Tampilkan postingan dengan label CeritaTentangMereka. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label CeritaTentangMereka. Tampilkan semua postingan

Rabu, 16 Juli 2014

masih tentang DeTeU

Cerita ini masih membahas tentang DTU. Sepuluh hari yang kami lewati bersama - sama. Sepuluh hari dimana Allah beri aku kesempatan untuk mengenal teman - teman se-angkatan. Ga nyangka aja aku jadi kenal sama yang namanya Bang Sam, kalo liat dari perawakannya ni, dia cocoknya masuk TNI bukan masuk Kemenkeu hehee.. tinggi besar dan terkesan serem -i'm sorry Bang Sem :D-, tapi siapa sangka dibalik ke"serem"annya itu, ternyata orangnya kocak abis. Dan satu momen yang membekas bareng dia adalah ketika aku menciptakan image "tori -tori" buat dia. O..ooww sekali. Maapin ya Bang, jadi menciptakan image baru deh buat kamu :D.

Lalu cerita tentang teman sekamar aku. Namanya Chairunnisa. Namanya bagus, sebagus dan sebaik orangnya. Awalnya sama seperti Bang Sem, aku ga kenal siapa dia -Pokoknya yang aku kenal cuma anak - anak sekretariat ajah,, yang lain cuma tau nama :D-. Nisa -waktu itu aku masih manggil dia "Nisa"- itu orangnya perhatian banget ke orang lain. Aku suka banget tipe orang kaya dia. Simpel, sederhana, ga banyak omong, ga suka show off, tapi langsung take action. Mantap banget ni orang satu pokoknya. Sabaaaaaar banget ngadepin aku yang waktu itu lagi masa - masa nya emesis. Tiap pagi dia harus ikhlas disuguhi menu lagu "hoek - hoek" ku. Sabar banget  waktu dateng jam makan, ngambilin makanan buat aku, sampe - sampe bikin gosip kalo aku itu harus makan satu meja sama si Cliff biar ga muntah. Oh my God, kalo yang ini lebay banget emang... 

Ni cewek tuh entah apa namanya ya, dia tuh manis cantik, selalu hair dryer-an dan catokan, tapi kalo udah jalan kok ya jadi macho gitu. Bahkan temen - temen cowok bilang kalo si Nisa lebih macho dibandingkan satpam di KNPK hahahaha.. Banyak yang aku pelajari dari dia, sampai saat ini, orangnya tetep baik, tetep care,, tetep simpel. Thank's ya chaaaa -panggilang kesayangan sekarang adalah Icha hahaaa- makasih buat semua yang udah kamu kasih buat aku,, maaph - maaph kalo sering banget ngerepotin kamu kemarin ;)

Masih banyak lagi cerita - cerita lain yang aku alami disini bareng temen - temen, walau ga bisa nyebutin satu - satu nama dan kebaikan mereka, bukan berarti mereka tidak spesial. ke-tujuh puluh satu- teman teman KN'ers semuanya spesial. Mereka tangguh, mereka kompak, mereka ga menye - menye, mereka patut dibanggakan, dan yang jelas mereka ga kalah dengan teman - teman Ditjen lain.

Special thank's pastinya kami para KN'ers tujukan kepada para pelatih dari Yonarhanudse TNI AD, Pak Bayu, Pak Bedrik dan Pak Supri. Berkat didikan dan nasehat yang ga pernah lelah mereka berikan, akhirnya kami yang semula tidak saling mengenal bisa menjadi begitu akrab. Kami jadi mengerti tentang kebersamaan, bahwa apa yang dikerjakan oleh satu orang bisa berdampak pada teman yang lain. Terimakasih banget pokoknya pak sudah mengajarkan kami arti l(r)oyal, mengajarkan kami lagu - lagu penyemangat, ngajarin kami untuk ga elek - elekan dan yang jelas mengajarkan kami gerakan "Sikap pokok" :)


Selasa, 27 Mei 2014

it's called Hidayah

Sebelumnya aku mau ngucapin "Barakallah" untuk teman se-ruangan ku yang mulai hari senin kemarin menggunakan jilbab. Alhamdulillah,, semoga Allah senantiasa memberi ke-istiqomahan dalam berjilbab, makin berkah hidupnya. Aamiin.

Ngemeng - ngemeng tentang pengalaman pertama kali berjilbab, aku memang selalu penasaran dengan "apa" yang menjadi alasan seseorang untuk ber"hijrah". Kalo temen ku ini, dia memang sudah terbiasa saat pergi bersama mama dan neneknya selalu menggunakan jilbab, tapi memang belum konsisten, sampai dengan hari senin kemarin, akhirnya dia putuskan untuk konsisten dalam berjilbab. Alhamdulillah..

Tiap orang memang memiliki alasan masing - masing dalam berjilbab,, ada yang karena paksaan orang tua, ada yang karena dari sekolah nya yang mewajibkan setiap siswa putri untuk berjilbab, ada juga yang karena "sindiran" dari teman SMP nya hahahahaha. Kali ini ijinkan aku bercerita yaa tentang pengalaman pertama berjilbab ku -ihhikkk-.

Awal pertama mengenakan jilbab adalah ketika aku duduk di kelas 1 SMA semester 2. Itu terjadi kira - kira tahun 2003 yang lalu -ketahuan banget yeeeyyy berapa umur eike sekarang (_ _#)-. Seperti biasa, setiap hari Jum'at disaat para siswa laki - laki melaksanakan sholat Jum'at, maka siswa putri dengan dikoordinir oleh Rohis mengadakan acara keputrian. Semacam holaqoh yang wajib diikuti oleh seluru siswi kelas 1. Saat itu yang bertugas menyajikan materi tausiyah adalah dari kelas 1 NA 2 dan si pemateri membawakan materi dengan judul "Jilbab". Disepanjang acara keputrian itu entah kenapa aku ga bisa berenti nangis ketika temenku itu membawakan materinya. Aku nangis sampai sesenggukan yang aku sendiri ga tau apa sebabnya, yang jelas didalam hati aku merasa bahwa, aku rindu, rinduuuuuuuuuuuuuuuuuuuu sekali untuk bisa mengenakan jilbab. Perasaan aneh yang entah datangnya darimana, seolah - olah ada yang menusukkk tajam di hati setiap kali aku mendengar kata "jilbab". Aku terus menangis tanpa mempedulikan seisi ruangan. Aku sampai tidak tahu, apakah seisi ruangan itu memperhatikan ku atau tidak. Aku merasa sendiri, menikmati tangisan ku, menikmati rasa rindu yang ada dalam hati ku. Apakah itu hidayah? entahlah aku juga ga paham. Percaya atau tidak, aku menangis tersedu padahal aku sendiri ga ngerti apa isi materi yang dibawakan saat itu. Yang jelas, yang aku rasakan adalah "Aku ingin berjilbab. Saat itu juga. Sesegera mungkin. Titik!!".

Sepulang dari acara keputrian, aku curhat pada seorang kakak kelas yang kini sudah kembali menghadap Allah (Semoga Allah mengampuni segala dosanya, menerima segala amal ibadahnya dan ditempatkan di tempat yang terbaik disisi-Nya. Aamiin). Aku cerita bahwa aku ingin berjilbab. Tapi aku ga punya baju seragam, secara saat itu baju seragam ku sudah dibuat lengan pendek semua -lha gimana engga' baru juga satu semester dipake-. Ga ada niat apa - apa, cuma pengen curhat aja saat itu. Keesokan hari nya, aku diajak ke kos-an dia, di kamar nya sudah di jereng dua pasang seragam OSIS, satu seragam pramuka dan satu seragam olahraga. Semua nya adalah seragam lengan panjang. Subhanallah,, Walhamdulillah.. aku ga nyangka, segitu perhatiannya dia sama aku, sampai - sampai dia cari orang yang mau menyumbangkan baju seragamnya buat aku (Terimakasih ya mba,, terimakasih juga yang sudah menyumbangkan seragam nya buat aku). Memang saat itu aku belum bilang sama ortu bahwa aku niat berjilbab, masalahnya aku tau kondisi orang tua ku yang baru aja menghabiskan banyak dana untuk membiayai sekolah ku plus membuatkan seragam buat aku, lahh baru satu semester aku pake masa aku udah minta ganti seragam lagi?!? Tapi Allah menolongku perantaraan kakak kelas ku itu, aku makin yakin dengan istilah "Man Jadda wa jada", aku juga yakin kalau kita bertindak sesuatu ikhlas untuk mendapat ridlo Allah, apalagi ini melaksanakan kewajiban yang jelas - jelas diperintah oleh Allah, pastiiii akan Allah tolong. Dan setelah mendapat seragam itu, barulah aku berani menyampaikan ke ortu tentang niat untuk berjilbab.

Itu adalah sekelumit kisah awal mula aku berjilbab. Dan Alhamdulillah.. sampai dengan detik ini Allah masih menjaga ku, mengistiqomahkan ku untuk tetap berjilbab. InsyaAllah hingga akhir hayat ku. Aamiin.. Mulai saat itu, sedikit demi sedikit aku perbaiki cara ku berjilbab, menyederhanakan dalam berjilbab, menjulurkan sampai menutupi dada, mulai meninggalkan dunia per"celana"an dan lain - lain. Masih dalam tahap belajar memperbaiki diri memang dan semoga Allah beri kemudahan dan keistiqomahan selalu, aamiin. 

Point penting dari semua cerita ini adalah bagaimana hidayah itu datang. Hidayah itu tidak serta merta datang, hidayah itu sama seperti sebuah cita - cita, patut dijemput, patut diusahakan. Allah akan memberi hidayah pada siapa yang Ia kehendaki dan yang menghendaki hidayah tersebut. Jilbab untukku tidak hanya sekedar kewajiban tapi dia sudah menjadi identitas. Identitas seorang Ambar, identitas seorang muslimah. Perbaikan dalam penampilan itu tidak akan ada artinya, tanpa ada perbaikan dari dalam diri orang itu sendiri, maka semoga Allah memudahkan dan membimbing aku -dan kalian- selalu, untuk dapat terus menerus berproses menjadi muslimah yang baik, yang taat. Aamiin ya Allah :)

Kamis, 19 Mei 2011

KUCING


Kami bertengkar lagi. Menurut saya, tetap tiga hari sekali. Tidak bisa diganggu-gugat. Sekali-sekali boleh empat hari sekali. Tapi jangan sampai satu minggu sekali. Meskipun ini bulan Puasa. Itu kan kebutuhan rohani.

Tapi dasar kepala batu. Satu minggu satu kali saja sudah kebanyakan. Katanya dua minggu sekali cukup. Orang lain ada yang sebulan sekali. Apalagi pada bulan suci. Kalau tidak setuju terserah.

Setuju? Bagaimana mungkin saya setuju. Mestinya dia harus bersyukur, sebab setelah puluhan tahun, saya masih tetap fit. Saya selalu hangat, segar dan bertubi-tubi seperti prajurit yang siap menyerahkan jiwa raga untuk membela negara. Tidak ada kata bosan. Semuanya seakan yang pertama kali. Itu kan karunia yang harus disyukuri.
Tapi kontrak tidak bisa hanya satu pihak. Saya jadi pusing tujuh keliling. Lalu saya ngelencer ke segala penjuru kota membunuh waktu. Menunggu saat berbuka, saya masuki toko-toko buku. Mencari-cari yang tak ada. Akhirnya saya beli juga sepuluh buku tua yang harganya jatuh. Bukan karena isinya sudah busuk, tapi karena kalah heboh oleh promosi buku-buku komoditas yang sebenarnya bermutu sampah.

Menggendong seabrek belanjaan yang mungkin tidak akan pernah saya baca itu, saya sebrangi Jakarta. Lalu-lintas sudah makin brengsek. Janji untuk menurunkan rasa nyaman bagi pejalan kaki, ternyata omong kosong semua. Motor berseliweran siap membunuh penjalan kaki yang meleng. Dan mobil-mobil seakan-akan begitu meremehkan harga manusia.

Tapi, saya masih bisa tepat sampai di depan rumah, ketika suara azan magrib terdengar. Cepat saya rogoh kunci dari saku dan buru-buru masuk rumah. Teh kental manis panas, pada bulan Puasa, lebih indah dari rubayat-rubayat Umar Khayyam. Puasa adalah bulan yang paling saya tunggu dalam setahun. Itulah saat saya merasakan nasi adalah nasi, pisang goreng benar-benar pisang goreng dan kehidupan, betapa pun rewelnya adalah sebuah puisi.

Celakanya, rumah kosong. Saya baru ingat, istri dan anak saya ada janji berbuka di rumah saudaranya. Tak apa. Hanya saya tidak melihat ada sesuatu di atas meja makan. Ada vas bunga dengan bunga mawar. Tapi saya tidak bisa menegak mawar. Saya memerlukan sesuatu yang hangat mengalir di tenggorokan setelah menahan nafsu selama 12 jam.

Harusnya saya tidak usah buru-buru pulang. Makan saja di warung sate kambing muda di Cirendeu. Sekarang kalau balik ke situ, tidak akan keburu. Dibayar dua kali lipat juga tukang taksi tidak akan mau jalan. Mereka juga mau menikmati buka.

Dengan kesal saya lemparkan buku-buku ke atas meja. Saya kenakan kembali sepatu. Siap untuk kabur. Biar saya makan enak sendirian di PIM. Mengganyang bebek goreng yang harganya selangit itu. Seratus ribu melayang juga tak apa asal tidak kecewa. Dan kalau perlu terus nonton bioskop.

Tapi ketika mau menutup pintu, saya dengar ada suara kuncing mengeong. Saya bukan penggemar kucing, tapi saya paham sedikit bahasa kucing. Itu bukang ngeong kucing yang sedang kasmaran. Itu kucing yang sedang keroncongan. Kucing memang selalu kelaparan. Tapi itu ngeong kucing yang ngebet makan sesuatu, tetapi tak berdaya.
Dengan hati-hati saya kembali masuk rumah. Saya temukan kucing tetangga mengeong di dapur. Dia meratap lembut di depan almari. Matanya sayu. Ketika saya muncul, dia terus saja mendayu-dayu sambil mencakar-cakar almari, seperti menunjukkan, di situ, di situ.

Saya ikuti petunjuknya, lalu membuka almari. Begitu daun almari terbuka, hidung saya diterjang bau ikan bakar reca-reca yang sedap sekali. Saya lihat juga ada termos dan gelas kosong dengan bubuk teh tarik sasetan di dalamnya. Tinggal diseduh saja.

Ngeong, kucing itu nyeletuk, seperti mengatakan. Nah ya kan?!
Bener, kata saya sambil membelai kucing itu dengan sayang. ”Kalau kamu tidak merintih-rintih kawan, aku tidak akan tahu, istriku sudah menyiapkan segala yang terbaik buat suaminya sebagaimana mestinya seorang istri yang bertanggung jawab. Terimakasih Cing. Untung ada kamu. Kalau tidak, aku tidak pernah tahu, aku sudah punya semua ini. Kau sudah menyelamatkan seratus ribu, mungkin dua ratus ribu lebih yang mau disikat kas bebek goreng penganut neo liberalisme itu!”
Kucing menggesek-gesekkan kepalanya manja ke tangan saya.

”Oke, aku tidak jadi marah, mari kita nikmati hidup ini!” kata saya sambil meletakkan kucing itu di lantai.

Saya buka sepatu. Kemudian menjerang teh tarik. Nikmatnya. Setelah marah-marah, tendangan rasa teh berlipat ganda. Apalagi istri saya tidak lupa menyediakan musuh yang serasi: singkong yang sudah dibalur bumbu sebelum digoreng.

Makanan tradisional dengan bahan baku langsung dari kebun, lebih sehat, lebih aman, lebih murah dan lebih nikmat dari makanan kalengan keluaran pabrik mana pun. Tidak memberi jedah lagi, saya siap mengganyang ikan bakar reca-reca, untuk menghargai karya istri itu.

Tapi begitu menoleh, saya terperanjat. Reca-reca itu sudah lenyap. Pintu almari yang belum sempat saya tutup, seperti kecewa. Mata saya jelalatan mencari kucing. Ternyata sambil mengeram-ngeram, durjana itu mengganyang ikan saya di bawah meja, di depan mata si pemiliknya.

Darah saya langsung mendidih.

”Bangsat!”

Kucing itu terkejut. Sambil melotot, dia caplok ikan itu untuk dibawa kabur. Tangan saya menyambar buku, lalu menembak, tepat mengenai badannya. Khewan itu terjungkal, lalu lari keluar. Ikan reca-reca saya terkapar berserakan di lantai. Tak penting lagi. Saya harus hajar maling itu. Saya sabet sapu dan memburu keluar.

Kucing itu ternyata masih duduk di depan pintu menjilat-jilat kakinya, seperti menunggu kesempatan masuk. Saya geram dan memukul. Kena. Lalu saya tendang dia ke halaman, waktu mau dihajar lagi, piaraan tetangga itu ngibrit lari menyebrang jalan menuju ke rumah tuannya. Marah saya masih meluap.

Saya masuk ke dalam rumah. Lalu reca-reca itu saya campakkan ke tong sampah. Saya tidak sudi makan bekas kucing. Tapi kemudian saya ambil lagi. Saya bungkus baik-baik. Saya buang jauh-jauh, dalam perjalanan ke restoran bebek goreng di PIM. Saya bunuh rasa kecewa dengan berfoya-foya Rp 200 ribu, memperbaiki sore hari yang rusak itu. Tetapi rasa dongkol itu tak berkurang.

Pagi-pagi ada kejutan lagi. Pak RT berkunjung ngajak ngomong serius.

”Saya kira pada bulan Ramadan ini, kita semua harus bisa menahan diri, Pak,” katanya.

”Maksud Pak Haji?”

”Saya mendapat komplin dari Pak Michael, tetangga Bapak, Bapak sudah menzalimi mereka.”

”Menzalimi bagaimana?”

”Beliau terpaksa membawa kucingnya ke dokter, karena Bapak pukul. Apa betul?”

”O, ya, kalau itu betul!”

”Maaf, Bapak mungkin tidak suka dengan kucing, tapi Pak Micahel itu lebih sayang pada kucing daripada anak-anaknya sendiri.”

”O begitu?”

”Ya. Jadi saya kira, Bapak mengerti kenapa beliau sangat shock oleh kejadian ini. Untung tidak perlu operasi. Tapi sekarang kucingnya pincang, Pak.”

”Masih untung hanya pincang, kucing itu mestinya harus mati karena makan reca-reca saya yang disiapkan untuk buka.”

”Namanya juga kucing, Pak. Makanya jangan meletakkan makanan terbuka di meja.”

”Dia curi dari almari!”

”Apa kucing bisa membuka almari, Pak?”

”Ya kebetulan pintunya saya lupa tutup.”

”Ya kalau pintu lupa ditutup, itu bukan salah kucingnya, Pak.”

”Salah siapa? Salah saya?”

”Kucing itu binatang, Pak, tidak bisa disalahkan. Kita yang memiliki kesadaran yang bersalah.”

”Wah itu tidak adil! Kalau ada pencuri mencuri barang saya, meskipun saya lupa mengunci almari, pencuri itu harus dihukum, karena perbuatan mencuri itu melanggar hukum!”

”Memang begitu, Pak.”

”Terus Pak RT mau nyuruh saya ngapain? Minta maaf sama Pak Michael karena saya sudah memukul kucingnya? Tidak! Terima kasih. Kalau disuruh membayar perawatan kucing itu ke dokter, saya bayar, tapi kalau minta maaf, sorry, itu bukan gaya saya, bukan salah saya kan?!”

”Memang itu maksud beliau.”

”Apa?”

”Beliau menuntut Bapak mengganti ongkos berobat kucingnya.”
Pak RT merogoh saku dan mengeluarkan kuitansi. Saya terperangah. Minta ampun. Jumlah yang ada di dalam kuitansi itu membuat istri saya ikut terbakar.

”Kami bukannya tidak punya duit Pak RT,” kata istri saya yang memang cepat naik darah, ”tapi ini soal keadilan. Masa kami disuruh mengongkosi kucing ke dokter padahal binatang itu sudah mencuri reca-reca suami saya? Itu keterlaluan. Kalau perlu ke pengadilan, kita ramein di pengadilan sekarang supaya jelas! Kita ini masih negara hukum kan?!”

Pak RT termenung. Diam-diam saya mengucap syukur. Kucing bangsat itu sudah membuat saya dan istri saya kompak lagi.

”Baiklah,” kata Pak RT kemudian, ”demi menjaga ketenteraman kita bersama dan agar tidak merusakkan kekhusukan bulan Ramadan, saya carikan jalan tengahnya. Begini. Biarlah ongkos perawatan kucing itu, saya yang menanggung. Tapi izinkan saya untuk mengatakan kepada Pak Michael, semua itu dari Bapak. Jadi hubungan keluarga Pak Michael dan keluarga Bapak-Ibu di sini tetap terpelihara. Bagaimana kalau begitu?”

”Kenapa jadi begitu, Pak RT?”

”Ya sebagai RT saya merasa bertanggung jawab untuk mengusahakan perdamaian di antara warga.”

Saya dan istri saya bisik-bisik.

”Kalau sampai pak RT yang bayar, rasanya kami malu juga,” bisik saya.

”Memang. Habis Pak RT terlalu baik sih. Seperti nabi saja.”

”Jadi kami bayar saja?”

”Ya sudahlah, demi Pak RT, biar tidak berkepanjangan!”

Akhirnya ongkos kucing itu ke dokter kami bayar kontan. Pak RT memuji kekompakan kami. Saya pun sekali lagi bersyukur, kucing itu sudah berjasa menjaga keutuhan rumah tangga saya. Kalau tidak ada dia, sampai sekarang saya masih cakar-cakar dengan istri soal tiga kali sekali atau dua minggu sekali.

Kami terpaksa mengeluarkan Rp 200 ribu untuk biaya kucing itu. Jumlah itu cukup besar, tapi tak pernah saya sesali. Sebab sejak saat itu, kucing itu tidak pernah lagi berani masuk ke dalam rumah saya. Apalagi mencuri. Kalau lewat, dia terus saja berjalan lempeng, tak sudi atau tak berani menoleh,

Sekali pernah saya lupa menutupkan pintu. Padahal di meja makan sedang ada ayam goreng yang bau harumnya muntah sampai keluar rumah. Kucing itu pura-pura menjilat-jilat kakinya yang masih pincang. Kemudian dia berhenti dan memandang ke dalam. Tapi hanya memandang. Sama sekali tidak berani masuk. Kakinya yang pincang itu sudah membelajarkan dia untuk menghormati hak saya, sekali pun dia hanya binatang.

”Jadi kalau ada kucing lewat dekat rumah, tidak peduli kucing siapa. usir saja!” kata saya mengindoktrinasi anak saya yang baru berusia 5 tahun.

”Kenapa?”

”Karena kalau dibiarkan, dia akan jadi maling! Paling tidak berak seenaknya. Kamu tahu sendiri kan, kotoran kucing itu bau, sulit hilang!”

”Kalau nggak mau?”

”Hajar dengan batu!”

”Semua kucing?”

”Tidak semua kucing jahat. Tapi kita tidak ada waktu untuk menyeleksi mana yang jahat mana yang bjaksana. Pukul rata saja, semuanya maling.”

”Kenapa?”

”Seperti kata George Washington, hanya senjata yang bisa dipakai untuk menjaga
perdamaian .”

”Kenapa?”

”Karena hanya kekerasan yang akan bisa mencegah kekerasan. Biar pintu terbuka, almari lupa ditutup, kucing itu tidak akan berani lagi masuk, karena dia terpaksa menghormati kita. Dia pasti tidak akan mau lagi mengeluarkan Rp 200 ribu untuk mengobati kakinya yang satu lagi, karena Bapak akan mematahkan kakinya yang satu lagi.”

Lalu saya tunjukkan bagaimana saya mengajari kucing itu dengan melempar buku. Rupanya buku-buku itu memang ditakdirkan aku beli untuk menghajar maling.

”Jangan mengajari anak kamu kejam!” protes istri saya.

”Lho, hidup ini sudah kejam. kok. Kalau kita tidak ikut kejam, kita akan selalu jadi sasaran. Sebenarnya ini bukan kekejaman, tetapi ketegasan saja. Supaya tidak ada peluang orang lain untuk kejam terhadap kita, kita harus tegas. Kita tunjukkan kita bisa kejam!”

”Itu kan teori kamu!”

”Boleh dites, tapi itu berarti kita harus masak reca-reca lagi!”
Istri saya melengos tak menanggapi. Tapi dia perempuan yang baik. Dia tidak sampai hati membiarkan dendam saya pada reca-reca berkelanjutan. Sehari setelah saya sambat, ikan reca-reca itu sudah menanti di atas meja menjelang waktu waktu buka.
Dengan tak sabar saya tunggu ceramah Pak Quraish Shihab di televisi yang dipandu oleh si cantik Inneke Koesherawati. Sekali ini rasanya lama sekali. Bau reca-reca itu sudah mencabik-cabik.

”Lihat kucing itu sudah bengong di situ!” kata istri saya menunjuk keluar jendela.

”Nggak bakalan ada kapoknya. Namanya juga binatang!”
Saya ngintip. Kucing itu memang lagi termenung di pagar rumah. Tapi itu jelas akting. Dia pasti sudah mengendus bau reca-reca yang sudah sempat membuat kakinya pincang.

”Tutup jendelanya, Pak!”

”Tidak usah. Ini saatnya untuk melihat apa rumah kita ini masih dia hormati?!”
Sebaliknya dari menutup jendela, daun jendela saya kuakkan lebar-lebar. Pintu dibuka. Saya pura-pura tak menyadari kehadiran kucing itu. Ikan reca-reca itu saya pajang di atas meja di teras, tanpa ditutupi. Saya ingin membuktikan, apakah kucing itu masih memiliki nyali.

”Aneh!” kata istri saya.

Saya tidak peduli. Saya ingin membuktikan kebenaran teori presiden pertama Amerika Serikat itu.

Begitu azan magrib terdengar, kucing itu makin gelisah. Ia tak putus-putusnya melongok ke arah meja di teras. Kelihatan nafsunya bergolak. Tapi pelajaran yang sudah diterimanya tak membiarkan dia bergerak lebih jauh dari pagar. Sebaliknya, meninggalkan pagar pun dia tidak mau. Reca-reca itu memang terlalu indah untuk ditinggalkan.

”Mau makan atau mau ngurus kucing makan?!” bentak istri saya kesal.

”Stttt! Lihat, aku sudah berhasil menghajar binatang itu bagaimana menghormati teritorial kita!”

”Ntar ikannya disambar lagi, baru nyesel!”

”Nggak bakalan!”

”Namanya juga kucing!”

”Tidak mungkin! Kakinya yang pincang itu, sudah membuat dia ngeper sendiri!”
Tapi tiba-tiba anak saya yang kecil muncul dari samping. Dia membawa batu mau melempar binatang itu, sesuai dengan yang saya ajarkan. Kucing itu cepat berbalik.
Ternyata dia tidak takut. Kakinya yang cidera seperti mendadak sembuh. Dia membungkuk menanti serangan. Anak saya tak menyadari bahaya, terus mendekat dengan batu di tangan yang siap dilemparkan.

Dan kucing itu menerjang.

”Pak!” teriak istri saya.

Saya langsung nongol di jendela. Belum sempat berteriak, kucing itu sudah kaget melihat muka saya. Dia kontan membatalkan serangannya, lalu melompat ke jalan dan kabur. Tapi sebuah mobil yang meluncur cepat menerima lompatannya. Kucing itu tergilas.

Saya terpaku. Takjub melihat pemilik mobil itu, sudah membunuh piaraan kesayangannya. Untung saya belum sempat teriak. Cepat-cepat saya beri isyarat istri saya supaya membawa Dede masuk.

Malam hari kami lebih cepat menutup pintu dan mematikan lampu. Saya tahu Pak Michael pasti sedang uring-uringan. Saya menghindari pertengkaran. Masa bulan suci harus berkelahi karena soal kucing.

Esoknya, seperti yang sudah diduga, Pak RT muncul. Saya lebih dulu menegor.

”Bulan Ramadan tidak boleh mengumbar emosi kan Pak RT?”

Pak RT tersenyum seperti kena sindir.

”Betul, Pak. Tapi kalau terpaksa apa boleh buat.”

”Lho boleh?”

”Habis kalau nyolong melulu?!”

Saya tertegun.

”Siapa Pak RT?”

”Siapa lagi! Almarhum!”

”Almahum siapa?”

”Kucing yang Bapak bunuh itu.”

Saya tertegun. Pat RT tersenyum.

”Saya tidak membunuh kucing itu! Kan yang punya sendiri yang menggilasnya!”

”Ya untungnya begitu. Tapi sebenarnya dia sudah mati sejak Bapak mematahkan kakinya.”

Saya tidak menjawab.

”Sejak kakinya patah, kucing itu tidak berani lagi sembarangan masuk ke rumah. Bukan hanya rumah Bapak, juga rumah saya dan rumah-rumah yang lain. Dan sejak itu pula, tak ada yang pernah kehilangan ayam atau makanan lain dari meja secara misterius. Rupanya selama ini kucing itu biang keroknya. Sekarang kita aman…”

”O ya?”

Pak RT senyum lagi.

”Ya.”

”Kalau begitu bagus dong.”

”Bagus.”

”Jadi kita aman sekarang. Tidak ada aman, tidak ada tai kucing?”

”Ya. Untuk sementara.”

”Sementara?”

”Untuk sementara.”

”Kenapa?”

”Sebab Pak Michael sudah membeli tiga ekor kucing lagi untuk mengganti kesayangan istrinya itu. Habis istrinya nangis terus kehilangan kucingnya.”

Saya terhenyak.

”Berarti kita harus melakukan pembunuhan lagi?”

Pak RT tertawa.

”Tidak usah. Cukup biasakan mengunci pintu dan almari dapur.”

”Dan mematahkan kakinya pada kesempatan pertama dia mencuri?!”

”Betul!”

”Sebab kalau dibiarkan atau dimaafkan, dia pasti akan mengulang dan lama-lama jadi
penyakit!”

”Betul.”

Saya tertawa.

”Kalau begitu kita cs Pak RT.”

Saya mengulurkan tangan. Lalu kami berjabatan.

”O ya, saya lupa,” kata Pak RT sambil merogoh kantungnya, lalu mengulurkan selembar kuitansi. Darah saya tersirap.

”Apa ini?”

”Menurut Pak Michael yang membunuh kucingnya itu, Bapak. Bapak diminta dengan sangat mau mengganti pembelian ketiga kucing yang baru dibelinya itu.”

Pak RT lalu begitu saja meninggalkan saya. Seakan-akan tidak ada sama sekali keanehan dalam peristiwa itu. Saya bingung. Tiba-tiba saya jadi pembunuh yang harus dihukum. Mana jiwa nabi serta kebesaran Pak RT yang dulu kelihatan begitu tebal untuk menjaga kesejahteraan warga. Kenapa saya dianggap pantas menerima pemutarbalikkan yang kacau itu.

Manusia dan binatang sama saja, teriak saya dalam hati. Lalu saya kejar Pak RT ke rumahnya. Saya ulurkan kuitansi itu ke mukanya. Supaya ia menatap dengan baik, bukan jumlah yang tertera di sana yang membuat saya mabok, tetapi maknanya. Hakikatnya. Dan tanpa bicara sepatah kata pun, saya sobek kuitansi itu di depan matanya. Perlahan-lahan menjadi potongan-potongan kecil. ***

Jakarta 6 September 2009
Suara Merdeka, Minggu, 13 September 2009

Selasa, 01 Februari 2011

Jasadmu bebass.. tapi Jiwamu?!?!?

Artikel ini adalah hasil ngebrel2 sama Mister Ndoy.

jadi beliau berkisah, bahwa menjadi seorang muslim itu haruslah Kaffah.. artinya menyeluruh, jangan setengah2 "Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu" -Al Baqarah : 208-

Aplikasi simpelnya menurut Mister Ndoy itu begini, katakanlah "Aku adalah seorang manager, TAPI AKU ADALAH MUSLIM", katakanlah "Aku adalah seorang Pejabat, TAPI AKU SEORANG MUSLIM", jangan dibalik menjadi "aku muslim, TAPI AKU MANAGER" atau "Aku muslim, TAPI AKU PEJABAT". Coba dirasakan.. lalu dipahami kedua susunan kalimat itu, pasti akan menimbulkan makna yang berbeda khan?khan?khan?

"Aku adalah seorang manager, TAPI AKU ADALAH MUSLIM" kalimat seperti ini biasanya sambungannya begini "Aku adalah seorang manager, TAPI AKU ADALAH MUSLIM, jadi aku tidak akan korupsi, karena islam mengharamkan korupsi/b>" Nooohh.. iya ga?! nah.. itu contoh sederhananya lah tentang bagaimana mengimplementasikan menjadi muslim yang kaffah.

Seperti pernah dikisahkan pada jaman Rasulullah SAW dulu, bahwa Billal bin Rabbah, seorang budak hitam yang tetap pada prinsip islamnya. Ketika ia diminta untuk meninggalkan islam oleh Tuannya, iapun menolak. Ketika si Tuan berkata "Hai Billal, kau ini bekerja pada ku bukan? lalu mengapa kau berani masuk Islam sebelum kuijinkan?" lalu Bilal menjawab "Aku memang bekerja padamu, engkau adalah tuanku, namun ketika kewajiban telah kuselesaikan semuanya, maka bukan urusan tuan mencampuri keyakinanku".

Maka disiksalah Bilal, telanjang dada ia ditengah gurun pasir, tanpa makan minum dan diatas dada nya diberi beban berupa batu yang amat besar. Badannya menghadap ke matahari yang membuat darah mengucur dari setiap bagian tubuhnya, bahkan mulutnya pecah akibat panas. Lalu si tuan kembali bertanya "Apakah kau mau keluar dari Islam dan menyembah Latta dan Uzza?", maka yang keluar dari bibir seorang Bilal adalah “Ahad, Ahad ... (Allah Maha Esa).”

Dialah Bilal, seorang budak yang jasadnya memang tidak merdeka, namun jiwanya bebassss.. lalu bagaimana dengan kita? Jasad kita mungkin merdeka, namun jiwa kita? Astaghfirullahal'adzim..

Hanya sedikit sharing dan mengingatkan kembali.. hasil ngebrel2 dengan mister Ndoy ^__^

Arogansi seorang Mahasiswa

Lagi!ini cerita dari seorang mahasiswa yang sepertinya sangat bangga dengan predikat "Mahasiswa" yang melekat di dirinya, yang juga sangat fanatik dengan fakultas yang ditekuninya "KESEHATAN" .

Ada satu hal yang aku rada kurang sreg dengan sikapnya yaitu waktu dia bilang "hee siapa bilang anak fakultas ke**kt*ran itu lebih hebat dari anak k*p**a*atan?, anak k*p**a*atan itu macem2, ada k*p**a*atan jiwa,k*p**a*atan masyarakat blablablabla.. "

Yang aku tangkap dari ucapannya itu adalah ke-arogansi-an bahwa fakultas-nya lah yang paling hebat dibandingkan fakultas lain. Hm.. mahasiswa! sering merasa "paling"! Paling hebat, paling pandai, paling penting dlsb. Padahal diluar sana, ilmu itu luas, tidak sebatas yang ia pelajari. Seandainya mahasiswa itu tadi paham betul bahwa ILMU itu seperti CELANA DALAM. Semakin kau pamerkan ilmu-mu itu, maka akan semakin terlihat bahwa ilmu-mu itu kecil, sekecil celana dalam-mu. *maaf kalo istilahnya terlalu vulgar. Tapi memang begitu kenyataannya.

Jadi saran saya, sudah lah.. buat apa si sombong, toh setiap ilmu itu pasti memiliki perannya masing - masing. Percuma ilmu segunung ketika praktek-mu NOL BESAR , sebaik - baik ilmu itu adalah yang bisa termanfaatkan baik bagi diri kita maupun bagi orang sekitar kita. Makin tinggi ilmu kita, makin berat pula pertanggungjawabannya. Untuk itu, saran saya sekali lagi TIDAK PERLU SOMBONG YA MBA / MAS

Jumat, 21 Januari 2011

Sahabat ku.. untuk selamanya.

Ga tau kenapa, dari tadi malem aku lagi kangen sama sahabat – sahabat masa SMP ku. Maklum, buat aku masa – masa SMP jauh lebih menyenangkan dibanding masa SMA. Disana aku bener – bener punya banyak cerita yang konyol bin wagu bersama teman – temanku. Geng cewek kami itu terdiri dari beberapa orang yaitu aku, mba Arum, mba Emmha, Mafy, Dias, Rini, Ayu, Putri (tapi Putri jarang kumpul sama kita :( ), sedangkan Geng cowok, mereka menyebut dirinya Geng AMATIR BB (Agung Mahtum Trio Imam Rangga Budi Bowo). Kalo di tv – tv biasanya Geng cowok selalu bertengkar dengan geng cewek, kalo disini kita engga', kita ce-es-an abis! Kemana – mana biasanya bareng.

Kita anak – anak badung, anak – anak jail (khususnya Amatir geng! Kalo geng cewek si.. maaf ya!kita anak – anak terkenal dan berprestasi di sekolah ahihihihihi). Tapi walaupun kita suka nyleneh, suka jail, suka wagu, banyak main.. tapi Alhamdulillah.. kita semua selalu masuk ke kelas favorit (di sekolah favorit standar internasional dan selalu masuk 10 besar! Ayyeee..) jadi guru – guru ga pernah pada protes dengan kenakalan kita :D

Kali ini aku mau cerita tentang salah satu dari mereka dulu (besok – besok aku janji bakalan mbahas mereka satu per satu ;) ). Seorang gadis cantik kutilang (kurus tinggi langsing), pintar, sabar, berkharisma (kaya merk motor :D) yang baru saja kemarin, 18 Januari 2011 genap berusia 23 th (Semoga Allah selalu menjagamu sayang). Dia adalah sahabatku tercintahhh Dyah Arum Kusumaningtyas. Awal kelas 1 dulu, dia selalu juara kelas, dan itu salah satu hal yang nanti – nantinya membuat kita menjadi sahabat selamanya. Dia juara kelas, sedang aku masih bertengger di posisi ke-6. Semester selanjutnya, aku ga mau kalah dan Alhamdulillah aku berhasil menjejerinya sebagai runner up alias rangking ke-2 hehehe.

Singkat cerita, sejak kelas 1 sampai dengan kelas 3, kita selalu satu kelas (sekali lagi saya tekankan KELAS FAVORIT hahahaha -congkak!!-) dan juga satu bangku. Lambat laun aku berhasil mengunggulinya dengan menggeser tempatnya, sekarang dia yang jadi runner-up hihihihi. Tapi itu bukan inti dari ceritaku. Sebetulnya banyak banget cerita bersama dia yang pasti indah untuk diceritakan. Tapi aku mau cerita tentang hal yang paling menyentuh yang pernah aku lalui bareng si cantik ini.

Waktu itu kelas 2. Kami ada pelajaran memasak dan praktek waktu itu aku sekelompok dengan dia. Kami memasak sayur lodeh, nggoreng ikan asin. Setelah semua bumbu sudah dimasukkan, sudah diicip – icip dan ternyata rasanya PAS!! enaaaaaaaaak (ya iyalah!dari rumah aku dah bawa bumbu kok jadi tinggal dicemplung – cemplung aja :D ). Aku lihat kelompok lain sudah siap dengan masakan – masakannya, sedangkan kelompokku.. haduuuhhh ini kenapa sayur lodeh belum mateng – mateng? Mba Arum tau kegelisahanku dan dengan bijaksananya dia mencoba menenangkanku. “udah tenang aja, bentar lagi mateng kok”. “coba si mba.. dicicipin udah mateng apa belum?” rengek aku. Jelas – jelas aku lihat terong itu masih terlihat keras belum mateng, tapi demi melihat aku tenang dia rela nyicip terong mentah (dan panas) kemudian berkata “bentar lagi..” lalu senyum. Beberapa menit berselang, aku makin gugup dan bilang lagi “mba.. udah mateng belum?” dan lagi – lagi tanpa diminta dia ambil lagi terong itu dan dicobanya. Kalo aku inget – inget, mungkin lima potongan terong ada dia makan, dan itu lagi – lagi demi ngeliat aku tenang.

hm.. setelah sekarang dewasa, mampu mengambil pelajaran ditiap kejadian, aku suka terharu sendiri kalo inget kejadian itu. Betapa mba Arum sangat dewasa, ngemong aku yang rewel yang ribut yang panik, demi liat aku tenang dia sampe mau dibela – bela in makan terong mentah. Padahal aku tahu persis terong itu mentah dan aku sendiri pastinya ga mau makan itu (apalagi aku jiji'an banget orangnya). Dan pantaslah sekarang dia menjadi seorang dokter, anak pintar dan cerdas.. baik hati pula ^__^

hahh.. mba.. lama ya kita ga ketemu. Itu tadi satu kisah kita yang ga akan pernah aku lupa, dan kisah – kisah lain yang juga masih melekat diingatanku. Saat kita pulang sekolah berdua, hujan – hujanan sambil nyanyi lagu “BUNDA” teriak – teriak dijalan seperti konser. Saat insiden ambruk nya tempat tidur waktu study tour ke jakarta dulu. Saat pacarmu dulu (yang aku sebut raja minyak -karena mukanya berminyak banget hehehe-) jahat sama aku. Saat kita marahan dulu karena nilai ulanganku selalu diatasmu. Saat pemilihan pengurus OSIS dulu, saat kita bikin drama kabaret dulu dan kisah lain yang ingiiiiiiiiiin sekali aku tulis dan akan selalu aku kenang.

Untukmu saudariku yang selalu membuat aku iri, yang juga sekaligus menjadi guru rasa syukur ku, yang mengingatkanku bahwa tidak ada yang perlu diirikan karena setiap kita memiliki kisahnya masing – masing. Aku ingat kau sangat bangga padaku dan selalu belajar banyak dariku. Sadarkah dirimu? Akulah yang banyak belajar darimu. Hmmm.. selamat ulang tahun sahabatku, do'aku selalu semoga Allah senantiasa menyertai harimu. Suatu hari kita pasti ketemu lagi. Aku kangen kamu mba.. :)

-Tempat tidur,19/01/2011, terbangun karena rindu temen2 SMP-

Selasa, 14 Desember 2010

Pak Edi Transit

Kali ini pengen cerita tentang seorang bapak yang baeeeeeeeeeeeeeeeeeeekk banget! Namanya pak Edi, tapi kami para mahasiswa -ngomong mahasiswa ne pake gaya bangga2 gitu deh!, biasa baeee biasa baeee.. mahasiswa beee.. sombong!huahaha-, kami sering manggil beliau dengan panggilan Pak Edi Transit.


Yak! Kami panggil begitu karena emang sehari – hari beliau ada di ruang transit, pusat informasi segalanya tentang perkuliahan, tentang absen, tentang dosen sampai dengan tentang kuliah apa kira – kira yang bisa kosong!huahahaha -yang terakhir aku ngarang!jangan dipercaya ;P -. Aku ada satu pengalaman yang berharga dengan beliau, apa ini?? itu dia,, -maksutnya.. apa itu?? ini dia.. fyuuhh geje ni yang nulis!!-


Waktu itu, pulang kantor kira2 abis maghrib lah, aku sengaja ke kampus buat ketemu sama PS -Pembimbing Skripsi- ku, rencananya si pengen bimbingan dan nanyain kelanjutan proposal skripsi ku yang udah aku serahin ke beliau beberapa hari yang lalu. Tapi kecewa lah aku ternyata kampus sepi, ga ada orang yang aku cari juga Y___Y, tapi beruntung aku ketemu sama pak Edi, udah deh,, sifat SKSD ku muncul, deketin aaaaaaaaaahh.. tanya2 aaaaaaaaaahh hehhee..


Akhirnya aku ngobrol sama beliau, wah.. subhanallah.. aku seneng banget ngobrol sama beliau, tau ga! Beliau tuh beda banget sama pegawai2 di kampus yang lain. Terus terang aja nih.. pegawai yang lain itu lebih banyak jutek, nyinyir, uangel, nyebelin dan menjatuhkannya -walau ga semua si-.
Tapi pak Edi beda, abis aku ngobrol sama beliau, aku jadi semangat banget nggarap skripsinya, beliau kasih semangat, beliau yakinkan bahwa PS 1 ataupun PS 2 ku itu orangnya baik2, dan pasti ngebantu lulusnya aku, beliau nasehatin jangan lupa 5 waktu g boleh ditinggalin, berdoa juga supaya Allah memudahkan jalan ku dalam mencapai kelulusanku.


Haaah,, pokoknya ngobrol sama beliau itu jadi ayem bin semangat deh!! g sia sia aku ke kampus sendirian, bisa dapet pelajaran berharga dari pak Edi. Aku jadi berfikir, besok, kalo aku udah punya anak, mungkin begini cara mendidiknya, mengenalkannya dengan islam, tidak melulu neraka dengan azab nya yang pedih yang diceritain, tapi ceritakanlah tentang surga dan kenikmatan di dalamnya, tentang sifat Pengasih dan Penyayang yang dimiliki Allah, dengan itu pasti anak2 bisa mencintai islam bukan karena TAKUT dengan azab nya tapi karena memang CINTA pada keindahannya. Hmmm.. bisa jadi!!


Ok,, makasih banyak pak Edi buat semua semangat dan kemudahan2 yang selama ini sudah bapak beri pada kami para mahasiswa -kali ini ngomong mahasiswa nya dengan nada biasa aja hehehe..- mudah2an Allah balas apa yg sudah bapak tanam dengan buah yang manis dan indah Amin.. obrolan malam itupun selesai dengan semangat ku yang menyala2, tapi ada satu yang aku sesalkan, aku cuma salaman aja jabat tangan dengan beliau, aku lupa ga cium tangan, hal yang selalu aku lakukan kepada orang – orang yang sudah aku anggap sebagai orang tua ku sendiri, bahkan kepada salah satu cleaning service di kantor ku.. hmmm...