dulu semua Al-Qur'an sama aja cetakannya, ternyata yang memakai ROSM Utsmani jauh lebih enak bagi mereka yang ingin belajar membaca Al-Qur'an. Sedangkan cetakan Indonesia biasanya sudah dicetak sedemikian rupa hingga amat memudahkan bagi mereka yang membaca nya. Yaah masing - masing ada kurang dan ada lebih nya. Kalo make Qur'an cetakan Indonesia, kita jadi seperti "dimanja" karena semua tanda tajwid sudah dicetak jelas dengan tanda tanda yang memudahkan bagi yang membacanya, seperti contohnya bacaan ikhfa diberi tanda kuning, iqlab diberi warna merah dll. Sedangkan cetakan arab atau timur tengah tidak, begini kira kira gambar nya.. 
Qur'an cetakan Arab

Qur'an cetakan Indonesia
masih belum bisa melihat perbedaannya? makanya belajar!! loh?!?!? hihihihi maksutnya silakan coba buka link ini, insyaAllah jadi jelas perbedaannya Perbedaan Al-Qur'an cetakan Arab dengan cetakan Indonesia . Yang jelas, perbedaan cetakan tersebut ga membuat perbedaan arti, makna atau apapun dari Al-Qur'an, ini hanya perbedaan cara penulisan saja. 

Back to the topic, yaph! target ku adalah aku ingin bisa menjadi pengajar tahsin! -mmmm sebenernya agak malu siii ngomongnya, soalnya ilmu nya masih cetek, tapi gapapa deeeh aku anggap ini jadi pecut buat aku untuk terus belajar dengan serius-. Kata - kata dari Ustazah Retno jadi salah satu motivasi ku, ketika beliau bilang "untuk lulus tahsin II tidak semudah lulus tahsin I, ada yang sampai 2 tahun tidak bisa naik, tapi nanti kalo sudah lulus tahsin II, bisa lanjut ke takhossus atau langsung tahfidz. Di kelas takhossus atau tahfidz inilah kunci mengikuti dauroh syahadah untuk bisa mendapat sertifikat pengajar tahsin" ya kurang lebih seperti itu kata kata ustzh. Retno. Aku merinding waktu denger itu, ditambah lagi waktu aku liat di lingkaran holaqoh sebelah, ternyata ustazah nya masih muuuuuuuudaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa bangetttt... itu bener bener yahh.. bener bener Subhanallah.. dan ternyata, yang ngajar tahsin II suami ku juga masih muda, secara dia aja masih berstatus OJT di Kemenkeu, yang artinya kemungkinan usia nya masih sekitar 23-24an. Muda dan berjaya menurutku. Subhanallah.. AllahuAkbar. Aku jadi makin termotivasi, aku yakin bahwa jika kita mau serius belajar dengan terus membenahi niat didalam hati, pasti Allah akan memberi kemudahan pada kita untuk dapat meraih apa yang kita cita - cita kan. Hmmmmm pertemuan pertama yang menginspirasi, semoga di pertemuan pertemuan berikutnya akan makin menginspirasi, terus istiqomah dan tentunya berkah. Aamiin Ya Rabb.. Aamiin ^__^ 

Yiaaaaaaaaayyyyy!!! Aku Luluuuuuuuuussss




Alhamdulillahirobbil'alamiin.. Minggu kemarin itu adalah minggu yang menyenangkan buat aku. Kenapa eh kenapa? karena eh karena -kaya lagu nya Bang Oma- AKU LULUS TAHSIN I dan NAIK KE TAHSIN II Ayyyeeeeeeeeeeeeee.. ups! Alhamdulillah maksutnya. Kenapa sih kok seneng banget naik kelas Tahsin aja. Jadi begini ceitanya. Semua ini berawal dari kegiatan suami. Dia dari sebelum nikah udah belajar tahsin. Apa sih tahsin itu? tahsin adalah memperbaiki bacaan Al-Qur'an. Jadi kalo belajar tahsin ya artinya belajar memperbaiki bacaan Al-Qur'an. Itu berarti buat mereka yang belum bisa baca Qur'an gitu? Hmmmmm... Jadi, target dari belajar tahsin adalah, membaca dengan lancar dan membaca dengan benar. Jadi membaca lancar saja belum cukup. Yang terpenting adalah sudah benar apa belum bacaannya.

Berawal darisitulah, akhirnya aku juga ikut belajar Tahsin. Kami pertama belajar di YISC (Youth Islamic Student Center) Al Azhar Blok M. Disana kami belajar tahsin menggunakan metode Balqis. Terus terang, disana metode belajar nya enak. Tim pengajarnya mumpuni, dan juga ga cuma belajar tahsin aja, tapi juga SII alias Study Islam Intensif, ditambah dengan kegiatan kegiatan lain yang tentu akan menambah ilmu kita tentang islam, menambah pengalaman kita dalam berorganisasi juga. Tapi aku kurang cocok disitu, bukan karena apa - apa. Karena waktu nya saja yang aku kurang cocok. Dari pagi sampai siang, aku sampe rumah itu sore. Ga tau kenapa -mungkin karena kecapekan, karena faktor U kalee- selalu setelah aku pulang ngaji, pasti sakit! Heran! makanya aku jadi ogah - ogah an deeeeh berangkat ngaji nya. Karena keseringen ga berangkat ngaji, jadilah aku ga ngerti dengan tahsin itu apa, bacaan ku bener apa ga, gara - gara keseringen bolos siiiiii.

Setelah itu, di masjid An Nashr Bintaro tempat biasa aku sholat -sambil nunggu jemputan suami biasanya- ga sengaja aku baca spanduk bertuliskan "Membuka pendaftaran siswa baru program Tahsin untuk ikhwan dan akhwat blablablabla..." yang disitu juga tertera nomor handphone untuk pendaftaran. Aku langsung aja mengirim SMS dengan format pendaftaran yang sudah ditentukan. Aku daftar buat aku sendiri dan suami ku. Kebetulan di AA (Al-Azhar) suami sudah lulus, dan aku?!? aku ga lanjut ke semester berikutnya heheeeee. Jadi kami pindah tempat ngaji nya. 

Tibalah saat placement test. Aku diminta membaca sepotong - sepotong ayat yang ditunjuk oleh penguji. Entah apa maksutnya, mungkin dari situ bisa dilihat aku cocok untuk masuk kelas mana. Oh iya, for your information yaaa dulu waktu di AA, aku masuk kelas C. Katanya siii kelas C itu kelas yang bagus, jadi urutan ke-bagus-annya itu mulai dari A,B,C dan aku dapet kelas C, Alhamdulillah.. Uhhhhuuukkk -tetep aje ga pernah berangkat!! hufhhh (_ _#)-. Seminggu kemudian keluar pengumuman, aku masuk di kelas nya Ustzh Widya. Dan saat itu diadakan kuliah perdana. Semacam perkenalan tentang apa itu FHQ (Forum Halaqoh Qur'an) An Nashr. Aku baru tau bahwa tahapan seseorang itu bisa dikategorikan benar bacaan qur'an nya adalah Baghdadiyah (bagi yang masih belum lancar bacaan qur'an nya), Tahsin I, Tahsin II, Takhossus dan terakhir Tahfidz. Aku masuk tahsin I, Alhamdulillah untuuuuuuuuuung g masuk baghdadiyah hehehehe. 

Seiring berjalannya waktu belajar di FHQ An Nashr, aku makin sadar bahwa bacaan Qur'an ku itu superrrrr carut maruttttt. Aku masih salah dalam pengucapan huruf Ghoin, Dza, Kho dan masiiiiiiih banyak lagiiiii -malunya sayaaahhh, saya kira selama ini bacaan ku udah oke oke aja hikssss-. Belum lagi kalo ngomongin ghunnah, Wow!! makin kosong melompong lah saya. Jangankan ngomongin ghunnah, wong kalo baca aja suka dibelakangnya itu seperti ada hamzah nya. Misal harusnya A, Ba, Ta ,Tsa.. itu dibaca A', Ba', Ta', Tsa' dll, kata guru nya si itu kesalahan yang sudah umum karena kebiasaan pengajaran membaca Al-Qur'an di TPA TPA sejak kecil dulu. Ahhhh intinyaaa bacaan ku yang aku kira udah bener, itu semua salah sodara sodara. Bacaan ku masih carut marut. Tapi Alhamdulillah, aku menemukan tempat yang pas dan cocok untuk belajar. Pas waktunya (cuma dua jam dari jam 7 sampe 9 pagi), pas lokasi nya (deket cint dari rumah), pas metode belajarnya, pas juga biaya kuliahnya hahahahahaha..

Satu semeseter belajar tahsin disitu, sedikit demi sedikit bacaan ku mulai terdengar "agak" bener heheee. Makhrojul huruf (tempat keluarnya huruf) sudah bener. Sudah bisa membedakan kho dengan gho. Sudah bisa membedakan Shod dengan sin. Sudah bener ghunnah nya. Sudah mengenal bacaan bacaan ghorib. Sudah bisa membaca huruf muqatha'ah, sudah bener mad nya, sudah mulai sensitif ini telinga ketika mendengar orang lain membaca Al-Qur'an dan ghunnah nya belum bener, huruf ba dan jim nya masih keluar nafas -harusnya ga keluar nafas-. Pokoknya jadi sensitiiiiiiiiiiiiif banget hahahahaha. Dan tibalah saat nya UAS -sebelumnya dah ikutan UTS dan aku dapet nilai 95 yeyeyeyeyeyeyyyyyy!!! Alhamdulillah :D -. Waktu UAS ini terus terang aku ga belajar. Soalnya waktu itu bertepatan dengan jadwal long holiday sih wkwkwkwkwk -alesyannn- jadilah aku belajar hanya semalam, dan keesokan harinya waktu ngerjain soal tertulis nya aku ng-Blaaaaankk!! Whaaatttt Help Me Allah.. hikssss. Soal tertulis aku kerjakan se-inget- ku aja. Waktu ujian tilawah Alhamdulillah, aku yakin nilainya jauh lebih baik daripada nilai ujian tertulis ku.

Aku ga tau apakah aku lulus dan naik kelas atau ga. Yang jelas, aku pengeeeeeeeeeeeeeen banget naik kelas ke Tahsin II. Aku penasaran, kaya apa sih Tahsin II itu, perasaan di Tahsin I aku udah dapet materi yang lengkap kap kap. Dan Alhamdulillah, pengumuman pun tiba. Berbekal pinjem mata nya tante cepe heheee maksutnya tante cepe yang ngeliatin pengumuman, dia ngabarin kalo aku lulus dan naik ke Tahsin II dengan ustazah Retno. Suami ku juga lulus dan lanjut ke Tahsin II. Alhamdulillah ya Allah.. semoga ilmu kami bermanfaat dan makin cinta pada surat cinta-Mu. Aamiin :-*

Senin, 10 Februari 2014

Suguhan sederhana Vs Gengsi

Aku sementara tinggal di sebuah komplek kontrakan yang terdiri dari beberapa rumah di daerah Ceger, Pondok Aren. Tetangga tetangga ku (dulu sebelum mereka pindah) mayoritas adalah PNS di lingkungan Kemenkeu (lulusan STAN semua nyah). Tapi sekarang, dari 20 rumah, cuma 9 aja yang bekerja di kementerian keuangan (mayoritas dejepeh). Kontrakan ku ini termasuk kontrakan yang murah meriah, dengan lingkungan sekitar yang paling aman, nyaman dan strategis. Latar belakang sosial para penghuni nya juga macem macem. Ada yang berada, ada juga yang biasa. Tapi satu hal yang bikin aku betah berada di kontrakan ini. Karena tetangga tetangganya friendly banget. Antara yang ber"punya" sama yang "biasa" itu ga ada jarak. ga sok pamer dengan apa yang dimilikinya, ataupun minder dengan kondisi kehidupannya. Kita udah kaya saudara, ga ada iri iri an, kalo lagi kumpul kumpul di depan, ngobrol, yang diobrolin masalah global, dan jauh dari gosip! aku suka banget.

Berawal dari suka ngobrol ngobrol santai antar ibu ibu itulah, aku jadi punya ide buat ngadain semacam "majelis taklim" disini, lagian khan para bapak bapak udah lebih dulu punya agenda bareng bareng yaitu badminton-an, jadiii kita para ibu ibu kece ga mau kalah juga dooonk. Alhamdulillah, responnya positif, dan akhirnya bulan Desember lalu dimulai lah acara pengajian nya. Pengajian diadakan dua minggu satu kali, diadakan pada hari minggu jam 4 sore, dan untuk tempatnya, digilir antar rumah, sedangkan untuk yang mengisi kajian adalah ibu T yang juga tinggal disini. Prinsip awal aku mencetuskan ide ini adalah karena ingin agar kumpul dan ngobrol ngobrol nya ibu ibu disini lebih berbobot, menambah ilmu yang nantinya bisa diaplikasikan di kehidupan nyata. Cuma itu aja, jadi waktu ada salah seorang ibu yang minta untuk diadakan arisan sekalian, aku dengan halus menolak. Aku takut, niat kami nanti nya berubah, dari yang awalnya ingin "ngangsu kawruh" jadi "ngarep dapet arisan", waaahh khan parah kalo udah niatnya gitu. Selain itu, aku juga ga menetapkan iuran sekedar untuk mengisi kas. Justru dulu ada usulan kalo untuk konsumsi nya, tiap orang bawa camilan aja saat acara. Jadi khan nanti terkumpul banyak camilan dan bisa dimakan bareng bareng. Selain ga ngerepotin orang yang ketempatan, juga bisa irit -tetep yeee! irit gitu loh -__- -. Tapi untuk usul yang satu ini, ternyata ga jalan. Ibu ibu dateng dengan lenggang kangkung tangan alias ga bawa apa apa hehehehe -yagapapa juga siiieyyy-.

Acara pengajian dimulai, waktu ngaji pertama kali diadain di rumah ibu F, suguhannya wajar dan tetap menyenangkan. Gorengan ditambah dengan irisan buah mangga -ngiler mbayangin mangga yang manis.. yummmmmmyy-. Kita semua hepi ngikutin acara pengajian tersebut. Santai tapi berisi. Kajian kali ini membahas hadist arbain nomer satu yaitu tentang NIAT.  Dua minggu kemudian, kita kumpul lagi di rumah ibu S. Seneng deeh karena personil yang pada dateng tambah banyak, horayyy!! Suguhan kali ini -suguhan terus yang dibahas! yaiyalah judulnya juga tentang suguhan :D - buanyakk banget, diluar ekspektasi ku yang cuma berharap dapet gorengan bakwan nyamnyamm -bakwan is the best gorengan in the world yaa-. Ibu S memberi suguhan brownies, pastel, onde onde, gorengan -teteup ada yeyeye-, ditambah dengan dua mangkuk bakso untuk tiap orang. Aku seneng -yaiyalah secara tinggal makan, enak enak lagi :D makasih ibu S :D - , tapi dibalik hidangan yang menyenangkan tersebut, ada yang hal yang bikin aku mikir. "suguhan seperti ini bahaya kalo dijadikan patokan" -pemikiran yang LEBAI, tapiiii BENAR (menurut gueeh hehe)-. Aku takut kalo ibu ibu berpikiran bahwa ketika nanti mereka ketempatan pengajian, maka suguhannya harus seperti di rumah ibu Situ -perasaan gue aja ga sii (_ _#)-. Waaaaah gawat kalo mereka berpikiran seperti itu. Iya kalo pas mereka lagi ada dana, kalo engga?!? kasian khan?!? bukannya hepi karena mau ketempatan, malah jadi beban. hmmmm... makanya nih, harus segera dilurusin yang beginian. Maka untuk pertemuan berikutnya ketika diadakan di tempatku, aku kembali hanya memberi suguhan gorengan dan air mineral kemasan -bukan A*ua-. Semoga setelah dari tempatku ibu ibu yang belum mendapat giliran ketempatan jadi berpikir "mba Ambar juga cuma ngasih suguhan seadanya, jadi ga perlu muluk muluk yaa nyuguhinnya". Mereka sekarang memiliki pilihan, apakah akan memberikan suguhan yang istimewa atau seadanya saja? itu hak mereka, kami sebagai tamu insyaAllah ikhlas ikhlas saja -yaiyalaaa maaak, kalo protes ya namanyaaaa.... terusin aja sendiri-. Kembali lagi pada tujuan awal diadakan pengajian ini khan adalah untuk ajang silaturahmi dan menambah ilmu. Jadi suguhan itu hanya "penyemarak" aja. Ketika ada Alhamdulillah.. ketika ga ada ya innalillah hehehehe.. Apakah kalo hidangannya istimewa trus ngajinya otomatis langsung pinter? atau kalo hidangannya biasa aja ya jadi mengurangi kemampuan kita menyerap ilmu? ga juga khaaaan? -tapi kalo lagi laper ngaruh juga sie heheee #plakk-.

Memuliakan tamu adalah salah satu ajaran Islam. Rasulullah SAW bersabda Barang siapa beriman kepada Allah dan hari Akhir, hendaknya memuliakan tamunya” HR. al-Bukhâri dan Muslim Imam Ahmad rahimahullah. Namun memberi jamuan istimewa kepada tamu bukanlah satu satu nya cara dalam memuliakan tamu. Islam juga mengajarkan dalam menjamu tamu untuk tidak takalluf -Takalluf artinya pemaksaan diri dan pengusahaan diluar batas kemampuan dirinya atau bahasa gampangnya adalah Mmmmaaakkksaaa :D Imam Al-Hâkim meriwayatkan dari A’masy dari Syaqîq, ia berkata : "Saya dan temanku mendatangi Salmân Radhiyallahu ‘anhu. Kemudian ia menyuguhkan roti dan garam kepada kami seraya berkata : "Seandainya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak melarang kami untuk berbuat takalluf, niscaya saya akan mengusahakannya”Jadi, ibu ibu muliakanlah tamu kita semampu kita bisa. Ga perlu memaksakan diri hanya karena takut ga enak sama orang lain mungkin, karena tetangga nya menghidangkan A,B,C,D sedangkan kita hanya mampu menghidangkan A dan B. Setiap amalan tergantung dari niatannya. Begitupun ketika kita memberi suguhan terhadap tamu. Sekarang tinggal kita periksa kembali apa niatan kita saat memberi suguhan pada tamu kita. Kenapa jadi kaya guwehh yang lagi ngasih tausiyah nih? hahayyy.. semoga manfaat deh yaaa :-*


Minggu, 09 Februari 2014

Muludan di Kantor

Judul postingannya rada-rada gimanaaa gitu ya. Kata "Muludan" biasa dipake sama orang orang di kampungku untuk menyebut peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Dari kata Maulid, kemudian entah bagaimana awalnya bisa menjadi muludan -disesuain lidah kali yeee-. Biasanya dulu waktu kecil, acara maulid Nabi di sekolah ditandai dengan diperintahkannya para siswa untuk memakai pakaian muslim dan membawa TAKIR. Apa lagi itu takir?!?! Takir adalaaaah bekal makanan yang nanti bakal kita makan bersama sama didalam kelas. Biasanya para orang tua bakalan mempersiapkan takir yang Bombastis -menurut mereka sih heheee- supaya anak anaknya bangga nanti ketika membuka telkem -kotak makanan- mereka. Lalu bagaimana dengan saya?? takir yang paling saya favoritkan adalah nasi, ind*mie goreng dan telor ceplok. Hahayyyy serasa menu ini adalah menu paling jossss di dunia.

Pembukanya segitu aje yee, sekarang aku mau cerita tentang pengalaman peringatan maulid Nabi Muhammad SAW pertama kali di kantor pusat DJKN ini. Acara diadakan di aula Lt.5 KPDJKN. Dimulai dengan sholat Ashar berjamaah kemudian dilanjut dengan tausiyah dari Ustaaaaaadzzz -mikir lama! lupa nama ustadz nya!?!?!- ah bukan hal yang terpenting mengingat nama ustadz nya, yang penting adalah snack nya -upsss!! ngaswurr- maksutnya yang penting adalah kita ingat dengan nasihat yang disampaikan oleh beliau. Gitu maksutnyaaa (_ _#).

Peringatan maulid Nabi Muhammad SAW kali mengambil tema Keteladanan Rasulullah Saw Mantapkan Nilai Nilai Kemenkeu Guna Mendukung Transformasi Kelembagaan Djkn. Aku suka dengan tema ini, apalagi awal kalimatnya "Keteladanan Rasulullah SAW". Memang benar, bahwa di dalam diri Rasulullah SAW telah terdapat contoh yang baik. Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu uswatun hasanah (suri teladan yang baik) bagimu” (QS. Al-Ahzaab: 21). Hendak menjadi apapun kita, apapun peran kita, maka sudah sepatutnya Baginda Nabi Muhammad SAW menjadi suri tauladan bagi kita. Tidak terkecuali dalam hal pekerjaan. Beliau mencontohkan bagaimana menjadi seorang kepala pemerintahan, kepala negara, pemimpin perang dll. Kata Pak Ustadz, Rasulullah saat menjadi kepala negara sekaligus kepala pemerintahan itu, yang Beliau bangun adalah LEMBAGA. Maksutnya apa?! maksutnya, yang diperkuat oleh Rasulullah SAW adalah orang orang yang berada disekitarnya, yang membantu beliau dalam pengurusan negara. Dan.. Beliau tidak sembarangan dalam memilih orang. Untuk masalah kewirausahaan dan ekonomi, beliau memiliki Abu Bakar Ash Shidiq seorang wirausahawan yang dermawan. Ia pun memiliki Abdurrahman bin Auf yang juga pandai dalam berdagang. Untuk masalah strategi perang, ia memiliki Umar bin Khattab. Sehingga tidak semua urusan dikerjakan oleh beliau sendiri. Tujuannya adalah jika beliau wafat kelak, maka negara akan tetap prima, karena beliau telah mempersiapkan kader kader yang mampu meneruskan kepengurusan negara. “Rasulullah SAW dalam membangun negaranya tidak sendirian, Beliau membangun bersama jamaah dan diantara jamaah itu ada orang yang kuat-kuat (ahli-red) ” begitu yang disampaikan oleh Pak Ustadz -yang masih belum inget siapa namanya -___- -
Gambar ambil di web DJKN

Sama halnya dengan kita, ketika kita bekerja, menjadi seorang pemimpin kelak, maka bangunlah lembaga, dengan memilih orang orang yang ahli dalam bidangnya -ga asal comot- dan bersinergi untuk kemajuan bersama -haseeeeek bahasanya-. Pada akhir tausiyahnya, Pak Ustadz menyampaikan bahwa “Keberkahan itu adalah ketika kinerja kita secara kelembagaan bukan individualis, karena kesolehan seseorang, meskipun dia adalah seorang pemimpin, tidak akan memproduksi kebaikan jika tidak dilakukan secara kelembagaan,”.

Itulah sekelumit cerita tentang peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di KPDJKN tahun ini, mudah mudahan kelak ketika aku, kita, menjadi pemimpin dapat mencontoh kepemimpinan Baginda Nabi Muhammad SAW. Aamiin :)
Gambar diambil dari web DJKN juga :D


Noted : aku dah tauuuu nama Pak Ustadz nya. Namanya Ustadz Ahzami Samiun Jazuli. Makasih ya pak untuk tausiyahnya :D

Senin, 03 Februari 2014

Postingan ini awalnya ga pake judul, karena memang aku sendiri ga ngerti mau dikasih judul apa yang pas buat postingan kali ini. Aku mau cerita aja, perasaan yang duluuu aku pernah rasain, dan ternyata ga cuma aku yang ngerasain, salah satu saudara baru ku disini juga merasa yang sama. Sebut saja namanya mba Ifa -loh?!?!?! emang itu namanya heheeee-

Ini adalah perasaan yang sempat dialami oleh para istri yang jetleg -tau deh bener ga' tulisannya.-. Maksutnya tuh ngerasa kaget, karena perbedaan aktivitas sebelum dan sesudah menikah. Aku dan mba Ifa -dan mungkin masih banyak para istri istri lain- awalnya bekerja. Aku di Telkom sedangkan mba Ifa ngajar di salah satu SMP negeri di Purbalingga. Setelah menikah, kami yang sama sama dari Golden water city hijrah mengikuti suami yang -sama sama- bekerja di Jakarta dan -sama sama- bekerja di Dirjen Pajak, dan sekarang -sama sama- dapet D4 serta -sama sama- berada di kelas 8A -jodoh bangetttt kali ya suami kita mba (_ _#) - back to the topic yeyy! jadi setelah menikah profesi kita berganti 180 derajat menjadi fulltime housewife -uwoooww ini cita cita guweh banget waktu masih kerja dulu-. Tapi ternyata dibalik keinginan kuat menjadi fulltime housewife, ada satu hal yang kami berdua merasa kehilangan. Apa itu?! entar dulu ah,, pasang foto dulu heheee..
mba ifa udah hamil, aku belum, semoga sebentar lagi. Aamiin ;)
Jadi, waktu kerja dulu khan kami berpenghasilan sendiri, mau beli apa apa, atau mau kasih apa pada siapa itu tanpa pikir panjang, langsung aja beli atau langsung aja kasih. Tapi setelah ga kerja dan "dipasrahi" tanggungjawab atas penghasilan suami, sudah ga bisa sebebas dulu lagi kalo mau beli hal hal keinginan pribadi. Bukan karena suami kita ga ridlo atau ga kasih uang untuk membeli apa yang kita inginkan, tapi ada rasa "malu" kalo semena mena dalam berbelanja. Ya kalo belanja nya kepentingan bersama, nahhh kalo belanja nya kepentingan pribadi yang cuma sekedar "keinginan" bukan "kebutuhan"?!? hedddeeeehhh maluuu doooonk, ga amanah! itu menurut aku, dan ternyata mba Ifa juga merasa hal yang sama! -yeeee kita samaaa, Toss dulu dahh-. 

Maka dari itu, aku berniat untuk bisa memiliki penghasilan sendiri, jadi kalo mau foya foya atau ngeluarin duit buat hal hal yang rada ga penting :P itu ga merasa berdosa. Dan Alhamdulillah, Alloh mudahkan niat aku, aku diberi kesempatan olehNya untuk ngajar di salah satu bimbingan belajar di Bintaro. Jam kerjanya enak, cuma dari jam 2 siang sampai sebelum maghrib, atau kalo sesi nya padat ya sampai setengah 8 malam lah. Penghasilannya?!? lumayyaaannnnn banggettttt hehehehe. Mba Ifa yang pada saat itu sudah hamil memang belum bisa mencari kegiatan lagi, walau aku tau dia juga udah pengen kerja. Tapi sekarang dia dah memulai bisnis jualan pakaian bayi nya, sambil ngurusin si kecil cacacaca yang lucuuuu.

Intinya apa sih postingan ini? intinya.. buat aku pribadi, aku berusaha untuk bisa bijak dalam mengatur keuangan negara keluarga maksutnya. Penghasilan yang suami pasrahkan pada istri itu bentuk amanah, jadi jangan dipakai semena mena. Bijak dalam berbelanja! Nah.. masih menurutku nih ya,, ada baiknya kalo istri punya penghasilan sendiri lhoo, tanya kenapa?! karena kalo mau foya foya jadi ga ngerasa bersalah hahahaha -alasan yang g masuk akal!!!- maksutnya, ya lebih merasa mandiri aja kalo kita punya penghasilan sendiri, tidak selalu tergantung pada penghasilan suami. Caranya supaya punya penghasilan gimana? ya kerja laaaah!! Alloh tuh dah kasih kita potensi, ya dimanfaatkan. Kerja ga harus dikantoran kok, bisa ngajar, wirausaha, dll. Yang penting manfaat dan yang pasti suami Ridlo. Itu penting! ;)

Ending buat tulisan ini apa ya.. mmm ya!! kesimpulan!! apa kesimpulannya? silahkan simpulkan sendiri, dan kesimpulan yang paling bagus dan mengena akan dijadikan judul atas postingan ini. Hahahahahaha

When my dreams come true #sesi 2

"Setelah menikah, aku mau langsung ikut suami. Aku mau resign dari kerjaan ku, dan nyusul dia ke Jakarta". Ya, dari awal menikah aku memang sudah meniatkan diri untuk pindah dan hidup bersama suami di Jakarta. Konsekuensinya adalah aku harus rela melepaskan pekerjaan ku saat ini. Mungkin jika diliat dari status ku yang masih berstatus "pegawai kontrak" di salah satu BUMN terkemuka, bukanlah hal berat untuk melepaskannya. Hal yang justru membuat berat meninggalkan pekerjaan ini adalah karena memang aku mencintai pekerjaan ini. I Love my job! selain itu, rekan kerja yang sudah aku anggap seperti keluarga ku sendiri juga menjadi salah satu alasan lain yang membuat ku berat untuk keluar atau resign.

Banyak yang menyayangkan keputusanku untuk resign, bahkan atasan langsung ku sendiri pun bilang "apa ga bisa mba, mas nya aja yang pindah kesini?", hhhhh seandainya pak.. seandainya bisa seperti itu mungkin aku merasa menjadi orang yang paling bahagia -saat itu-. Gimana engga?! Udah kerja di kota kelahiran yang nyaman, kantor yang enak, dengan suasana kerja enak, orang orang yang baik, ditambah suami yang juga bekerja satu kota dengan ku. Lengkap khan?!? aahhh memang yaa, kata kata "seandainya" itu bisa melenakan kita. Makanya hati hati kalo menggunakan kata itu, karena condong pada hayalan belaka.

Awalnya, keluarga ku pun berharap agar setelah menikah aku bisa tetap tinggal di Purwokerto, dan tidak resign dari pekerjaan ku sekarang. Kata mereka "opo ga eman eman mba? golek kerjo sing penak saiki angel lho" -Apa ga sayang mba? cari pekerjaan yang enak sekarang susah lho- begitulah kira kira artinya. Tapi Alhamdulillah, dengan hanya diberi sedikit pengertian, ibu ku paham dengan putusan ku "InsyaAlloh rejeki ga bakal ketuker bu. Wong ambar niat nikah ki ben bisa bareng bareng mbek bojo, nek pisahan yo podo wae koyo g duwe bojo" -InsyaAlloh rejeki ga akan ketuker bu. Niat ambar menikah itu memang untuk bisa bareng bareng sama suami, jadi kalo pisahan ya sama aja kaya ga punya suami donk".

Dan ternyata benar, setelah satu setengah tahun menikah, aku kini mendapat pekerjaan yang semoga lebih baik dari pekerjaan ku yang dulu. Lebih berkah dan lebih manfaat. insyaAlloh.. terimakasih ya Rabb..

Enjoy the traffic

Hidup di kota besar seperti Jakarta ini memang butuh effort yang cukup lumayan. Segalanya ga bisa diprediksi. Salah satu nya arus lalu lintas. Seperti yang sering aku alami.

Pernah suatu senin,kami prediksi bakal macet, dan mental kami sudah kami seting ke "TL 1" -istilah terlambat 30 menit pada instansi kami-. Tapi ternyata, diluar dugaan,, kami sampai di kantor pukul 7:10. Wawww..

Ga berhenti sampai disitu, ketika jam pulang kantor tiba, kami pun kembali mensetting diri ini untuk sampai tujuan terlambat,yaaah jam 7 malam kami prediksikan. Namun lagi lagi itu lah jakarta, tanpa disangka sebelum maghrib pun kami sudah sampai. Waah Subhanalloh.. Alhamdulillah.

Keesokan harinya, kami berharap keberuntungan kami kemarin masih berlanjut sampai esok hari esok dan keesokan hari. Namun apa daya, dengan waktu pemberangkatan yang sama, sampai ditempat tujuan tidak sama. Bisa molor sampai 1 jam. Keren!! Benar benar luar biasa traffic disini,mungkin hampir sama dengan hati wanita yang sulit diprediksi -haisyahhhh ;)-
make jalur transjak, tetep aje macet hehee...