Kamis, 24 Mei 2012

mentuhankan uang?!?!

Ketika aku menginginkan sesuatu, aku sering lupa mengikutsertakanNya dalam tiap usahaku. Diam - diam ternyata aku menuhankan uang!! Ketika aku menginginkan untuk membeli atau memiliki sesuatu, maka yang aku pikirkan adalah "berapa uang yang harus aku keluarkan, berapa banyak yang sudah aku punya, berapa banyak kurangnya, dan darimana aku mendapatkan kekurangan uang tersebut". Ya! Mungkin yang sering aku lakukan pertama adalah bagaimana untuk mendapatkan dan mengumpulkan uang agar aku bisa mendapatkan hal yang aku inginkan tersebut.


Hasilnya?!? Mungkin aku bisa memiliki barang yang aku inginkan tersebut NAMUN dengan jangka waktu yang tidak sebentar. Atau.. mungkin aku bisa mendapatkan hal yang aku inginkan tersebut dalam waktu cepat NAMUN dengan cara yang tidak barokah.


Lalu.. apakah itu yang benar-benar aku harapkan? Memiliki sesuatu yang aku inginkan DALAM WAKTU YANG LAMA atau DALAM WAKTU RELATIF CEPAT NAMUN DENGAN CARA YG TIDAK BAROKAH?!?!


Hal tersebut sebetulnya tidak akan terjadi, Jika dan hanya jika.. aku tidak menuhankan uang.. melainkan MenTuhankan Allah SWT. Ketika yang aku Tuhankan adalah Allah.. maka yang aku kumpulkan untuk mendapatkan hal yang aku inginkan bukanlah uang, tetapi sholat malamku, sholat dhuha ku, sedekah ku, amalan - amalan shaleh ku. Bukankah Allah Maha Kaya? Maha Pengasih dan Penyayang? Maha Pemberi apa yang hambaNya butuhkan?!


Intinya?! Bisa disimpulkan sendiri khan? Allah tidak menciptakan jin dan manusia KECUALI untuk beribadah kepadaNya. Beribadah padaNya maka akan Allah cukupkan apa yang menjadi pinta kita. Karena Allah Maha Pemalu, DIA malu apabila ada hambaNya yang berdo'a memohon padaNya namun pulang tanpa membawa apa - apa.


(simpulan pengajian pagi ini.. semoga manfaat) (*¯︶¯*)


Published with Blogger-droid v2.0.4

Rabu, 23 Mei 2012

Agar tidak sekedar impas

Setiap perasaan kesal, marah, kecewa itu muncul kembali, selalu aku berusaha mengingat ingat pesan dari orang tuaku, "berbuat baik ke orang yang baik pada kita itu biasa, tapi jika kita bisa berbuat baik pada orang yang jahat pada kita, itu baru luar biasa". Aku bukan nabi, yang ketika orang orang di bukit Thaif melempari beliau dengan batu kerikil, beliau bisa berkata "Jangan lakukan itu.. mereka berbuat demikian karena mereka tidak mengetahui apa yang mereka lakukan ". Itu adalah jawaban beliau ketika malaikat Jibril kesal pada orang - orang Thaif dan meminta Rasulullah SAW untuk berdo'a pada Allah agar dibalikkan bukit Thaif itu sehingga mereka (orang orang Thaif) itu terkubur didalamnya. Aku manusia biasa yang terkadang ingin sekali mengeluarkan semua unek - unek, amarah, kekecewaan dan kekesalan dalam hati ini, didepan si orang yang memang "sepertinya" pantas menerimanya. 

Tapi lagi - lagi, mantra atau pesan orang tua yang selalu aku ingat, dan seeeekuat tenaga aku pendam kekesalanku ini, bukan untuk dipendam yang nantinya akan menjadi bom waktu. Tapi aku pendam, supaya luluh dan tidak tersisa lagi rasa sakit hati, atau marah, kecewa, kesal dan sebagainya. Ya Allah.. ingin aku menjadi orang yang lebih sabar, ingin aku menjadi orang yang bisa berbuat baik pada mereka yang jahat padaku. Jika itu memang berat, pasti indah imbalan dariMu. InsyaAllah.. Bismillah.. kuatkan ya Allah.. SEMANGATTTT!!! 

Selasa, 24 April 2012

Jangan kalah sama anjing

Pada suatu hari ada sebuah kisah dimana seorang bapak berusia kira kira 53 tahun beserta anak laki nya yang baru berumur 12 tahun sedang berjalan - jalan di kompleks rumahnya. Saat itu si bapak kemudian mengajak sang anak untuk bersama - sama pergi ke warung untuk membeli rokok.

Ketika mereka berdua berjalan ke warung, mereka melewati sebuah rumah milik seorang polisi yang memelihara seekor anjing tipe herder (entah tulisan herder seperti itu betul atau tidak. Maaf ya :-D ) *back to the topic*. Jadi ketika melewati rumah tersebut, entah kenapa si anjing yang semula tengah berpose duduk santai (ga usah dibayangin) tiba - tiba langsung berdiri, nyolot, emosi dan menggonggong keras. Otomatis si bapak beranak (maksutnya bapak dan anaknya) yang mau beli rokok itu tadi ciut nyali nya untuk melewati depan rumah tersebut. Si empunya anjing mendengar peliharaannya menggonggong keras, spontan keluar rumah. Dan hanya dengan komando " Tommy (si anjing namanya Tommy)! Diam! Duduk" si anjing pun tunduk patuh pada perintah tuannya. Ya! Hanya dengan tiga kata saja, Tommy, Diam dan Duduk. Si tuan yang selalu memberi makan dan minum mampu menghentikan gonggongan Tommy yang menakutkan.

Cerita ga berhenti sampai disitu. Jadi setelah Tommy diam dan duduk, si bapak dan anak akhirnya dapat lewat di depan rumah dan membeli rokok. Masalah muncul lagi ketika mereka hendak kembali ke rumah daaaan lagi - lagi harus melewati si Tommy. Daaaaan lagiiii dan lagiiii si Tommy menggonggong keras tatkala mereka akan lewat. Namun kali ini si bapak sudah memiliki senjata. Yak! 3 kata itu tadi yaitu Tommy, diam dan duduk adalah senjata yang dapat digunakan untuk menenangkan si Tommy. Akhirnya dengan PeDe nya si bapak berkata "Tommy!! Diam! Duduk!!" Daaaaan apa yang terjadiii?!?!? Si Tommy bukannya diam eeeeh malah justru menggonggong makin keras bahkan lari menghampiri si bapak yabg sok-sok an memerintah Tommy untuk diam (untungnya pager rumah tersebut tinggi dan kokoh). Si bapak kebingungan karena 3 kata yang dipikirnya sebagai senjata ternyata TIDAK MEMPAN. Kembali si empunya rumah keluar dan berkata "Tommy! Duduk!! Diam!!" Dan Tommy pun duduk dan diam. Akhirnya si bapak dan anaknya pun dapat kembali ke rumahnya dengan aman.

Nnnahhhh!!! Apa hikmah dari peristiwa diatas?!?! Hikmahnya adalah.. Anjing saja nurut, tunduk, patuh pada perintah tuannya yang sudah memberi makan, minum dan tempat tinggal untuk nya. Selain tuannya, walau dengan  perintah yang sama, si anjing tidak mau menurutinya. Lalu.. bagaimana dengan kita (saya) sebagai hamba dari Sang Maha Raja?! hamba dari Tuhan Sang Maha Pemberi, Maha Pengasih, Maha Penyayang? Sudahkah kita (saya) tunduk patuh padaNya?!?!? #JLEBBB

Published with Blogger-droid v2.0.4

Rabu, 04 April 2012

Post It

Tadi,, waktu lagi beres - beres ruangan, banyak post it yang berserakan. Post it ini fungsi nya memang sebagai penanda untuk tanda tangan. Biasanya warna nya kuning soft, ada juga yang warna warni, ada juga yang pake tulisan "sign here" . Post it memiliki fungsi yang cukup penting di unit tempat ku bekerja, maklum tanda tangan hampir - hampir selalu dilakukan tiap saat, dengan jumlah kertas yang ditanda tangani tidak sedikit.

Mengambil pelajaran dari keberadaan pos it ini, aku jadi berfikir, segala sesuatu memang memiliki manfaat dan mudharat nya masing - masing. Begitu juga dengan post it. Manfaat dari post it ini jelas! dapat memudahkan seseorang dalam menandatangani suatu berkas, misal dari sekian ratus halaman, maka si penandatangan tidak perlu membuka lembar demi lembar untuk menemukan di lembar mana ia harus tanda tangan. Dengan begitu waktu menandatangani dapat lebih singkat, sehingga berkas dapat segera ditindak lanjuti yang pada akhirnya akan mempercepat proses suatu pekerjaan.
Tapi... ternyata selain mempercepat pekerjaan, post it juga memiliki dampak negatif. Apa itu? ya jelas.. karena si penandatangan yang notabene adalah pejabat yang memiliki otoritas suatu pekerjaan, dia akan langsung menuju ke halaman dimana post it itu ada. Jarang sekali para pejabat tersebut membuka lembar demi lembar untuk memeriksa isinya, apakah sudah benar atau belum. Mereka lebih sering langsung tanda tangan. Ke-valid-an berkas sudah dipercayakan kepada bawahan yang membuat berkas tersebut. Post it telah memanjakan kita, sehingga fungsi controlling terhadap berkas berkurang. 

Untungnya, masih banyak pejabat pejabat yang walau sudah dibantu adanya post it, mereka tidak serta merta menandatangani berkas yang ada dihadapannya, tapi terlebih dahulu mereka memeriksa tiap lembar dan membubuhkan paraf di bagian kanan bawah di tiap lembar tersebut. Fungsinya adalah menunjukkan bahwa pejabat tersebut telah membaca dan menyetujui isi dari lembaran - lembaran berkas yang akan ditanda tanganinya.

Simpel sebetulnya, hanya sebuah kertas berwarna kuning dan paraf sederhana ditiap lembar berkas. Namun memiliki arti yang sangat besar. Disitu ada fungsi kontrol, ketelitian yang berujung pada pertanggungjawaban sebuah pekerjaan. Hikmahnya, jangan sepelekan suatu hal yang kecil, karena setiap yang kecil adalah bagian dari yang besar, dan sekecil apapun perbuatan itu, pasti bermanfaat dan berpengaruh pada sesuatu yang besar. ^__^

Before-After

Meja yg dipenuhi kertas
kurang tempat, printer pun jadi tempat menampung kertas sementara

mulai memilah - milah binder clip
kertas yang ga kepake, siap di "blender"


yak! waktu setengah hari di kantor kali ini aku pakai khusus untuk beres - beres ruangan. Memang sudah jadi kebiasaan, setiap musim pencairan dana kemitraan, ruanganku pasti berantakannya bukan main, ibarat kapal pecah, sudah hancur berkeping - keping http://www.smileycodes.info laci meja isinya bercampur antara berkas kepake sama kertas - kertas ga kepake. Sengaja aku ga membereskan saat itu juga, karena untuk beres - beres itu ga cukup dengan waktu sebentar, sedangkan pekerjaan lain yang lebih prioritas harus segera diselesaikan. Akibatnya,, beginilah.. setiap selesai pembekalan dan pencairan dana saat nya untuk beres - beres! yeahhh http://www.smileycodes.info

Laci meja aku buka dan semua kertas didalamnya aku keluarkan, aku pisahkan antara yang terpakai dan yang engga.. yang engga aku singkirkan dan siap untuk "diblender" ( dimasukkan ke mesin penghancur kertas maksutnya). Paper clip, binder clip, post it.. semua aku rapikan dan aku taruh di tempatnya masing - masing. Pekerjaan yang tidak sulit, tapi cukup menyita waktu. Walau cukup menyita waktu, tapi aku suka melakukannya.. apalagi setelah melihat hasilnya, ruangan kembali rapi dan bersih.. rasanya senaaaaang dan puasss.. http://www.smileycodes.info ini dia.. foto setelah semua dirapihkan.. taraaaaaaaaaaa http://www.smileycodes.info

Meja udah bersih kinclong ;)

Laci meja, sudah tertata rapih :D



Binder clips, paper clips, post it sudah tertata ditempatnya masing - masing
Laci kedua, berkas sudah dipisahkan sesuai "rumah" nya masing - masing
Laci terakhir, berkas, amplop, stempel sudah diamankan ;)
Daaan.. inilah lemari tempat penyimpanan berkas, sudah rapi juga weheee..
 yaph! itu tadi hasil beres - beres ruangan seharian. Puas rasanya, setelah berantakan hampir 1 bulan, dalam setengah hari bisa dibereskan, ayem hatinya.. kerja jadi semangat lagi http://www.smileycodes.info dan aku pun siap untuk memulai triwulan kedua di tahun 2012 ini... yeaaaaahhh http://www.smileycodes.info

Senin, 26 Maret 2012

Sang Arsitek Ulung

Alkisah, pada suatu riwayat ada seorang petani yang tengah beristirahat setelah ia bekerja di kebun. Ia duduk di bawah sebuah pohon beringin kala itu. Sesaat kemudian, ia melihat ke arah pohon beringin. Ia melihat buah pohon beringin yang kecil, tidak imbang dengan pohonnya yang besar. Sedang disampingnya, tumbuh pohon semangka yang juga tengah berbuah besar. Lalu serta merta, ia bergumam dalam hati "Allah bukanlah arsitek ulung, Allah tidak adil, bagaimana bisa Allah ciptakan pohon beringin yang besar seperti ini namun buah nya kecil. Sedangkan semangka, pohonnya sekecil ini, namun dibebani buah yang sebegitu besarnya. Allah benar - benar tidak adil. Mengapa tidak Allah balik saja, pohon beringin berbuah sebesar semangka, dan pohon semangka berbuah sebesar buah pohon beringin?". 

Sesaat setelah sang petani bergumam seperti itu, tiba - tiba "PLUKK" jatuhlah satu buah pohon beringin dan mengenai tepat di hidungnya. Sang petani kaget, lalu serta merta ia mengucap istighfar "Astaghfitullah'adziim.. ternyata Allah adalah ARSITEK ULUNG, ALLAH MAHA ADIL! Andaikan buah pohon beringin itu Allah ciptakan sebesar buah semangka, maka apa yang akan terjadi ketika buah tersebut jatuh dan menimpa wajahku tadi? Ya.. Allah memang Maha Adil.. Allah arsitek yang ulung.." 

Pelajaran dari kisah diatas adalah, tidak ada yang perlu diragukan lagi atas ketentuan dan ketetapan Allah. Karena itulah yang terbaik, karena itulah yang paling tepat. Allah ciptakan segala sesuatu tepat/pas sesuai dengan ukurannya dan semua itu tak ada yang sia-sia. Tugas kita hanyalah terus berusaha positif thinking padaNya dan mengambil hikmah ditiap peristiwa untuk dijadikan pelajaran hidup yang berharga. InsyaAllah

Sabtu, 25 Februari 2012

Belajar Inisiatif

Lagi ada seorang ibu, dateng ke kantor minggu2, kebetulan kita lagi pada lembur. Si ibu dateng, cerita kalo anaknya sedang kuliah di suatu perguruan tinggi dan mau PKL. Sistem pendaftaran PKL di kampusnya itu secara online untuk mendapatkan tempat PKL nya. Si anak, sedang liburan di rumahnya, tidak mengakses internet selama liburan, tau2 sudah penutupan pendaftaran tempat PKL. Sekarang si anak bingung, mau PKL dimana. Beruntung, paman si anak ini adalah temen dari atasanku. si Paman menyarankan agar si anak datang ke kantor untuk minta ijin agar bisa PKL di unit ku ini. Kenyataannya, si anak ga dateng, yang dateng ibunya. Si ibu setengah merengek agar si anak bisa PKL disini.

Ada beberapa hal yang bisa aku simpulkan dari kejadian ini :
  1. Kayanya ni bocah rada2 kurang tanggungjawab apa ya, secara.. dia sudah tau jadwal pendaftaran PKL, eeeeh malah asik liburan. Giliran pendaftaran udah ketutup, baru deh bingung mikir dimana dia mau PKL.
  2. Kenapa harus yang menghadap ke orang Telkom itu ibu nya? kenapa ga si anak? kemana dia? bukannya kalo mau PKL itu berarti mahasiswa hampir semester akhir ya? dan yang lebih mengagetkan.. si anak ini ternyata Cowok. Halooo.. seorang cowok, yang punya suatu kepentingan, yang sudah semester akhir.. mana inisiatifnya? Astaghfirullah,, malah si ibu yang datang merengek2.. apa ga kasian sama si ibu? bener2 ga ngerti. Ini khan kepentingannya dia, kenapa jadi si ibu yang repot? Kalo tanggungjawab sekecil ini aja si anak udah ga bisa menyelesaikan, gimana kalo dikasih tanggung jawab yang lebih besar?
  3. Kalo melihat runtutan histori nya, kayanya kelalaian itu ada pada si anak cowok ini, tapi setelah kejadian begini, kenapa dari pihak dia yang menuntut Telkom, untuk membuat surat permohonan, seolah2 Telkom meminta agar anak tersebut bisa PKL di sini. Krik krik banget ndengernya hihihihi..
Kasih sayang seorang ibu memang tidak ada ujungnya, demi sang anak.. apapun bakal dia lakukan. Namun, kurang bijak juga rasanya jika dengan dalih kasih sayang seorang ibu menjadi lupa mengajarkan tanggung jawab pada anaknya. Dengan terlalu lama di "ning nang ning gung" , maka si anak bisa jadi tumbuh menjadi anak yang "aleman", terima beres, terima jadi. Kasihan si anak ini nanti. Apalagi seorang laki2, nantinya menjadi imam.

Begitupun seorang anak, merupakan tanggung jawab orang tua untuk membimbing, mendidik dan menyayangi kita. Tapi, untuk urusan2 yang sekiranya kita bisa atasi sendiri, alangkah lebih baiknya untuk kita berinisiatif untuk mengatasinya.

Kasihan orang tua kita, sudah se-tua itu masih harus direpotkan untuk urusan yang seharusnya menjadi tanggung jawab kita. Jika kita lalai, maka terimalah konsekuensi nya, repot sedikit, toh itu akibat kelalaian kita sendiri bukan?

Semoga saja, dari kisah ini ada hikmah yang bisa aku ambil. Malu rasanya, kalo sudah besar, mengaku mahasiswa, tapi untuk ecek2 begini saja.. masih harus orang tua yang turun tangan. Malu! apa bedanya mahasiswa dengan anak TK kalau begitu?

Belajar bertanggung jawab, belajar untuk menghargai kasih sayang orang tua, belajar untuk tidak merepotkan mereka selalu. Semoga...