Selasa, 18 Maret 2014

Pandai syukur


Ada dua cara untuk bisa berlatih menjadi seorang yang pandai bersyukur, yaitu :
  1. Dengan melihat mereka - mereka yang ada dibawah kita. Mereka - mereka yang jauh lebih tidak beruntung dari diri kita. Mereka - mereka yang berharap untuk bisa ada diposisi kita. Melihat mereka, masih tegakah kita untuk tidak bersyukur?
  2. Dengan membayangkan segala nikmat yang kita punya tiba - tiba hilang, lenyap seketika. Kesehatan, kehidupan, kedamaian, iman, islam, hidayah, keluarga, sahabat, pekerjaan.. semua yang kita miliki, segala kemudahan yang kita punyai, segala apa yang telah Allah beri, tiba-tiba hilang. Sudah siapkah ketika kita kehilangan segala nikmat yang tak terkira itu?!?

Jangan sampai waktu kita terhabiskan hanya oleh angan - angan berlebih yang belum kita dapatkan. Nikmati dan syukuri apa yang kita miliki. Karena pada dasarnya tidaklah perlu takut ketika kita tidak punya apa-apa, tapi takutlah ketika kita tidak mampu mensyukuri nikmat yang kita miliki. Semoga...

Jumat, 14 Maret 2014

Si selfie


Dia bukan seseorang, 
Dia juga bukan sesuatu. 
Dia hanya sebuah istilah,,
Istilah yang belakangan sangat ramai digunakan oleh orang orang, mungkin termasuk kalian dan juga oleh diriku sendiri. Yaph! Selfie! Istilah yang sangat familiar. Selfie adalah singkatan dari "Self Potrait"
yang artinya foto hasil memotret diri sendiri , biasanya dengan smartphone atau webcam, lalu diupload ke social media. -http://kamusslang.com/m?do=Search&submit=Cari&what=selfie-


Lalu, apakah ada yang salah dengan selfie? Ohh aku disini bukan mau ngomongin tentang itu, aku mau ngomongin hal yang ada kaitannya dengan selfie tapi untuk lain kasus. Kalo mau mencoba memperhatikan, sadar atau g ketika kita melihat foto dimana disitu ada diri kita sendiri bersama orang lain, maka yang akan kita cari pertama adalah muka kita, ya ga?!? Lalu kemudian, bagus atau jeleknya ukuran foto tersebut adalah dinilai berdasarkan diri kita. Kalo kita difoto itu bagus, pasti kita bilang "iiii fotonya baguuuus" padahal difoto itu juga terlihat orang lain dengan pose yang kurang pas. Teteeeep aja kita bilang bagus. Hahaaa.. Begitu pun juga berlaku sebaliknya. Ya gaaaa?!? Mungkin darisinilah cikal bakal selfie itu muncul ;).

Okeyy sekarang kita bahas hal yang sedari awal emang udah pengen aku bahas, yaitu tentang sisi lain selfie. Aku rasa aku adalah orang yang punya rasa selfie tinggi. Eittssss tapi bukan dalam hal foto, kalo foto aku lebih suka bareng-bareng, biar apa?! Biar g jadi pusat perhatian aja siii -hoekkkkk,booooooong!!!-. Yaphh.. ke-selfi-an ku itu biasanya terlihat saat sedang bersama orang lain, janjian untuk pergi ke suatu tempat bersama, aku g begitu doyan buat samper-samper an, aku lebih milih buat langsung ketemuan di TKP. Karena pada dasarnya, aku ga suka nunggu dan g suka ditungguin juga. Fair khan? ;). Apa yahh.. rasanya kalo samper-samper an, atau tunggu-tunggu an tuh ribet, tergantung sama orang lain, ga bebas! Selain itu, aku juga lebih suka pergi sendiri -keculi sama suami-, karena apa? Karena aku bisa mengatur waktu ku sendiri, kapan aku pergi, kapan aku pulang, mau kemana aku pergi, daaaan sekali lagi ini tidak berlaku untuk suami ku loh yaaaa. Karena seenak-enaknya pergi sendiri, akan jauuuuuuuuuuuuh lebih enak kalo pergi sama suami hahaaaa..

Ya! Saya tahu! Kalo terkadang bagi sebagian orang -apalagi bagi mereka yang tinggi jiwa kebersamaannya- sifat selfie ku ini cukup menyebalkan. Tapi ya selama itu semua bikin aku nyaman dan yang terpenting tidak merugikan orang lain, ya aku cuek aja hehehee. Intinya kita fair play saja lah ya.. kamu bisa menjalankan prinsip mu yang buat kamu nyaman, aku pun demikian. Yang terpenting adalah prinsip kita itu tidak merugikan orang lain, dan yang g kalah penting lagi kita harus mau juga menanggung konsekuensi atas prinsip kita. Ahhh superrr sekali pembahasan selfie kali ini.. hahaaa. Jadi bagaimana? Apakah anda selfie? Kalo saya bukan! Saya AMBAR! Wkwkwkwkwk

Selasa, 11 Maret 2014

INI IKU AKU ^__^


Ini adalah postingan kedua ku hari ini. Awalnya aku cuma minum dari mug yang fotonya aku pajang disamping, terus si kriwulia alias aulia si adik kecil temen se-angkatan ku ini yang nyeletuk "waaaah kamu menghayati sekali mba itu gelas nya". Aku penasaran terus aku liat aja deh gelas nya, ternyata tulisannya adalah "Indikator Kinerja Utama".

Dulu aku udah pernah cerita kalo sekarang aku lagi magang di Bagian OKI Setjen DJKN. Nah, salah satu sub bagian di OKI adalah sub bagian Organisasi dan Perencanaan Kinerja atau sering disingkat OPK. Dimana salah satu urjab -uraian jabatan- nya adalah menetapkan perencanaan kinerja yang dituangkan dalam bentuk Kontrak Kinerja. Jadi, seluruh pegawai mulai dari eselon I sampai dengan eselon V, masing masing memiliki Kontrak Kinerja nya selama satu tahun. Dalam Kontrak Kinerja itu terdapat sasaran - sasaran strategis apa saja yang harus dicapai dan juga Indikator Kinerja Utama (IKU) yang nantinya digunakan untuk penilaian kinerja. Duh,, panjang bener ini penjelasannya ya.. ya ga perlu dihapal sie, ini cuma intermezo aja heheee.

Kenapa aku tulis postingan ini dengan judul INI IKU AKU?! karena, seperti para pegawai yang memiliki IKU juga sehingga mereka bisa mengerti secara jelas apa yang akan mereka lakukan dan apa yang akan mereka capai dalam satu tahun ini. Mereka juga tahu bagaimana dasar penilaian atas kinerja mereka dengan menggunakan IKU ini. 

Begitupun dengan hidup. Sepertinya, dalam hidup kita juga mesti punya yang namanya IKU, sehingga kita bisa tahu secara jelas apa tujuan hidup kita, apa saja yang akan kita capai dan nantinya kitapun bisa melakukan penilaian terhadap pencapaian hidup kita sendiri. Apakah kita sukses mencapai segala IKU kita tadi, ataaauuu justru penilaian kita minus?! Hm... bukankah itu semua bisa dijadikan bahan untuk evaluasi? apakah target kita terlalu rendah sehingga tanpa effort lebih bisa kita capai, atau sebaliknya, target kita ga masuk akal jadi sulit untuk dicapai. 
Yaphh,, apa IKU aku?!  mungkin mulai malam ini, aku akan merumuskannya, eitsss ga malam ini denk, mungkin malam malam besok waktu suami sudah ga sibuk lagi dengan papper nya hehehe.. ;)

No Excuse!

Belakangan aku seperti tersadar lagi bahwa dalam hidupku sudah terlalu banyak "ke-maklum-an" yang ternyata membuat aku menjadi orang yang kurang disiplin. Lebih tepatnya di tahun 2014 ini, dimana aktivitasku berubah drastis dan memaksaku untuk bisa menjadi orang yang pintar "mengutak atik" waktu. Saat ini hampir setengah hari ku, aku habiskan di luar rumah, mulai hari senin sampai dengan jum'at. Terdengar memelas kah? bisa jadi iya untuk sebagian orang, dan tidak untuk sebagian lainnya. Kalo menurut ku sendiri? BIASA AJA sih hehee.. toh, suami ridlo, toh yang aku lakukan insyaAllah manfaat hehee. 

Udah ya kita kembali ke topik tentang "maklum" atau "excuse" itu tadi. Kalian pernah ngerasain ga disaat kalian memiliki suatu kewajiban tertentu, tapi saat itu juga kondisi malas berkedok capek lah, lelah lah, ingin santai sejenak lah datang menghampiri. Daaaaan yang menjadikan lebih parahnya adalah lingkungan yang mendukung segala alasan kalian itu tadi dengan mengatasnamakan "maklum". Nahhh itu diaa.. itu dia yang aku alami. Kadang, sesampainya dirumah, setelah selesai menyiapkan makan malam untuk suami dan kita makan bersama, dalam lubuk hati terdalam -ihhhikkk- sudah ingiiiiiiiiin sekali menggabrukkan diri di kasur. Santai - santai sambil ngenet dan ngeliatin suami yang lagi pusing - pusing nya ngerjain se-abrek papper. Namun apa daya, didapur se-abrek cucian piring, plus sayuran yang belum dipotong - potong untuk masak besok pagi sekaligus setrikaan yang udah menggunung ituh menghancurkan segala keinginan bersantai ku. Dalam kondisi seperti inilah, ke-profesional-an ku sebagai seorang istri diuji, apakah aku akan segera beranjak dari kasur dan merubah diri menjadi laba - laba yang punya tangan banyak untuk menyelesaikan seluruh pekerjaan itu, ataaaaaaaaaaaaau tetap stay dan berleha - leha cantik di kasur?!? 

Hmmmm seharusnya,, sekali lagi SEHARUSnya, aku pilih opsi pertama! iya sie kadang aku berhasil menyingkirkan setan malas yang ada dalam diriku ini dan memilih opsi pertama. Tapiiii.. ga jarang alias sering, aku malah ambil opsi kedua T___T. Hanya cukup bilang "Ambar capek yang,, tapi belum ngerjain blablablablablablablaaa..", pasti suami ku langsung bilang "yaudah besok ga usah masak aja gapapa.." waaaahh satu sisi, kata - kata suami ku itu bagaikan oase di gurun pasir buat ku, sejuuuk, segerrrr hahaaa, tapi disisi lain kata - kata itu juga yang membuat aku menjadi orang yang mudah meminta ke-maklum-an dari suami ku. Jadi salah siapa?! ya salah diri ku sendiri lah, aku yang kurang bertanggung jawab, aku yang kurang profesional, aku yang banyak alasan, aku yang terlalu banyak excuse! T__________T -maafkan istrimu ya suami ku sayang-

Yahhh.. semoga setelah ini, setelah aku menyadari hal ini, aku bisa menjadi orang yang lebih bertanggung jawab lagi pada peran - peran ku, bisa menjadi orang yang mampu mengalahkan rasa malasku, bisa menjadi orang yang lebih disiplin. jadi saatnya bilang SAY NO TO EXCUSE!!!




Senin, 03 Maret 2014

Pergi untuk tugas, pulang demi cinta

"Pergi untuk tugas, Pulang demi cinta"


Pertama kali baca jargon seperti ini adalah ketika perjalanan dinas ke Jogja saat aku masih bekerja di Comdev Telkom Purwokerto. Tulisan itu ada disebuah truk pengangkut pasir yang aku temui disekitar daerah kebumen. Waktu itu aku anggap lucu jargon tersebut. "pinter juga nih yang bikin jargon" batinku. Ga ada yang istimewa awalnya jargon ini, sampai kemarin sore waktu aku pulang kantor, aku baru merasa bahwa jargon tersebut punya arti tersendiri.

Pergi untuk tugas, Pulang demi cinta. Ya! buat aku jargon ini sekarang punya arti yang bisa aku jadikan motivasi. Ketika saat ini aku sudah memiliki tanggung jawab atas sebuah profesi sebagai seorang abdi negara -katanya- yang bekerja disebuah kota dimana kemampuan mengatur waktu dituntut, maka "Pergi untuk tugas" adalah kata - kata yang passs lagi cocok untuk membangkitkan semangat ditengah "godaan" untuk tetap stay berada dirumah bersama suami. Aku harus meyakini bahwa kepergian ku pagi ini menuju kantor adalah demi sebuah tugas, tugas sebagai manusia untuk beribadah kepada Tuhan nya dengan cara bekerja. Tugas sebagai seorang abdi negara yang diberi amanah untuk mengurus kekayaan negara. Maka, ketika rasa malas kembali muncul, ketika "godaan" untuk tidak bersemangat datang menghampiri, aku harus meyakinkan diri bahwa niat ku pergi adalah untuk tugas itu tadi.

"Pulang demi cinta",, ah kalau bagian yang ini tidak perlu lah ditanya lagi, sudah jelas ketika jam di kantor menunjukkan jam 5 kurang sedikittttt -agak banyak juga si :P- maka itulah saatnya bersiap untuk pulang kembali ke rumah. Satu hal yang selalu aku harapkan saat pulang kerja adalah, TRAFFIC yang BERSAHABAT! sehingga dengan lebih cepat aku bisa kembali ke rumah, bertemu dengan suami tercinta. 

Maka... jargon "Pergi untuk tugas, pulang demi cinta", jika aku maknai lagi lebih dalam, maka jargon ini dapat menjadi pembangkit semangatku, bahwa apa yang aku kerjakan tidak lah sia - sia. Sekecil apapun itu, aku berharap dapat menimbulkan efek positif yang besar bagi hidupku, bagi instisusi dimana aku bekerja, bagi keluarga kecil ku yang amat aku cintai. Semoga...

Selasa, 25 Februari 2014

First day in my OJT's journey

Mohon maaf sebelumnya buat para pembaca-er blog saya ini kalo kalo alur cerita yang saya posting di blog ini ga jelas, apakah alur maju, alur mundur, atau alur campuran. Mungkin lebih tepatnya adalah alur setrikaan alias maju mundur wkwkwkwk -Betewe maaph2 lagi ini kok saya kePDan banget yaaa minta maaph ke para pembaca, emangnye ade yg mbaca hah?!? hmmphh ya maaphkan saya lagi atas ke-Over PD-an nya saya hiksss-.

Langsung aja ke cerita ya! Hari itu, Jum'at 10 Januari 2014. Hari dimana aku dan teman teman seperjuangan CPNS'er Kemenkeu dijadwalkan untuk melakukan pelaporan ke unit eselon I nya masing - masing. Aku ga tau yang dimaksut "lapor unit" tuh kaya apa. Pikir ku ya cuma dateng, menghadap ke Kepegawaian, bilang kalo saya sudah hadir dan siap OJT, lalu pulang. Tapi ternyata diluar dugaan. Kami -para DJKN'er- langsung mendapat arahan dari Pak SesDitjen dilanjut dengan pembagian tempat OJT dan langsung ngendon di ruangan kita masing-masing. Uwaaaaww! dan waktu itu juga langsung dapet kabar kalo hari senin tgl 13 Januari kami sudah mulai efektif bekerja-OJT maksutnya-. Aku langsung mbayangin gimana riweuh nya temen-temen yang berasal dari luar Jakarta, luar pulau Jawa pula. Mereka harus mencari tempat kos dalam waktu singkat. Aku sendiri sebetulnya juga belum siap untuk langsung OJT di hari Jum'at itu. Memang kondisi badan saat itu lagi ga' iye! sakit kepala ku kambuh, gara-gara keujanan waktu pemberkasan fisik kemarin, ditambah lagi telat makan siang, sampe rumah ngantuk jadi cuma ngeringin badan -tanpa mandi- langsung tidur. Otomatis dihari berikutnya aku langsung teparrr.. ga bisa gerak karena kepala rasanya sakittttt banget kalo gerak dikit aja. Tapi Alhamdulillah, Allah beri kemudahan dihari pelaporan itu, sakit kepala ku sudah sedikit reda. Bisa buat nengok, bisa diajak jalan, bisa naik lift! Alhamdulillah.

Oiya, aku ditempatkan di sebuah bagian di bawah Sekretariat Direktorat Jenderal (SesDitJen) yaitu di bagian OKI (Organisasi dan Kepatuhan Internal). Waktu aku tahu ditempatkan dibagian itu, aku merasa bersyukur dan yakin bahwa tempat ini adalah yang paling baik buat ku menurut Allah. Dan ternyata memang benar, terlepas dari kekurangan - kekurangan yang pasti disetiap unit kerja ada, aku merasa tempat ini baik untukku. Aku bisa banyak belajar, mengamati, memahami, tidak hanya seputar ke-organisasian, ke-tata laksana an, atau ke-KI-an saja. Tapi lebih dari itu, aku bisa belajar tentang "budaya kerja". Seperti apa budaya kerja yang ada disini. Aku teringat pesan yang disampaikan oleh Pak Dwi selaku kasubag mutasi bagian Kepegawaian, kata beliau "Kemenkeu memiliki 5 budaya kerja, kalian harus pegang teguh itu. Kalau nanti pada kenyataannya kalian banyak menemui ketidaksesuaian dengan budaya kerja, maka yang harus kalian jadikan patokan adalah budaya kerja, bukan apa yang kalian liat". Wowww sepertinya si Bapak sudah mewanti-wanti kami seandainya kami melihat ketidaksesuaian nih. 

Oke.. dan inilah hari pertama perjalanan OJT ku. Masih dalam masa adaptasi, belajar dan lagi lagi, mengamati. Seperti apa aku seharusnya disini, mengira - ira apa yang nantinya bisa aku kontribusikan Seandainya aku ditempatkan disini. Inilah hari pertama perjalananku di instansi pemerintahan, pengalaman pertama bekerja diluar dunia swasta, banyak yang aku bandingkan antara tempat kerja lama dengan instansi baru ku ini. Aku bandingkan, dan memang berbeda! bukan berarti disana lebih baik daripada disini, atau sebaliknya. Tapi memang karena core bisnis yang berbeda, sehingga membuat perbedaan yang memang tidak bisa dibandingkan. 

Aku berharap, nantinya, aku bisa ditempatkan disini, di kantor pusat, di direktorat atau di bagian apapun, semoga aku bisa menjadi pegawai yang produktif. Sehingga waktu yang aku gunakan bisa manfaat, rejeki yang aku bawa pulang berkah,, aamiin..

Kamis, 20 Februari 2014

antara blogging - bolt - dan tahsin

Artikel ini aku tulis di rumah. Yeahhhh this is the first time i post article at home! wuhuuuu.. Jadi tadi sore sepulang kerja aku diajak suami ke Bintaro Plaza, beli modem "Bolt", kalian pasti udah familiar khan sama modem yang satu ini?? harga nya 300 ribu kurang seribu, suami kayanya emang butuh banget yang namanya modem. Kebutuhan internetnya ga bisa dipenuhi dengan pulsa internet bulanan dari provider SIM Card nya. 

Malam ini suami kedatangan tamu rutinnya seminggu belakangan. Siapakah dia? dia adalah mas Angga, tetangga sebelah rumah. Dia sedang "berguru" ke suami untuk belajar tahsin. Oiya, aku belum cerita yah.. jadi satu bulan terakhir ini di lingkungan kontrakan kami sudah bertambah lagi kegiatannya yaitu belajar tahsin untuk ibu - ibu dan juga bapak - bapak. Hari nya terpisah, kalo yang ibu - ibu yang ngajar juga ibu - ibu -masih calon ibu tepatnya! hehee-, yang bapak - bapak juga yang ngajar ya bapak - bapak. Aaahhh kapan kapan deh aku tulis di postingan terpisah.

Nahhh.. jadi selama suami lagi belajar bareng sama mas Angga, aku cobain aja ini bolt-nya. Beneran cepet apa ga siii.. Oiya, semoga dengan dibeli nya modem ini, dapat menambah keberkahan bagi kami. Semoga modem ini dapat memudahkan suami dalam kami menyelesaikan tugas kuliah misalnya, dapat aku pakai untuk mencari tambahan pengetahuan, ngeliat youtube sepuas nya untuk mencari tambahan ilmu yang mungkin di kantor aku belum bisa dapat, dan lain lain. Yaahhh.. semoga, keberadaan modem ini dapat bermanfaat dan membawa berkah bagi kami. Aamiin..

bukan promosi ;)