Senin, 10 Februari 2014

Suguhan sederhana Vs Gengsi

Aku sementara tinggal di sebuah komplek kontrakan yang terdiri dari beberapa rumah di daerah Ceger, Pondok Aren. Tetangga tetangga ku (dulu sebelum mereka pindah) mayoritas adalah PNS di lingkungan Kemenkeu (lulusan STAN semua nyah). Tapi sekarang, dari 20 rumah, cuma 9 aja yang bekerja di kementerian keuangan (mayoritas dejepeh). Kontrakan ku ini termasuk kontrakan yang murah meriah, dengan lingkungan sekitar yang paling aman, nyaman dan strategis. Latar belakang sosial para penghuni nya juga macem macem. Ada yang berada, ada juga yang biasa. Tapi satu hal yang bikin aku betah berada di kontrakan ini. Karena tetangga tetangganya friendly banget. Antara yang ber"punya" sama yang "biasa" itu ga ada jarak. ga sok pamer dengan apa yang dimilikinya, ataupun minder dengan kondisi kehidupannya. Kita udah kaya saudara, ga ada iri iri an, kalo lagi kumpul kumpul di depan, ngobrol, yang diobrolin masalah global, dan jauh dari gosip! aku suka banget.

Berawal dari suka ngobrol ngobrol santai antar ibu ibu itulah, aku jadi punya ide buat ngadain semacam "majelis taklim" disini, lagian khan para bapak bapak udah lebih dulu punya agenda bareng bareng yaitu badminton-an, jadiii kita para ibu ibu kece ga mau kalah juga dooonk. Alhamdulillah, responnya positif, dan akhirnya bulan Desember lalu dimulai lah acara pengajian nya. Pengajian diadakan dua minggu satu kali, diadakan pada hari minggu jam 4 sore, dan untuk tempatnya, digilir antar rumah, sedangkan untuk yang mengisi kajian adalah ibu T yang juga tinggal disini. Prinsip awal aku mencetuskan ide ini adalah karena ingin agar kumpul dan ngobrol ngobrol nya ibu ibu disini lebih berbobot, menambah ilmu yang nantinya bisa diaplikasikan di kehidupan nyata. Cuma itu aja, jadi waktu ada salah seorang ibu yang minta untuk diadakan arisan sekalian, aku dengan halus menolak. Aku takut, niat kami nanti nya berubah, dari yang awalnya ingin "ngangsu kawruh" jadi "ngarep dapet arisan", waaahh khan parah kalo udah niatnya gitu. Selain itu, aku juga ga menetapkan iuran sekedar untuk mengisi kas. Justru dulu ada usulan kalo untuk konsumsi nya, tiap orang bawa camilan aja saat acara. Jadi khan nanti terkumpul banyak camilan dan bisa dimakan bareng bareng. Selain ga ngerepotin orang yang ketempatan, juga bisa irit -tetep yeee! irit gitu loh -__- -. Tapi untuk usul yang satu ini, ternyata ga jalan. Ibu ibu dateng dengan lenggang kangkung tangan alias ga bawa apa apa hehehehe -yagapapa juga siiieyyy-.

Acara pengajian dimulai, waktu ngaji pertama kali diadain di rumah ibu F, suguhannya wajar dan tetap menyenangkan. Gorengan ditambah dengan irisan buah mangga -ngiler mbayangin mangga yang manis.. yummmmmmyy-. Kita semua hepi ngikutin acara pengajian tersebut. Santai tapi berisi. Kajian kali ini membahas hadist arbain nomer satu yaitu tentang NIAT.  Dua minggu kemudian, kita kumpul lagi di rumah ibu S. Seneng deeh karena personil yang pada dateng tambah banyak, horayyy!! Suguhan kali ini -suguhan terus yang dibahas! yaiyalah judulnya juga tentang suguhan :D - buanyakk banget, diluar ekspektasi ku yang cuma berharap dapet gorengan bakwan nyamnyamm -bakwan is the best gorengan in the world yaa-. Ibu S memberi suguhan brownies, pastel, onde onde, gorengan -teteup ada yeyeye-, ditambah dengan dua mangkuk bakso untuk tiap orang. Aku seneng -yaiyalah secara tinggal makan, enak enak lagi :D makasih ibu S :D - , tapi dibalik hidangan yang menyenangkan tersebut, ada yang hal yang bikin aku mikir. "suguhan seperti ini bahaya kalo dijadikan patokan" -pemikiran yang LEBAI, tapiiii BENAR (menurut gueeh hehe)-. Aku takut kalo ibu ibu berpikiran bahwa ketika nanti mereka ketempatan pengajian, maka suguhannya harus seperti di rumah ibu Situ -perasaan gue aja ga sii (_ _#)-. Waaaaah gawat kalo mereka berpikiran seperti itu. Iya kalo pas mereka lagi ada dana, kalo engga?!? kasian khan?!? bukannya hepi karena mau ketempatan, malah jadi beban. hmmmm... makanya nih, harus segera dilurusin yang beginian. Maka untuk pertemuan berikutnya ketika diadakan di tempatku, aku kembali hanya memberi suguhan gorengan dan air mineral kemasan -bukan A*ua-. Semoga setelah dari tempatku ibu ibu yang belum mendapat giliran ketempatan jadi berpikir "mba Ambar juga cuma ngasih suguhan seadanya, jadi ga perlu muluk muluk yaa nyuguhinnya". Mereka sekarang memiliki pilihan, apakah akan memberikan suguhan yang istimewa atau seadanya saja? itu hak mereka, kami sebagai tamu insyaAllah ikhlas ikhlas saja -yaiyalaaa maaak, kalo protes ya namanyaaaa.... terusin aja sendiri-. Kembali lagi pada tujuan awal diadakan pengajian ini khan adalah untuk ajang silaturahmi dan menambah ilmu. Jadi suguhan itu hanya "penyemarak" aja. Ketika ada Alhamdulillah.. ketika ga ada ya innalillah hehehehe.. Apakah kalo hidangannya istimewa trus ngajinya otomatis langsung pinter? atau kalo hidangannya biasa aja ya jadi mengurangi kemampuan kita menyerap ilmu? ga juga khaaaan? -tapi kalo lagi laper ngaruh juga sie heheee #plakk-.

Memuliakan tamu adalah salah satu ajaran Islam. Rasulullah SAW bersabda Barang siapa beriman kepada Allah dan hari Akhir, hendaknya memuliakan tamunya” HR. al-Bukhâri dan Muslim Imam Ahmad rahimahullah. Namun memberi jamuan istimewa kepada tamu bukanlah satu satu nya cara dalam memuliakan tamu. Islam juga mengajarkan dalam menjamu tamu untuk tidak takalluf -Takalluf artinya pemaksaan diri dan pengusahaan diluar batas kemampuan dirinya atau bahasa gampangnya adalah Mmmmaaakkksaaa :D Imam Al-Hâkim meriwayatkan dari A’masy dari Syaqîq, ia berkata : "Saya dan temanku mendatangi Salmân Radhiyallahu ‘anhu. Kemudian ia menyuguhkan roti dan garam kepada kami seraya berkata : "Seandainya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak melarang kami untuk berbuat takalluf, niscaya saya akan mengusahakannya”Jadi, ibu ibu muliakanlah tamu kita semampu kita bisa. Ga perlu memaksakan diri hanya karena takut ga enak sama orang lain mungkin, karena tetangga nya menghidangkan A,B,C,D sedangkan kita hanya mampu menghidangkan A dan B. Setiap amalan tergantung dari niatannya. Begitupun ketika kita memberi suguhan terhadap tamu. Sekarang tinggal kita periksa kembali apa niatan kita saat memberi suguhan pada tamu kita. Kenapa jadi kaya guwehh yang lagi ngasih tausiyah nih? hahayyy.. semoga manfaat deh yaaa :-*


Minggu, 09 Februari 2014

Muludan di Kantor

Judul postingannya rada-rada gimanaaa gitu ya. Kata "Muludan" biasa dipake sama orang orang di kampungku untuk menyebut peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Dari kata Maulid, kemudian entah bagaimana awalnya bisa menjadi muludan -disesuain lidah kali yeee-. Biasanya dulu waktu kecil, acara maulid Nabi di sekolah ditandai dengan diperintahkannya para siswa untuk memakai pakaian muslim dan membawa TAKIR. Apa lagi itu takir?!?! Takir adalaaaah bekal makanan yang nanti bakal kita makan bersama sama didalam kelas. Biasanya para orang tua bakalan mempersiapkan takir yang Bombastis -menurut mereka sih heheee- supaya anak anaknya bangga nanti ketika membuka telkem -kotak makanan- mereka. Lalu bagaimana dengan saya?? takir yang paling saya favoritkan adalah nasi, ind*mie goreng dan telor ceplok. Hahayyyy serasa menu ini adalah menu paling jossss di dunia.

Pembukanya segitu aje yee, sekarang aku mau cerita tentang pengalaman peringatan maulid Nabi Muhammad SAW pertama kali di kantor pusat DJKN ini. Acara diadakan di aula Lt.5 KPDJKN. Dimulai dengan sholat Ashar berjamaah kemudian dilanjut dengan tausiyah dari Ustaaaaaadzzz -mikir lama! lupa nama ustadz nya!?!?!- ah bukan hal yang terpenting mengingat nama ustadz nya, yang penting adalah snack nya -upsss!! ngaswurr- maksutnya yang penting adalah kita ingat dengan nasihat yang disampaikan oleh beliau. Gitu maksutnyaaa (_ _#).

Peringatan maulid Nabi Muhammad SAW kali mengambil tema Keteladanan Rasulullah Saw Mantapkan Nilai Nilai Kemenkeu Guna Mendukung Transformasi Kelembagaan Djkn. Aku suka dengan tema ini, apalagi awal kalimatnya "Keteladanan Rasulullah SAW". Memang benar, bahwa di dalam diri Rasulullah SAW telah terdapat contoh yang baik. Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu uswatun hasanah (suri teladan yang baik) bagimu” (QS. Al-Ahzaab: 21). Hendak menjadi apapun kita, apapun peran kita, maka sudah sepatutnya Baginda Nabi Muhammad SAW menjadi suri tauladan bagi kita. Tidak terkecuali dalam hal pekerjaan. Beliau mencontohkan bagaimana menjadi seorang kepala pemerintahan, kepala negara, pemimpin perang dll. Kata Pak Ustadz, Rasulullah saat menjadi kepala negara sekaligus kepala pemerintahan itu, yang Beliau bangun adalah LEMBAGA. Maksutnya apa?! maksutnya, yang diperkuat oleh Rasulullah SAW adalah orang orang yang berada disekitarnya, yang membantu beliau dalam pengurusan negara. Dan.. Beliau tidak sembarangan dalam memilih orang. Untuk masalah kewirausahaan dan ekonomi, beliau memiliki Abu Bakar Ash Shidiq seorang wirausahawan yang dermawan. Ia pun memiliki Abdurrahman bin Auf yang juga pandai dalam berdagang. Untuk masalah strategi perang, ia memiliki Umar bin Khattab. Sehingga tidak semua urusan dikerjakan oleh beliau sendiri. Tujuannya adalah jika beliau wafat kelak, maka negara akan tetap prima, karena beliau telah mempersiapkan kader kader yang mampu meneruskan kepengurusan negara. “Rasulullah SAW dalam membangun negaranya tidak sendirian, Beliau membangun bersama jamaah dan diantara jamaah itu ada orang yang kuat-kuat (ahli-red) ” begitu yang disampaikan oleh Pak Ustadz -yang masih belum inget siapa namanya -___- -
Gambar ambil di web DJKN

Sama halnya dengan kita, ketika kita bekerja, menjadi seorang pemimpin kelak, maka bangunlah lembaga, dengan memilih orang orang yang ahli dalam bidangnya -ga asal comot- dan bersinergi untuk kemajuan bersama -haseeeeek bahasanya-. Pada akhir tausiyahnya, Pak Ustadz menyampaikan bahwa “Keberkahan itu adalah ketika kinerja kita secara kelembagaan bukan individualis, karena kesolehan seseorang, meskipun dia adalah seorang pemimpin, tidak akan memproduksi kebaikan jika tidak dilakukan secara kelembagaan,”.

Itulah sekelumit cerita tentang peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di KPDJKN tahun ini, mudah mudahan kelak ketika aku, kita, menjadi pemimpin dapat mencontoh kepemimpinan Baginda Nabi Muhammad SAW. Aamiin :)
Gambar diambil dari web DJKN juga :D


Noted : aku dah tauuuu nama Pak Ustadz nya. Namanya Ustadz Ahzami Samiun Jazuli. Makasih ya pak untuk tausiyahnya :D

Senin, 03 Februari 2014

Postingan ini awalnya ga pake judul, karena memang aku sendiri ga ngerti mau dikasih judul apa yang pas buat postingan kali ini. Aku mau cerita aja, perasaan yang duluuu aku pernah rasain, dan ternyata ga cuma aku yang ngerasain, salah satu saudara baru ku disini juga merasa yang sama. Sebut saja namanya mba Ifa -loh?!?!?! emang itu namanya heheeee-

Ini adalah perasaan yang sempat dialami oleh para istri yang jetleg -tau deh bener ga' tulisannya.-. Maksutnya tuh ngerasa kaget, karena perbedaan aktivitas sebelum dan sesudah menikah. Aku dan mba Ifa -dan mungkin masih banyak para istri istri lain- awalnya bekerja. Aku di Telkom sedangkan mba Ifa ngajar di salah satu SMP negeri di Purbalingga. Setelah menikah, kami yang sama sama dari Golden water city hijrah mengikuti suami yang -sama sama- bekerja di Jakarta dan -sama sama- bekerja di Dirjen Pajak, dan sekarang -sama sama- dapet D4 serta -sama sama- berada di kelas 8A -jodoh bangetttt kali ya suami kita mba (_ _#) - back to the topic yeyy! jadi setelah menikah profesi kita berganti 180 derajat menjadi fulltime housewife -uwoooww ini cita cita guweh banget waktu masih kerja dulu-. Tapi ternyata dibalik keinginan kuat menjadi fulltime housewife, ada satu hal yang kami berdua merasa kehilangan. Apa itu?! entar dulu ah,, pasang foto dulu heheee..
mba ifa udah hamil, aku belum, semoga sebentar lagi. Aamiin ;)
Jadi, waktu kerja dulu khan kami berpenghasilan sendiri, mau beli apa apa, atau mau kasih apa pada siapa itu tanpa pikir panjang, langsung aja beli atau langsung aja kasih. Tapi setelah ga kerja dan "dipasrahi" tanggungjawab atas penghasilan suami, sudah ga bisa sebebas dulu lagi kalo mau beli hal hal keinginan pribadi. Bukan karena suami kita ga ridlo atau ga kasih uang untuk membeli apa yang kita inginkan, tapi ada rasa "malu" kalo semena mena dalam berbelanja. Ya kalo belanja nya kepentingan bersama, nahhh kalo belanja nya kepentingan pribadi yang cuma sekedar "keinginan" bukan "kebutuhan"?!? hedddeeeehhh maluuu doooonk, ga amanah! itu menurut aku, dan ternyata mba Ifa juga merasa hal yang sama! -yeeee kita samaaa, Toss dulu dahh-. 

Maka dari itu, aku berniat untuk bisa memiliki penghasilan sendiri, jadi kalo mau foya foya atau ngeluarin duit buat hal hal yang rada ga penting :P itu ga merasa berdosa. Dan Alhamdulillah, Alloh mudahkan niat aku, aku diberi kesempatan olehNya untuk ngajar di salah satu bimbingan belajar di Bintaro. Jam kerjanya enak, cuma dari jam 2 siang sampai sebelum maghrib, atau kalo sesi nya padat ya sampai setengah 8 malam lah. Penghasilannya?!? lumayyaaannnnn banggettttt hehehehe. Mba Ifa yang pada saat itu sudah hamil memang belum bisa mencari kegiatan lagi, walau aku tau dia juga udah pengen kerja. Tapi sekarang dia dah memulai bisnis jualan pakaian bayi nya, sambil ngurusin si kecil cacacaca yang lucuuuu.

Intinya apa sih postingan ini? intinya.. buat aku pribadi, aku berusaha untuk bisa bijak dalam mengatur keuangan negara keluarga maksutnya. Penghasilan yang suami pasrahkan pada istri itu bentuk amanah, jadi jangan dipakai semena mena. Bijak dalam berbelanja! Nah.. masih menurutku nih ya,, ada baiknya kalo istri punya penghasilan sendiri lhoo, tanya kenapa?! karena kalo mau foya foya jadi ga ngerasa bersalah hahahaha -alasan yang g masuk akal!!!- maksutnya, ya lebih merasa mandiri aja kalo kita punya penghasilan sendiri, tidak selalu tergantung pada penghasilan suami. Caranya supaya punya penghasilan gimana? ya kerja laaaah!! Alloh tuh dah kasih kita potensi, ya dimanfaatkan. Kerja ga harus dikantoran kok, bisa ngajar, wirausaha, dll. Yang penting manfaat dan yang pasti suami Ridlo. Itu penting! ;)

Ending buat tulisan ini apa ya.. mmm ya!! kesimpulan!! apa kesimpulannya? silahkan simpulkan sendiri, dan kesimpulan yang paling bagus dan mengena akan dijadikan judul atas postingan ini. Hahahahahaha

When my dreams come true #sesi 2

"Setelah menikah, aku mau langsung ikut suami. Aku mau resign dari kerjaan ku, dan nyusul dia ke Jakarta". Ya, dari awal menikah aku memang sudah meniatkan diri untuk pindah dan hidup bersama suami di Jakarta. Konsekuensinya adalah aku harus rela melepaskan pekerjaan ku saat ini. Mungkin jika diliat dari status ku yang masih berstatus "pegawai kontrak" di salah satu BUMN terkemuka, bukanlah hal berat untuk melepaskannya. Hal yang justru membuat berat meninggalkan pekerjaan ini adalah karena memang aku mencintai pekerjaan ini. I Love my job! selain itu, rekan kerja yang sudah aku anggap seperti keluarga ku sendiri juga menjadi salah satu alasan lain yang membuat ku berat untuk keluar atau resign.

Banyak yang menyayangkan keputusanku untuk resign, bahkan atasan langsung ku sendiri pun bilang "apa ga bisa mba, mas nya aja yang pindah kesini?", hhhhh seandainya pak.. seandainya bisa seperti itu mungkin aku merasa menjadi orang yang paling bahagia -saat itu-. Gimana engga?! Udah kerja di kota kelahiran yang nyaman, kantor yang enak, dengan suasana kerja enak, orang orang yang baik, ditambah suami yang juga bekerja satu kota dengan ku. Lengkap khan?!? aahhh memang yaa, kata kata "seandainya" itu bisa melenakan kita. Makanya hati hati kalo menggunakan kata itu, karena condong pada hayalan belaka.

Awalnya, keluarga ku pun berharap agar setelah menikah aku bisa tetap tinggal di Purwokerto, dan tidak resign dari pekerjaan ku sekarang. Kata mereka "opo ga eman eman mba? golek kerjo sing penak saiki angel lho" -Apa ga sayang mba? cari pekerjaan yang enak sekarang susah lho- begitulah kira kira artinya. Tapi Alhamdulillah, dengan hanya diberi sedikit pengertian, ibu ku paham dengan putusan ku "InsyaAlloh rejeki ga bakal ketuker bu. Wong ambar niat nikah ki ben bisa bareng bareng mbek bojo, nek pisahan yo podo wae koyo g duwe bojo" -InsyaAlloh rejeki ga akan ketuker bu. Niat ambar menikah itu memang untuk bisa bareng bareng sama suami, jadi kalo pisahan ya sama aja kaya ga punya suami donk".

Dan ternyata benar, setelah satu setengah tahun menikah, aku kini mendapat pekerjaan yang semoga lebih baik dari pekerjaan ku yang dulu. Lebih berkah dan lebih manfaat. insyaAlloh.. terimakasih ya Rabb..

Enjoy the traffic

Hidup di kota besar seperti Jakarta ini memang butuh effort yang cukup lumayan. Segalanya ga bisa diprediksi. Salah satu nya arus lalu lintas. Seperti yang sering aku alami.

Pernah suatu senin,kami prediksi bakal macet, dan mental kami sudah kami seting ke "TL 1" -istilah terlambat 30 menit pada instansi kami-. Tapi ternyata, diluar dugaan,, kami sampai di kantor pukul 7:10. Wawww..

Ga berhenti sampai disitu, ketika jam pulang kantor tiba, kami pun kembali mensetting diri ini untuk sampai tujuan terlambat,yaaah jam 7 malam kami prediksikan. Namun lagi lagi itu lah jakarta, tanpa disangka sebelum maghrib pun kami sudah sampai. Waah Subhanalloh.. Alhamdulillah.

Keesokan harinya, kami berharap keberuntungan kami kemarin masih berlanjut sampai esok hari esok dan keesokan hari. Namun apa daya, dengan waktu pemberangkatan yang sama, sampai ditempat tujuan tidak sama. Bisa molor sampai 1 jam. Keren!! Benar benar luar biasa traffic disini,mungkin hampir sama dengan hati wanita yang sulit diprediksi -haisyahhhh ;)-
make jalur transjak, tetep aje macet hehee...

When my dreams come true,,

Kenapa postingan kali ini kok judulnya sama persis dengan judul blog ku?! ya karena emang mau memposting salah satu hal yang mungkiiiin jadi impian ku dalam hidup. Dulu, aku pernah bermimpi untuk bisa mendapat gelar sarjana, yang mungkin bagi sebagian orang itu adalah hal yang sangat mudah untuk didapat. Tapi buat ku?! itu semua butuh perjuangan. Dan benar saja, yang namanya berjuang memang tidak mudah. Jalanku untuk bisa kuliah, untuk menjadi seorang sarjana mungkin tidak semulus paha cher**be*** -Upssss- maksutnya tidak semulus jalan orang lain gitu. Namun Alhamdulillah.. atas kemurahan Alloh, atas Rahmat dari-Nya, 20 September 2011, aku bisa mengenakan toga, mendapat ijazah S-1 dan dibelakang namaku tertera gelar SE alias Sarjana Ekonomi. Bukan gelar yang aku jadikan cita cita, tapi kesempatan menimba ilmu di perguruan tinggi lah yang menjadi motivasi besar ku. Alhamdulillah ya Alloh.. Engkau memang Maha Pengasih, Maha Penyayang.
Tampilan eike cint waktu wisuda dulu :P

Memang benar, yang namanya mewujudkan mimpi itu butuh perjuangan. Begitupun dengan segala mimpi - mimpi kecil nan berharga ku. Setalah satu impian terwujud, timbul satu impian lagi yang ingin SEGERA diwujudkan -dasar manusia, g ada berentinya -___- -. Impian itu apa lagi kalau bukan MENIKAH, ya! menikah, aku juga ingin SEGERA -lagi lagi dengan kata segera yang aku capslock-. Ternyata, dibalik keter-segera segera-an ku itu, justru aku merasa semakin di-nanti nanti-kan olehNya. Bukan karena Ia tidak sayang atau Ia tega pada hambaNya. Namun karena memang ternyata, belum saatnya untuk aku bisa mewujudkan impian ku untuk menikah itu. 
Januari 2012, ketika aku mulai woles dengan keinginan menikahku, ketika aku mulai pasrah pada kehendakNya, ketika Ridlo-Nya menjadi satu satu nya hal yang aku cari dalam hidup ini, saat itulah Ia bukakan jalan. AllohuAkbar!! tanpa dinyana, aku dipertemukan dengan seseorang yang menjadi suami ku kini. Orang yang namanya pun tidak pernah sekalipun terbersit dalam hati -cailaaaaah- namun justru dialah yang mampu memenangkan diri ini -ahihihihi-. Ga perlu waktu lama, cukup 3 bulan saja masa perkenalan kami, dan akhirnya hari bahagia itu pun tiba. 22 Juni 2012 -pas banget sama ultah nya ondel ondel yee hehee-.
ini diaaa tampilan waktu walimahan nya :D -gendutnya sayah :'( -

dan ini tampilan waktu akad, heheee cengiiiir
Alhamdulillah.. sekali lagi, mungkin jalan ku untuk menikah, tidak semulus pahaaa jalan menikah orang lain. Tapi apapun jalannya, yang penting ridho, rahmat dan keberkahan dari Alloh selalu aku harapkan tercurah untuk pernikahanku.
Lalu... di tahun 2014 ini?! apalagi impian ku yang terwujud?! punya momongan kah? atauuu yang lain? next posting yaaaa temaaaaan :D

Mukadimah

Haduuuhhh malunya diri ini, sudah sekian puluh tahun g nulis ( curhat ) lagi disini. Kemarin kemarin sempet nulis mau curhat tentang pengalaman - pengalaman touring bareng sama suami, tapiiii.. niat tinggalah niat, kenyataannya satu tulisan pun g muncul.

Sampai dengan detik ini, akhirnya bertelor juga deeeh ini blog. Tau ga kenapa sampai aku bisa nulis lagi?! mmmmm bukan karena ada hal yang penting atau amazing atau exciting atau spektakuler yang aku hadapi, justru karena ga punya kerjaan itulah akhirnya ketak ketik disini deh.

Jadi ceritanya,, saya sekarang sudah jadi wanita "pembawa" sodara sodara. Jadi sambil mengisi waktu yang cukup luaaaaaaaaaaaang di kantor, marilah kita mulai mengetak ngetik sesuatu yang sangat amat biasaaaa! dengan metode yang sangat amaaaat,, standaar -ala The Comment-