Rabu, 16 Juli 2014

masih tentang DeTeU

Cerita ini masih membahas tentang DTU. Sepuluh hari yang kami lewati bersama - sama. Sepuluh hari dimana Allah beri aku kesempatan untuk mengenal teman - teman se-angkatan. Ga nyangka aja aku jadi kenal sama yang namanya Bang Sam, kalo liat dari perawakannya ni, dia cocoknya masuk TNI bukan masuk Kemenkeu hehee.. tinggi besar dan terkesan serem -i'm sorry Bang Sem :D-, tapi siapa sangka dibalik ke"serem"annya itu, ternyata orangnya kocak abis. Dan satu momen yang membekas bareng dia adalah ketika aku menciptakan image "tori -tori" buat dia. O..ooww sekali. Maapin ya Bang, jadi menciptakan image baru deh buat kamu :D.

Lalu cerita tentang teman sekamar aku. Namanya Chairunnisa. Namanya bagus, sebagus dan sebaik orangnya. Awalnya sama seperti Bang Sem, aku ga kenal siapa dia -Pokoknya yang aku kenal cuma anak - anak sekretariat ajah,, yang lain cuma tau nama :D-. Nisa -waktu itu aku masih manggil dia "Nisa"- itu orangnya perhatian banget ke orang lain. Aku suka banget tipe orang kaya dia. Simpel, sederhana, ga banyak omong, ga suka show off, tapi langsung take action. Mantap banget ni orang satu pokoknya. Sabaaaaaar banget ngadepin aku yang waktu itu lagi masa - masa nya emesis. Tiap pagi dia harus ikhlas disuguhi menu lagu "hoek - hoek" ku. Sabar banget  waktu dateng jam makan, ngambilin makanan buat aku, sampe - sampe bikin gosip kalo aku itu harus makan satu meja sama si Cliff biar ga muntah. Oh my God, kalo yang ini lebay banget emang... 

Ni cewek tuh entah apa namanya ya, dia tuh manis cantik, selalu hair dryer-an dan catokan, tapi kalo udah jalan kok ya jadi macho gitu. Bahkan temen - temen cowok bilang kalo si Nisa lebih macho dibandingkan satpam di KNPK hahahaha.. Banyak yang aku pelajari dari dia, sampai saat ini, orangnya tetep baik, tetep care,, tetep simpel. Thank's ya chaaaa -panggilang kesayangan sekarang adalah Icha hahaaa- makasih buat semua yang udah kamu kasih buat aku,, maaph - maaph kalo sering banget ngerepotin kamu kemarin ;)

Masih banyak lagi cerita - cerita lain yang aku alami disini bareng temen - temen, walau ga bisa nyebutin satu - satu nama dan kebaikan mereka, bukan berarti mereka tidak spesial. ke-tujuh puluh satu- teman teman KN'ers semuanya spesial. Mereka tangguh, mereka kompak, mereka ga menye - menye, mereka patut dibanggakan, dan yang jelas mereka ga kalah dengan teman - teman Ditjen lain.

Special thank's pastinya kami para KN'ers tujukan kepada para pelatih dari Yonarhanudse TNI AD, Pak Bayu, Pak Bedrik dan Pak Supri. Berkat didikan dan nasehat yang ga pernah lelah mereka berikan, akhirnya kami yang semula tidak saling mengenal bisa menjadi begitu akrab. Kami jadi mengerti tentang kebersamaan, bahwa apa yang dikerjakan oleh satu orang bisa berdampak pada teman yang lain. Terimakasih banget pokoknya pak sudah mengajarkan kami arti l(r)oyal, mengajarkan kami lagu - lagu penyemangat, ngajarin kami untuk ga elek - elekan dan yang jelas mengajarkan kami gerakan "Sikap pokok" :)


DTU dan Jiwa Korsa nya

Ada banyak cerita yang bisa dibagi disini tentang pengalaman mengikuti DTU dan DTSD. Memang buat aku, diklat ini salah satu hal yang aku tunggu - tunggu saat itu, maklum.. sebagai seorang pegawai baru yang ga ngerti apa - apa tentang DJKN, aku seperti haus, haus akan ilmu akan pengetahuan mengenai institusi yang aku masukin saat ini. DTU dan DTSD ini adalah gerbang ilmu dan pengetahuan itu.

Awal april kami ber-72 mulai mengikuti rangkaian acara diklat ini. Diklat diadakan di Pusdiklat KNPK (Kekayaan Negara dan Perimbangan Keuangan) yang letaknya ada di lingkup kampus STAN Bintaro, itu artinya sangat duekeeeeeet dengan tempat tinggal ku. Akomodasi semua ditanggung penyelenggara, mulai dari asrama, makan, seragam outbond, sampai laundry, semua siap! kecuali satu.. apa itu?!? SPPD!! ya! untuk angkatan kami tidak diberi SPPD. Hahaaa.. tapi ya ga masalah juga, soalnya khan emang bukan itu tujuan kita mengikuti diklat ini, ya khan?! ;). Nahh dengan deketnya jarak antara asrama dengan rumah, aku yang dari awal emang ga bisa jauh dari suami -halahh- udah berniat untuk ga nginep di asrama. Namun apa daya, peraturan tetaplah peraturan. Sepuluh hari pertama, tidak diijinkan kepada para peserta diklat untuk menginap di luar asrama. Otomatis, selama sepuluh hari itu aku ga bisa ketemu-an sama suami hiksss.. Tapi emang masuk di akal si peraturan itu, bayangin aja.. jadwal acara kami adalah dari jam 5 pagi sampai jam 10 malam non stop! Semua terjadwal, semua dengan waktu, semua dengan hitungan. Ya! dalam sepuluh hari pertama kami memang dibina dan ditempa untuk menjadi pegawai sejati -lirik lagu diklat ini mah-.

DTU, diklat yang lebih mengandalkan fisik. Kegiatan 70% di lapangan, dari pagi sampai malam, bisa ditebak sendiri lah bagaimana keadaan wajah kami selepas sepuluh hari tersebut. Yaph!! menghitam eksotis gimanaaaaaaaa gitu. Beruntung, beberapa hari sebelum berangkat diklat, Allah beri aku dan suami anugrah indah berupa janin di dalam kandungan ku. Waktu itu umurnya masih sangat kecil yaitu kisaran 5 minggu. Lagi masa - masa kritis katanya. Nahhh karena keadaan ku yang sedang "tekdung" itu lah maka ada dispensasi khusus buat ku. Aku diberi keringanan dalam kegiatan fisik. Saat teman - teman berdiri, aku boleh duduk, saat teman - teman push up, aku duduk, teman - teman sit up, aku juga duduk -duduk terus deh kayanya (_ _#)- Kata - kata sakti yang selalu keluar dari pelatih adalah "yang sakit dan ibu hamil.. silakan keluar barisan". Sebetulnya ga enak juga sama temen - temen, aku duduk cengo' sendirian dibelakang ngeliatin mereka push up, sit up dll. kasihan.. ga tega.. tapi ternyata itu semua dilakukan bukan karena hukuman atau pelatih mau ngerjain kita, tapi memang kita dididik supaya sehat jasmani, sehat mental juga. Dan yang lebih penting lagi adalah.. selepas DTU kita jadi mengerti yang namanya jiwa korsa, kita mengerti yang namanya kebersamaan, saling mengerti keadaan kawan, ga cuek, ga acuh tak acuh, atau bahasa kerennya adalah kita jadi lebih care dengan sekitar. to be continued..

dari diklat ke diklat

Akhirnya,, setelah beberapa waktu lamanya, bisa posting lagi di tempat curhat-an ini. Memang sejak awal bulan april sampai dengan awal Juli kemarin, aku dan teman - teman disibukkan dengan yang namanya "Pendidikan dan Pelatihan" atau biasa disingkat "Diklat". 

Khusus untuk kami pada DJKN'ers, diklat kami mulai dengan DTU (Diklat Teknis Umum) kira - kira 10 hari-an dan dilatih oleh bapak - bapak dari Tim Yonarhanudse TNI AD. Dilanjutkan dengan DTSD (Diklat Teknis Substantif Dasar) KN II kira - kira jangka waktu nya adalah 3 minggu, dan bisa dibilang setiap hari nya tidak pernah kami lalui tanpa yang namanya ujian. Sepulang dari DTSD, kami dikejutkan dengan pemanggilan diklat prajabatan. Kalo ga salah kami dapet surat di hari Kamis, dan hari Minggu kami sudah harus ada di lokasi untuk mengikuti rangkaian acara diklat yang diadakan selama 24 hari. 

Yaph,, jadii.. fix banget dari mulai usia dedek dalam kandungan ku itu 5 minggu sampai dengan usia nya 20 minggu, si dedek diajakin diklat sama bunda nya. Hmmmmm lahir - lahir sudah jadi PNS golongan III kamu nak hihihihi..

Untuk bagaimana pengalamanku selama diklat - diklat itu berlangsung, baiklaaah.. aku bakalan curhat per-posting untuk per-diklat. Check it out ;)

Selasa, 27 Mei 2014

it's called Hidayah

Sebelumnya aku mau ngucapin "Barakallah" untuk teman se-ruangan ku yang mulai hari senin kemarin menggunakan jilbab. Alhamdulillah,, semoga Allah senantiasa memberi ke-istiqomahan dalam berjilbab, makin berkah hidupnya. Aamiin.

Ngemeng - ngemeng tentang pengalaman pertama kali berjilbab, aku memang selalu penasaran dengan "apa" yang menjadi alasan seseorang untuk ber"hijrah". Kalo temen ku ini, dia memang sudah terbiasa saat pergi bersama mama dan neneknya selalu menggunakan jilbab, tapi memang belum konsisten, sampai dengan hari senin kemarin, akhirnya dia putuskan untuk konsisten dalam berjilbab. Alhamdulillah..

Tiap orang memang memiliki alasan masing - masing dalam berjilbab,, ada yang karena paksaan orang tua, ada yang karena dari sekolah nya yang mewajibkan setiap siswa putri untuk berjilbab, ada juga yang karena "sindiran" dari teman SMP nya hahahahaha. Kali ini ijinkan aku bercerita yaa tentang pengalaman pertama berjilbab ku -ihhikkk-.

Awal pertama mengenakan jilbab adalah ketika aku duduk di kelas 1 SMA semester 2. Itu terjadi kira - kira tahun 2003 yang lalu -ketahuan banget yeeeyyy berapa umur eike sekarang (_ _#)-. Seperti biasa, setiap hari Jum'at disaat para siswa laki - laki melaksanakan sholat Jum'at, maka siswa putri dengan dikoordinir oleh Rohis mengadakan acara keputrian. Semacam holaqoh yang wajib diikuti oleh seluru siswi kelas 1. Saat itu yang bertugas menyajikan materi tausiyah adalah dari kelas 1 NA 2 dan si pemateri membawakan materi dengan judul "Jilbab". Disepanjang acara keputrian itu entah kenapa aku ga bisa berenti nangis ketika temenku itu membawakan materinya. Aku nangis sampai sesenggukan yang aku sendiri ga tau apa sebabnya, yang jelas didalam hati aku merasa bahwa, aku rindu, rinduuuuuuuuuuuuuuuuuuuu sekali untuk bisa mengenakan jilbab. Perasaan aneh yang entah datangnya darimana, seolah - olah ada yang menusukkk tajam di hati setiap kali aku mendengar kata "jilbab". Aku terus menangis tanpa mempedulikan seisi ruangan. Aku sampai tidak tahu, apakah seisi ruangan itu memperhatikan ku atau tidak. Aku merasa sendiri, menikmati tangisan ku, menikmati rasa rindu yang ada dalam hati ku. Apakah itu hidayah? entahlah aku juga ga paham. Percaya atau tidak, aku menangis tersedu padahal aku sendiri ga ngerti apa isi materi yang dibawakan saat itu. Yang jelas, yang aku rasakan adalah "Aku ingin berjilbab. Saat itu juga. Sesegera mungkin. Titik!!".

Sepulang dari acara keputrian, aku curhat pada seorang kakak kelas yang kini sudah kembali menghadap Allah (Semoga Allah mengampuni segala dosanya, menerima segala amal ibadahnya dan ditempatkan di tempat yang terbaik disisi-Nya. Aamiin). Aku cerita bahwa aku ingin berjilbab. Tapi aku ga punya baju seragam, secara saat itu baju seragam ku sudah dibuat lengan pendek semua -lha gimana engga' baru juga satu semester dipake-. Ga ada niat apa - apa, cuma pengen curhat aja saat itu. Keesokan hari nya, aku diajak ke kos-an dia, di kamar nya sudah di jereng dua pasang seragam OSIS, satu seragam pramuka dan satu seragam olahraga. Semua nya adalah seragam lengan panjang. Subhanallah,, Walhamdulillah.. aku ga nyangka, segitu perhatiannya dia sama aku, sampai - sampai dia cari orang yang mau menyumbangkan baju seragamnya buat aku (Terimakasih ya mba,, terimakasih juga yang sudah menyumbangkan seragam nya buat aku). Memang saat itu aku belum bilang sama ortu bahwa aku niat berjilbab, masalahnya aku tau kondisi orang tua ku yang baru aja menghabiskan banyak dana untuk membiayai sekolah ku plus membuatkan seragam buat aku, lahh baru satu semester aku pake masa aku udah minta ganti seragam lagi?!? Tapi Allah menolongku perantaraan kakak kelas ku itu, aku makin yakin dengan istilah "Man Jadda wa jada", aku juga yakin kalau kita bertindak sesuatu ikhlas untuk mendapat ridlo Allah, apalagi ini melaksanakan kewajiban yang jelas - jelas diperintah oleh Allah, pastiiii akan Allah tolong. Dan setelah mendapat seragam itu, barulah aku berani menyampaikan ke ortu tentang niat untuk berjilbab.

Itu adalah sekelumit kisah awal mula aku berjilbab. Dan Alhamdulillah.. sampai dengan detik ini Allah masih menjaga ku, mengistiqomahkan ku untuk tetap berjilbab. InsyaAllah hingga akhir hayat ku. Aamiin.. Mulai saat itu, sedikit demi sedikit aku perbaiki cara ku berjilbab, menyederhanakan dalam berjilbab, menjulurkan sampai menutupi dada, mulai meninggalkan dunia per"celana"an dan lain - lain. Masih dalam tahap belajar memperbaiki diri memang dan semoga Allah beri kemudahan dan keistiqomahan selalu, aamiin. 

Point penting dari semua cerita ini adalah bagaimana hidayah itu datang. Hidayah itu tidak serta merta datang, hidayah itu sama seperti sebuah cita - cita, patut dijemput, patut diusahakan. Allah akan memberi hidayah pada siapa yang Ia kehendaki dan yang menghendaki hidayah tersebut. Jilbab untukku tidak hanya sekedar kewajiban tapi dia sudah menjadi identitas. Identitas seorang Ambar, identitas seorang muslimah. Perbaikan dalam penampilan itu tidak akan ada artinya, tanpa ada perbaikan dari dalam diri orang itu sendiri, maka semoga Allah memudahkan dan membimbing aku -dan kalian- selalu, untuk dapat terus menerus berproses menjadi muslimah yang baik, yang taat. Aamiin ya Allah :)

Senin, 31 Maret 2014

Eksis Abis!

Mulai dari friendster dulu, facebook, twitter, google circle, blogger, wordpress, instagram, sekarang mulai merambah path, terus yang ga disengaja antaralain slideshare, printerest, hi5 dan lain lain. Hadeeeehhhh mungkin anda - anda sekalian bisa searching akun yang bernama Ambar Fitri atau pheezank. Bisa dipastikan akun tersebutn ada disemua sosmed - sosmed itu. Sekali lagi hadeeeeehhh!!! kurang eksis apalagi aku ya Allah, padahal tidak semua sosmed itu aku aktif didalamnya. Ada yang karena iseng bikin, ada yang ga sengaja ke klik, dan ada yang karena ikut - ikutan. Tapi yang membuat aku merasa lebih aneh adalah.. kok ya tetep ada yang ng-Follow ahehehehehe,, padahal bisa jadi aku sendiri udah lupa username dan password sosmed tersebut hihi.

Mungkin ini ga cuma terjadi padaku saja, beberapa atau bahkan mayoritas orang pasti memiliki akun sosmed lebih dari satu, dua, tiga atau bahkan empat akun haha. Terlepas dari semua akun itu aktif atau tidak, keberadaan akun akun sosmed ini mungkin bisa menjadi tanda "aktualisasi diri" seseorang. Sayangnya, mereka yang aktif didunia maya, belum tentu aktif di dunia nyata. Termasuk saya! hahahaha.. apapun itu, hak semua orang untuk eksis di dunia maya, mengaktualisasikan diri mereka dengan cara yang mereka anggap benar. 

Aku jadi berfikir, kenapa disetiap sosmed itu aku bikin tema aja ya, misal nih Path, aku gunakan untuk share picture-picture yang apik - apik, twitter aku pakai untuk men-tweet pokok pokok cerita yang nantinya aku jabarkan di blog. Lalu facebook? hmmmmm.. facebook aku pakai buat men-stalking orang aja kali ya hahahahaha. Ya ya ya.. mungkin harusnya seperti itu. Tiap akun punya ke-khas-an tersendiri. Sehingga tiap orang yang melihat akun kita, bisa menemukan hal yang berbeda - beda ditiap akun sosmed kita. Tapi sekali lagi itu hanya angan - angan saja, toh aku juga kalo lagi pengen aja buka - buka akun akun tersebut. Kalo udah bosen yaaa... paling cuma sign in --> liat liat--> sign out :D. Ga bisa konsisten! Padahal, kalo aku boleh berharap, aku berharap tiap akun yang aku buat, tiap status atau picture yang aku posting bisa bermanfaat untuk orang lain. Bukan sebaliknya, membawa mudhorot -naudzubillahimindzaliiik-. Semoga saja ya teman.. semoga sajaaaaa ;)

Rabu, 26 Maret 2014

Ah!! Saudara ternyata #2

Kira - kira pukul satu siang, kami sampai di gedung SEAMEO Biotrop. Disana sedang berlangsung acara pernikahan sepupu dari suami ku. Di undangan tertulis acara mulai pukul 11 sampai dengan pukul 1 siang. Dan oke! kami sampai di gerbang gedung pukul satu siang kurang sedikit. Itu artinya kami harus merelakan jatah makan siang kami melayang -salah fokus!! ini salah fokus!!-. Beruntung, sampai sana, masih banyak tamu yang berdatangan. Sang pengantin beserta para orang tuanya pun masih lengkap di pelaminan. Kami masuk ke ruang pertemuan, dan dari atas pelaminan, Bude sudah melambai - lambaikan tangannya pada kami. Ahh tamu yang ditunggu - tunggu -batinku kePDan!-.

Belum sempat kami naik ke atas pelaminan, tiba - tiba punggung ku ditepuk dan jeng jeeeeeng "Mba Ambar! ngapain disini?! temennnya penganten?!". Dian,, dia tiba - tiba muncul dengan mimik muka yang penuh dengan tanda tanya, "kok bisa mba Ambar disini?" begitu mungkin pertanyaan dalam hati nya. "Loh,, dian disini juga? itu.. Bude Ani khan sepupu nya ibu mertua ku" terang ku sambil mohon ijin untuk bersalaman dengan mempelai terlebih dahulu.

Selesai bersalaman, menyampaikan salam dan pesan dari ibu mertua, kami berdua langsung menuju ke tempat prasmanan. Jam makan siang ditambah dengan hampir dua jam kami muter muter kota Bogor, membuat perut kami -saya tepatnya- kelaparan. Sedang khusu'nya kami mengambil makanan, Dian dan Eko (suami nya) datang menghampiri kami dan bilang "Mas Robien ya?! aku Eko mas,, keponakanannya Pak de Har (suami nya Bude Ani). Dulu waktu masuk STAN pertama khan aku dianterin mas Robien nyari kos kos-an". Jeng jeeeeeng,, dua orang itu yang sejak di stasiun memperhatikan kami, yang setiap hari nya satu bis jemputan sama aku, ternyata eh ternyata.. Saudara!! MasyaAllah.. kami sampai terheran - heran sendiri. Hampir dua bulan bersama, tapi baru tau kalo ternyata saudara. Sungguh ga disangka..

Ahh.. senangnya, bertambah lagi saudara,, ibarat jodoh, garam di laut, asam di gunung, ketemu nya di belangan. Begitupun saudara, yang satu tinggal dimana, yang lain tinggal dimana.. ketemunya,, di tempat kondangan juga! hahahahaha...

Selasa, 25 Maret 2014

Ah!! Saudara ternyata ;)

Sabtu pagi itu,, di sebuah stasiun kereta di pusat kota, kami berdua (aku dan suami) berlari mengejar kereta yang hampir berangkat. Ya,, kami akan menuju Bogor, dan kereta yang akan membawa kami ke kota tersebut kurang dari tiga menit lagi berangkat. Melihat koridor yang menuju kereta penuh sesak orang - orang yang menuju pintu keluar, kami berdua potong jalur. Kami terobos orang - orang yang terasa amat lambat jalannya, dan sekuat tenaga berlari menuju gerbong paling dekat yang bisa kami jangkau. Lampu kereta sudah menyala merah tanda siap diberangkatkan ketika kurang dari lima langkah jarak antara kami dengan kereta. Petugas keamanan yang ada di gerbong tersebut melambai - lambaikan tangan menandakan agar kami lebih cepat. Dan huppp!! Alhamdulillah, kami mendarat sempurna di gerbong paling awal yang memang disediakan khusus untuk wanita itu tepat saat pintu kereta tertutup untuk berangkat menuju Bogor. Badanku sempoyongan, rasa - rasanya sudah ingin menjatuhkan diri di badan suami ku. Dengan terus menggandeng -lebih tepatnya memapah- badanku yang mulai lemas, suami ku menuntunku ke gerbong umum untuk mencari tempat duduk. Alhamdulillah, kereta saat itu tidak penuh, masih banyak kursi kosong disana, dan kami pun mencari posisi tempat duduk yang paling membuat kami nyaman.Hhhfhhhh... untunglah, sepatu trepes ini memudahkanku, ga kebayang seandainya aku pergi dengan menggunakan high heels. Kereta pun melaju, meninggalkan dua orang di luar sana yang diam - diam memperhatikan kami berdua.

Kurang lebih satu jam, ular besi itu melaju membawa kami ke kota yang dijuluki kota hujan. Sepertinya, kota ini juga bisa dijuluki "kota sejuta angkot". Dimana - mana angkot, dimana - mana ramai para penumpangnya, dan yang mengherankan, walaupun sama - sama kejar setoran, para supir angkot ini tidak saling kebut - kebutan berebut penumpang. Salut!! Aku yang dari semula memang tidak tahu arah, santai saja berjalan disamping suami ku. Berbekal petunjuk dari seorang teman yang memang asli kota ini, kami naik angkot 03 ke arah Baranangsiang. Setengah jam lebih kami berada di angkot tersebut, melalui satu tempat ke tempat lain. Yang menjadi patokan kami adalah "Gramedia atau Pizza Hut". Turun, jika sudah sampai di tempat itu. Tapi sepertinya sampai di akhir perjalanan angkot ini, kami belum menemukan dua tempat yang menjadi patokan kami tersebut. Dan benar saja! Kami Nyasar!! Akhirnya, kami turun di terminal Laladon. Bertanya pada seorang petugas pengatur lalu lintas, dan kembali kami naik angkot 03 jurusan Baranangsiang, yang arahnya berlawanan dengan angkot 03 awal kami naiki tadi, "kembali ke titik nol" saya menyebutnya. Ah.. g masalah buat aku, selama pergi nya sama suami sih, aku enjoy enjoy aja.. ciahhhh!! itung - itung jalan - jalan murah muterin kota ini.

Akhirnya kami sampai di tempat yang kami maksut, Botani Square! yaaa.. di depan Botani Square inilah kami turun -setelah sebelumnya kembali ke stasiun (_ _#)- dan lanjut naik angkot 01 menuju ke gedung SEAMEO Biotrop. Disanalah,, tanpa disengaja, kami bertemu mereka. Dua orang yang memperhatikan kami di stasiun tadi. -to be continued ;)-